Mari Berkarya, Mari Bercerita


Berkarya untuk kehidupan. Bercerita untuk menghidupkan

Kita mungkin pernah berpikir seseorang yang sedang memarahi kita mungkin ia membenci kita. Namun apakah benar bahwa seseorang yang marah kepada kita itu pasti membenci kita? 


Rasa marah biasanya ditimbulkan oleh perasaan tidak suka. Misalkan, kita mungkin akan marah ketika teman kita mengganggu kita saat kita sedang belajar. Pada kondisi ini kita dalam posisi tidak suka diganggu saat belajar. Maka ketika ada yang mengganggu kita saat kita belajar, maka kita akan marah. Contoh lain adalah seorang ayah yang memarahi anaknya ketika anaknya pulang larut. Dalam kondisi ini, sang ayah tidak menyukai bila anaknya yang pulang larut. Oleh karenanya sang ayah akan marah bila anaknya pulang larut malam.


Rasa marah timbul oleh perasaan tidak suka, kemudian perasaan tidak suka timbul karena berbagai sebab di antaranya karena perasaan benci. Seseorang yang memendam kebencian cenderung merasa tidak suka terhadap apapun yang dilakukan oleh orang yang dibenci. Sehingga apapun yang dikerjakannya akan selalu tak disukainya. Di mata pembenci, apapun yang dikerjakan oleh orang yang dibencinya adalah salah. Rasa benci ini memupuk perasaan lain yaitu amarah, ketika ada kesempatan maka ia akan melampiaskannya dengan berlebihan. Di sinilah korelasi antara marah dan benci yaitu rasa marah bisa disebabkan oleh kebencian. Namun ada rasa marah yang disebabkan oleh cinta.

Seorang ibu memarahi anaknya yang ketahuan bolos sekolah. Marah sang ibu sudah pasti disebabkan ia tidak menyukai perbuatan bolos sekolah namun rasa tidak sukanya disebabkan oleh cinta kasih sang ibu kepada anaknya. Sang ibu tidak ingin sang anak menjadi anak yang bandel dan sulit di atur. Sang ibu menginginkan masa depan cerah bagi anaknya itulah sebabnya sang ibu marah kepada anaknya yang membolos sekolah tak lain karena sang ibu mengharapkan kebaikan bagi anaknya.

Dr. Zakir Naik pernah ditanya, "Mengapa Allah murka kepada orang-orang yang berbuat syirik? Tidakkah itu wujud egoisme Allah?" Dr. Zakir Naik menjawab bahwa kemurkaan Allah kepada orang yang berbuat syirik atau menyembah selain kepadanya adalah wujud kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Allah ingin manusia mencintainya dengan memurnikan tauhid kepada Allah semata. Rasa cinta sang hamba kepada Allah akan mengantarkan manusia taat kepada Allah dan ketaatan ini akan menghindarkan manusia dari mudhorot yang akan didapatkannya apabila berbuat ingkar. Allah menginginkan manusia menjadi pribadi yang baik dengan menurunkan perintah-perintah yang mulia dan membawa manfaat. Apabila manusia tidak cinta kepada Allah dan menyembah kepada selain Allah, maka manusia mungkin tidak akan melaksanakan perintah Allah. Oleh karena itu, Allah memurkai orang yang menyembah selain Allah karena Allah menginginkan kebaikan bagi manusia.

Jadi rasa marah tidak selalu didasari sikap kebencian. Bisa jadi ia didasari oleh rasa cinta kepada orang yang dimarahi dengan catatan marahnya adil dan tidak melampaui batas. Bagaimana marah yang adil? Ialah marah dengan di dasari oleh alasan yang tepat dan dilakukan dengan mengharapkan kebaikan. Marahnya karena kasih sayang dan tidak ditunggangi setan. Marah yang ditunggangi setan biasanya dilakukan dengan melampaui batas dengan alasan yang dibuat-buat.

Marah juga bentuk dari nasehat. Nasehat ibarat obat, pahit rasanya namun berkhasiat. Bila kita dimarahi oleh seseorang dengan marah yang tepat, maka segeralah introspeksi diri, barangkali memang diri kita ini sedang berbuat salah dan ini cara Allah menegur kita sebab kitanya sering tidak mempan dengan teguran -teguran halus. Bila tidak ada maka bersyukurlah bahwa ternyata orang tersebut menyayangi kita dengan memberikan perhatian kepada kita meski dengan marahnya.

Wallahuta'ala a'lam

Artikel terkait lain dengan



0 Reaksi Pembaca:

Posting Komentar

TERIMA KASIH ATAS KOMENTARNYA.

Entri Populer