Mari Berkarya, Mari Bercerita


Berkarya untuk kehidupan. Bercerita untuk menghidupkan

Pernahkah kita merindukan kehidupan bahagia? Pernahkah kita merindukan kehidupan yang tenang dan damai? Setiap orang ingin bahagia, setiap orang ingin hidup yang tenang dan damai. Namun masing-masing orang memiliki cara untuk mencapai kehidupan yang seperti itu. Ada yang mencari jabatan setinggi-tingginya, ada yang menumpuk harta sebanyak-banyaknya. Ada yang ah macam-macam. Namun ternyata tak kunjung kenikmatan hidup itu ia dapatkan. Mereka yang memiliki jabatan tinggi ternyata bukannya merasa bahagia, justru malah punya banyak musuh. Ada banyak ornag yang menginginkan kedudukannya berusaha menjatuhkannya. Menjebaknya masuk ke masalah-masalah. Membuat pusing kepala.

Pun demikian dengan mereka yang memiliki harta yang banyak. Semakin banyak hartanya semakin terbebani hatinya. Ia khawatir kalau-kalau hartanya akan dicuri orang. Disewanyalah sekurity untuk menjaga hartanya. Ternyata sekuriti saja tak cukup, ia pun pasang sistem keamanan anti maling paling canggih. Ia juga pasang cctv di setiap sudut rumah dan memasang generator agar listrik selalu tersuplai menyalakan kameranya. Pagarnya dibuat tinggi. Sedikit saja orang menggoresnya marah besar ia. Ternyata hartanya tidak membuatnya tenang. Malah semakin sensitif ia, semakin khawatir ia kalau-kalau hartanya akan pergi meninggalkannya.

"Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang."

Sebuah petikan kalimat hadits yang begitu bermakna bila diresapi. Ya, hati yang senantiasa berdzikir kepada Allah akan merasakan ketenangan. Kebahagiaan yang jauh lebih nyata dibanding memiliki harta yang banyak dan jabatan yang tinggi. Mereka yang telah merasakan manisnya iman di hati takkan khawatir bila-bila hartanya lenyap. Bila-bila hidupnya susah. Karena ada Allah di hatinya. Bukankah tujuan hidup manusia adalah beribadah kepada Allah? Di dalam surat Adz Dzariyat ayat 56 Allah telah telah ingatkan manusia bahwa tujuan Allah menciptakan jin dan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah.

Hati yang rindu untuk beribadah kepada Allah. Inilah rasa rindu yang kuharap takkan meninggalkanku. Sebuah rasa rindu untuk mendekat kepada sang pencipta. Untuk menghambakan diri dan menyerahkan seluruh jiwa raga kepada-Nya. Kerinduan untuk beribadah karena-Nya. Ikhlas dengan mengikuti petunjuk nabi-Nya. Subhanallah. Begitu nikmat saat-saat iman ini kuat sehingga tercicip nikmatnya bermunajat kepada Allah. Sampai-sampai kita memohon kepada Allah untuk dimatikan dalam kondisi beribadah ikhlas kepada-Nya. Allah... 

Namun hati ini lemah. Diri ini lemah. Kehidupan yang membuai nafsu dan syahwat senantiasa menggoda diri ini. Iman pun naik dan turun laksana gelombang lautan. Ketika iman sedang turun sungguh tiada nikmat lagi rasa kehidupan ini. Seolah-olah yang kumau adalah dunia. Aku ingin memeluk dunia. Aku ingin bersama dunia. Dan aku pun malu menghadap Allah. Allaahu yahdik. Hanya Allah yang memberi petunjuk bagi makhluknya. Menyelamatkan dan menguatkan iman di dada makhluknya. Sungguh, ketika iman sedang melemah ada rasa rindu yang menyala di sana. Laksana lilin di tengah malam gelap gulita. Rasa rindu untuk kembali kepada Allah. Menyerahkan diri ini untuk senantiasa beribadah kepada-Nya. Rindu dengan suasana menghambakan diri dengan jalan yang dicontohkan manusia termulia - Rasulullah sholallaahu'alaihi wa sallam - .

Sungguh konsekuensi beribadah kepada Allah itu berat. Kita harus siap-siap meninggalkan apa yang hati condong kepada-Nya. Yaitu kenikmatan dunia dan segala isinya. Tak sedikit pengorbanan yang akan kita lakukan untuk menggapai kebahagiaan yang nyata tersebut. Kebahagiaan dunia dan akhirat. Bahkan Rasulullah sampai harus dimusuhi kaumnya hanya karena menyebarkan Islam. Dan berapa sahabat mati karena memegang teguh imannya. Mereka digergaji hidup-hidup. Mereka dikuliti hidup-hidup hanya karena mempertahankan Islam sebagai agamanya. Subhanallah, apalah kita ini dibanding mereka. 

