Mari Berkarya, Mari Bercerita


Berkarya untuk kehidupan. Bercerita untuk menghidupkan

Tulisan berikut ditulis berdasarkan pengamatan dan pengalaman saya. Tidak ada klaim apapun tentangnya.

Dulu, saya pernah membaca sebuah kisah tentang (kalau tidak salah) Imam Al Hasan Al Bashri -ulama terkenal di zaman itu- yang bertemu dengan seorang pedagang di suatu pasar. Di pertemuan pertamanya, Al Hasan melihat pedagang ini berdagang dengan cara yang buruk. Ia selalu melebih-lebihkan dagangannya dan selalu menutupi setiap kekurangan dagangannya. Ia bahkan berani berdusta agar kecacatan dagangannya tidak terlihat oleh pembeli. Tentu sikap ini adalah tercela dan akan merugikan sang pembeli. Melihat kondisi seperti ini Imam Al Hasan Al Bashri bertekad ia tidak akan pernah membeli dagangan pedagang tadi.
Selang masa berlalu Imam Al Hasan Al Bashri bertemu kembali dengan pedagang tadi di pasar. Kali ini beliau melihat pemandangan yang lain. Pedagang tadi tidak lagi berjualan dengan cara yang buruk. Bahkan ia berdagang dengan jujur dengan menunjukkan kekurangan dan kecacatan barang dagangannya. Imam Al Hasan Al Bashri heran dengan perubahan besar pedagang tadi kemudian menanyakannya. Sang pedagang menjawab bahwa dulu ia memiliki istri yang tidak pernah puas akan hasil kerjanya. Setiap diberi sedikit, ia marah, ketika diberi banyak ia merasa kurang. Oleh karena sikap istrinya tersebut, sang pedagang jadi menghalalkan segala cara agar mendapat untung yang besar. Semata-mata untuk menyenangkan istrinya meskipun sang istri tetap merasakan kekurangan. Namun kini kondisi pedagang tadi berbeda. Ia tidak lagi memiliki istri yang serakah. Istrinya kini qanaah. Setiap hasil yang didapatkannya selalu disyukurinya. Berapapun sehingga sikap istri ini pun berpengaruh terhadap suaminya. Kini sang pedagang hanya berpikir untuk berjualan dengan jujur meskipun hasil yang didapat sedikit. Dan meskipun sedikit ternyata penghasilannya penuh berkah dan itu sudah mencukupi kebutuhan keluarganya. (Wallaahua'lam)

Apa yang dapat kita petik dari kisah di atas? Ialah secara tidak langsung akhlak sang istri berpengaruh terhadap suami. Istri yang serakah dan tak pernah merasa puas dengan pemberian suami akan membuat suami merasakan kepayahan. Sikap ini mungkin akan berefek buruk kepada suami. Di antara efek buruknya adalah suami berani melakukan kecurangan hanya untuk menyenangkan sang istri. Akhirnya, nafkah yang didapat pun tidak halal dan tidak menghasilkan keberkahan dalam hidup.

Buruknya akhlak istri akan menyebabkan suami tidak betah berada di rumah. Misalnya, istri cenderung mendominasi di dalam perkara rumah tangga justru akan menyebabkan rumah tangga terasa panas. Meskipun sang istri lebih kompeten mengambil keputusan daripada suami. 

Saya pernah mendengar curhat dari seorang ibu-ibu penjaga warung. Ia mengeluhkan bahwa suaminya marah besar sebab si ibu pernah meninggikan suaranya pada saat diskusi tentang tempat tinggal. Memang tidak bisa sepenuhnya sang suami disalahkan sebab secara posisi memang sang suami adalah pemimpin rumah tangga. Secara psikologi, seorang pria tidak boleh didominasi wanita. Ini akan mencoreng harga dirinya. Sang lelaki mungkin akan merasa letih dan tidak semangat mencari nafkah. Selain itu ia akan lebih senang berada di luar rumah yang membuatnya tidak betah.

Apakah wanita tidak boleh mendominasi dalam rumah tangga? Menurut saya, selama suami masih ada, janganlah seorang wanita mendominasi dengan menggeser kepemimpinannya di dalam rumah tangga. Percayalah, dari pengamatan yang saya lakukan memang kenyataannya beginilah. Dominasi wanita di dalam rumah tangga hanya menyebabkan sang lelaki tidak betah di rumah dan mematahkan semangatnya mencari nafkah. Atau efek samping lain yang juga tidak baik. 

Bila ingin kehidupan rumah tangga berjalan dengan baik, tentu dibutuhkan kejelasan sikap baik dari suami maupun istri. Kejelasan sikap ini haruslah berlandaskan petunjuk Al Quran maupun Sunnah dimana seorang istri harus taat pada suami dalam hal-hal yang ma'ruf. Menjaga dirinya hanya untuk suaminya dan berias serta berdandan hanya bagi suami dan sebagainya.

Contoh paling kongkrit dalam hal ini adalah Bunda Khadijah Radhiyallaahu'anha. Istri pertama Rasulullah Sholallaahu'alaihi wa salam. Bila kita perhatikan, usia bunda Khadijah jauh lebih tua dibanding usia Muhammad kala itu. Dan Muhammad belum menyandang status sebagai Nabi. Namun meski usianya lebih tua namun bunda Khadijah tidak pernah menunjukkan dominasinya kepada suaminya. Ia selalu menempatkan Nabi sebagai pemimpin di rumah tangganya. Bahkan ketika Rasul menerima wahyu untuk pertama kalinya dan badan beliau gemetaran, Khadijah begitu percaya kepadanya, malah ia membantu menyelimuti Nabi dan menenangkan hati Nabi kala itu. Beliau menghibur Nabi dengan kata-kata yang lembut dan indah. Kebaikan bunda Khadijah membuat namanya begitu tertanam kuat di hati Nabi sampai-sampai bunda 'Aisyah cemburu dibuatnya. Padahal bunda 'Aisyah belum pernah bertemu dengan bunda Khadijah namun Nabi sering menyebut kebaikan bunda Khadijah di depan istri-istrinya. Subhanallah...

Ada lagi kisah seorang ibu pernah memberi nasihat kepada anak perempuannya yang hendak menikah di antara nasihatnya adalah "Jadilah engkau sebagai pelayan suamimu niscaya suamimu akan menjadi budakmu." Ketika membaca itu saya tersadar, benar apa yang dikatakan sang ibu bahwa laki-laki yang dilayani dengan maksimal oleh sang istri akan membuatnya seolah-olah diperbudak istri. Apa yang istri mau akan dipenuhinya. Apa yang istri inginkan akan diusahakan untuk terwujud. Dan memang begitulah adanya.

Bagaimanakah cara mengetahui tentang sikap yang baik antara suami dan istri? Belajarlah agama. Di dalam Islam sudah diterangkan dengan jelas bagaimana peran suami dan istri di dalam rumah tangga. Apa kewajibannya apa hak-haknya. Semua sudah dijelaskan di sana. Hanya kita saja, mau belajar atau tidak?

Artikel terkait lain dengan



0 Reaksi Pembaca:

Posting Komentar

TERIMA KASIH ATAS KOMENTARNYA.

Entri Populer