Mari Berkarya, Mari Bercerita


Berkarya untuk kehidupan. Bercerita untuk menghidupkan

Sebenarnya aku sedang berpikir, memikirkan bagaimana ke depannya. Niat menikahi sudah diucapkan dan didengarkan oleh calon mertua. Bahkan tidak cukup sampai di situ, paman dan bibinya pun sudah mengetahui niat ini. Senang rasanya bila memang diri ini diterima di keluarga yang sangat besar. Diri ini hanya mampu berharap tidak akan mengecewakan mereka semua. Dan saya sangat menyadari di antara kekurangan saya adalah kemampuan bersosialisasi dengan sanak keluarga. Sebab semenjak kecil, saya besar di perantauan dan sangat jarang bercengkerama dengan sanak keluarga. Namun untuk hal ini saya akan usahakan. Islam sudah mengajarkan bagaimana berakhlak dan menyambung silaturahim. InsyaAllah semoga Allah mudahkan.

Pikiran saya yang lain adalah masalah dana ini itu pernikahan. Sebab lokasi orang tua saya beda pulau dengan lokasi camer, Kalau perjalanan darat bisa dua hari dua malam baru sampai, tentu ini akan memerlukan dana untuk menghadirkan mereka. Selain itu saya perlu mempersiapkan kontrakan rumah untuk saya dan istri serta mahar dan bantuan penyelenggaraan walimatul ursy. Rencana saya ke depannya, saya ingin ngontrak langsung saja dua atau tiga tahun, selama itu saya berniat mengumpulkan uang untuk membangun rumah. Sengaja tidak KPR karena ada riba di sana. Daripada hidup berpunya tapi tidak berkah mendingan kita sederhana tapi berkah. Kalau dihitung-hitung paling tidak saya perlu dana sekurangnya 30 an juta. InsyaAllah dana bisa diusahakan, saya hanya butuh waktu saja untuk itu.

Namun ada hal yang sebenarnya sangat mengganjal. Sebuah obsesi. Saya melihat calon istri saya ini kok begitu ngefans dengan hal-hal yang berbau Jepang. Semuanya sampai-sampai setiap status yang berbahasa Jepang atau status tentang Jepang dia ikuti. Jujur bukan saya tidak suka dengan Jepang, banyak hal positif yang bisa kita ambil darinya namun kalau tarafnya sudah sampai ke obsesi saya jadi khawatir. Saya khawatir ini akan menjadi masalah di kemudian hari. Sungguh, melihat calon istri fokus belajar agama dan mempersiapkan kehidupan rumah tangga islami lebih saya senangi dibanding perhatiannya terhadap Jejepangan yang saya rasa lebih besar dari perhatian terhadap agamanya. Saya sedih melihat hal ini. Jujur saya merindukan calon istri saya ketika ia mampu menulis sebuah note yang sangat indah. Note yang membuatnya menjadi wanita yang layak untuk diperjuangkan. Note yang menggambarkan kepahamannya pada agama dan dimana posisinya berada. Note tentang kecemburuannya pada dirinya sendiri. Subhanallah, sungguh note itu adalah note terindah yang pernah ditulisnya. Membuatnya begitu layak diperjuangkan disamping banyak wanita yang gemar mengumbar diri di hadapan lelaki.

Sungguh, saya merindukan saat-saat dimana dia senang menshare hal-hal agamis. Jadwal kajian keputrian. Mengingatkan kepada teman-temannya akan pentingnya ghadul bashor. Mengajak untuk tidak mudah bersenandung canda kepada laki-laki. Namun akhir-akhir ini entah mengapa saya menemukan hal-hal yang justru sebaliknya dari sikap muslimahnya yang dulu. Dia sudah jarang menshare hal-hal agamis. Bahkan ia bermudahan bercanda gurau dengan lawan jenis di FB atau medsos lain. Semangat ghadul bashornya melemah. Dan terakhir perhatiannya kepada jejepangan yang menurut saya terlalu berlebihan. 

Di antara yang lain yang membuat saya sedih adalah ketika secara terpaksa salah satu akun jejaring sosial saya harus non aktif selama beberapa hari. Dan ketika saya mengaktifkannya kembali, betapa terkejut saya melihat fotonya bersama teman-temannya dipajang di akun tersebut sebagai foto profil. Terkejutnya saya sebab sebelum akun saya non aktif, dia tidak pernah memajang wajahnya di foto profil. Dan ketika ia tahu akun saya aktif kembali, segera ia ganti foto itu. Saya sedih memikirkannya, mengapa ia berubah dari yang dulu menjadi yang sekarang.

Sungguh, tiada yang kuharapkan selain kebaikan bagimu dan bagiku. Kembalilah engkau kepada dirimu yang dulu, yang begitu indah sikapmu sebagai seorang muslimah. Aku ingin mengajakmu kembali kepada agama. Belajar agama kembali untuk persiapan bahtera kita kelak. Percuma ingin menyegerakan pelayaran namun bekal tidak kita persiapkan. Perjalanan bahtera kita akan panjang dan aku sangat berharap ia akan sampai ke surga. Aku ingin menjadi muslim yang baik dan aku membutuhkan seorang muslimah yang dapat mendukungku untuk itu. Aku ingin engkau dan aku kelak dapat bahagia bersama meniti sunnah menuju jannah.

Kembalilah, tinggalkan obsesi tentang Jepang yang berlebihan. Sungguh bukan ku tak menyenangi Jepang tapi aku takut obsesi berlebihan itu yang menjadi masalah di rumah tangga kita kelak.

Semoga engkau mengerti, jagalah dirimu, hatimu dan agamamu. Itu saja pesanku hingga janur kuning tegak berdiri.

Artikel terkait lain dengan



0 Reaksi Pembaca:

Posting Komentar

TERIMA KASIH ATAS KOMENTARNYA.

Entri Populer