Kadang ku berpikir, andai aku hidup di zaman Nabi, apakah aku akan tergolong para sahabat radhiyallaahu'anhum? Sedangkan diri ini masih sangat lemah. Iman ini masih sering goyah. Bahkan sholatku pun tidak ada apa-apanya dibandingkan sholat Abdullah bin Ubay bin Salul. Padahal dia adalah munafiqun di zaman Nabi. Namun tentu sholatnya lebih baik dari sholatku karena dia menyaksikan sendiri bagaimana Nabi sholat. Meski begitu ternyata Abdullah bin Ubay bin Salul adalah pimpinan munafiqun di Madinah.

Andai aku hidup di zaman Nabi kemudian Nabi menggolongkanku kepada 10 orang sahabat yang di jamin masuk surga. Kira-kira bagaimana reaksiku? Kita lihat bagaimana Abu Bakar, Umar, Utsman dan 'Aliy yang termasuk 10 sahabat yang dijamin masuk surga. Ini jaminan datang langsung dari Rasulullah. Tsiqoh dan terpercaya. Ternyata meski mereka telah dijamin surga, semangat ibadah mereka tidak putus. Semangat ibadah mereka justru semakin tinggi. Hingga di zaman kekhalifahan Umar, Islam pun menyebar dengan cepat. Negeri-negeri kaum muslimin bertambah banyak, bahkan negeri persia tempat kaum penyembah api - majusi - pun dapat ditaklukan. Mereka yang telah dijamin surga saja masih begitu besar semangat ibadahnya, lantas bagaimana dengan kita yang tidak ada jaminan ini?

Dahulu aku begitu senang menggambar. Gambar makhluk hidup. Paling sering menggambar anime, pernah menggambar yang realis. Namun setelah kutahu Islam melarang menggambar makhluk hidup akupun berhenti melakukannya. Sampai ada seorang teman menggambar berkata bahwa dia mungkin kehilangan seorang teman lagi karena dogma agama.

Jadi gini ceritanya. Beberapa saat setelah aku memutuskan untuk berhenti menggambar dan kutulis di status sosial media. Seorang teman perempuan berinisial D yang biasanya kita bertukar tag gambar-gambar kita membuat status. Inti statusnya dia akan kehilangan seorang teman lagi lantaran dogma (aturan) dalam agama. Sebenarnya aku udah merasa yang dimaksud adalah aku. Namun aku bingung dengan kata-kata yang ke dua. Ternyata seorang teman berinisial E telah lebih dulu meninggalkan dunia itu. Meski E ini bukan ahli gambar tapi mereka berteman. Perlu diketauhi D bukanlah muslim jadi sangat wajar bila ia berkomentar seperti itu. E adalah seorang muslimah yang mengenal manhaj ahlussunnah wal jamaah. Sekarang penampilan E sudah jauh berbeda. Aku hanya bertemu dia sekali saja waktu itu bersama teman menggambarku yang lain P dan B buka bareng di salah satu tempat makan di Jogja. Waktu itu E masih berjilbab kecil namun kini dia sudah berjilbab besar. Dan biasanya mereka yang sudah mengenal sunnah, pergaulannya akan berubah kearah yang lebih baik. Tentu pergaulannya tidak seperti orang awam pada umumnya. Ada batasan-batasannya. Dan ini yang mungkin dianggap D sebagai orang pertama yang akan meninggalkannya.

Pergaulanku juga berubah. Dan aku juga merasakan reaksi dari teman-teman. Seolah-olah aku dicuekin. Bukan hanya dengan yang wanita namun juga laki-lakinya. Tapi enggak masalah buatku. Yang penting aku usahakan aku akan tetap menjalin ukhuwah dengan mereka. Dan pergaulanku dengan teman-teman di dunia nyata pun berjalan seperti biasanya. Gak ada masalah. Dan aku berharap Allah jadikanku wasilah hidayah bagi teman-teman. Aamiin.

Namun hati ini masih lemah. Untuk itulah aku ingin hijrah. Hijrah kepada lingkungan yang baru. Aku ingin membangun iman bersama istriku dan keluarga baruku kelak. Dan memupuk rasa rindu untuk bermunajat kepada Allah bersama mereka. Tentu semua membutuhkan usaha dan pengorbanan yang tak sedikit. Kita harus siap meninggalkan kesenangan dunia yang sering hati ini condong kepadanya. Meninggalkan hobi bila itu bertentangan dengan syariat. Meninggalkan apapun bila memang ia bertentangan dengan agama. Dan insyaAllah apa yang kita korbankan akan digantikan dengan manisnya iman. Inilah surga dunia yang sesungguhnya dimana dalam sebuah hadits dijelaskan barangsiapa yang belum merasakan surga dunia maka ia tidak akan merasakan surga di akhirat kelak. Surga dunia ialah kelezatan beribadah kepada Allah dengan hati yang ikhlas sesuai petunjuk nabi sholallaahu 'alaihi wasallam.

Di perjalanan panjang yang akan kita tempuh, hal yang paling bermanfaat adalah mempersiapkan bekal.

Sekian igauan malam ini. Mohon maaf bila ada kesalahan dan khilafnya.

Wallaahuta'ala a'lam

Artikel terkait lain dengan



0 Reaksi Pembaca:

Posting Komentar

TERIMA KASIH ATAS KOMENTARNYA.

Entri Populer