Mari Berkarya, Mari Bercerita


Berkarya untuk kehidupan. Bercerita untuk menghidupkan

Tulisan ini ditulis oleh seorang single (bukan jomblo) yang berharap bisa menikah suatu hari nanti. Dan ada harapan menyelenggarakan walimah yang syar'i. Walimah adalah mengundang orang-orang untuk makan-makan setelah acara pernikahan. Mungkin di indonesia sering disebut resepsi. Nah berikut ini harapan ane ketika Allah menghendaki suatu hari nanti ane mengadakan walimatul ursy.

1. Sederhana
Apa yang ane harapkan dari walimahan adalah acaranya sederhana. Tidak perlu mewah-mewah. Sederhana bukan berarti murahan. Sederhana di sini sesuai kemampuan. Jangan sampai karena ingin menaikkan status di masyarakat ane kemudian memboros-boroskan harta untuk menikah. Walimah itu sebenarnya mudah dan murah. Rasul bersabda

“Adakanlah walimah walaupun hanya dengan menyembelih seekor kambing” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tuh kan, Nabi aja memerintahkan walimah walaupun hanya dengan menyembelih seekor kambing. Bahkan ketika Nabi menikahi Shofiyyah, Nabi hanya menghidangkan hais. Yaitu makanan yang terbuat dari tepung dang kurma untuk para tamu. Artinya apa, mengadakan walimah sesuai dengan kemampuan saja.

Walimah sederhana juga bermakna tidak ngutang waktu mengadakan walimah. Apalagi ngutang ke lembaga riba. Kayak bank, koperasi riba dan sebagainya. Kenapa? Sebab Riba adalah hal yang Allah haramkan. Ane punya prinsip jangan mengawali pernikahan dengan sesuatu yang Allah larang. Seperti riba, pacaran. Bukankah Allah berfirman;

“Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” [Al-Baqarah: 275]

Nah makanya saya berharap walimah saya nanti gak pakai ngutang apalagi di lembaga riba.

Loh, bukannya kalau kita ngutang, kita gak makan riba yah?

Enggak juga... yang memberi makan riba “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba (rentenir), orang yang menyerahkan riba (nasabah), pencatat riba (sekretaris) dan dua orang saksinya.” Beliau mengatakan, “Mereka semua itu sama.”(HR. Muslim no. 1598)tetep kena dosa riba. Karena yang kena dosa riba adalah yang memakan harta riba, yang memberi makan harta riba dan yang menjadi saksi. Nih hadits Nabi.

Nah, apa sih dosa riba. Katanya dosa besarlah apa lah... 

Nih dosa riba.

“Riba ada 73 pintu. Yang paling ringan adalah seperti orang yang berzina dengan ibu kandungnya.” (Sunan Ibnu Majah, 2275, Al-Mustadrak, 2/37 dan Syu’abul Iman, 5519)

Tuh, dosa riba paling ringan bagai berzina dengan ibu kandungnya. Wong dosa zina aja udah besar ini tambah lagi zinanya sama ibu kandung. Na'udzubillaahi min dzalik.

Selain itu, ane juga punya prinsip jangan sampai awal-awal kehidupan rumah tangga yang biasanya manis, indah dan penuh warna harus terbebani dengan membayar hutang. Jangan sampai masa-masa manis itu terlewat begitu saja karena hutang. Lebih-lebih kalau yang ngutang itu orang tua. Malah makin runyam. Kita senang-senang abis nikah, eh orang tua susah menanggung hutangnya. Padahal bakti kepada ibu bapak saja belum lunas, masih mau ditambah menyusahkan mereka dengan membayar hutang pernikahan kita. Na'udzubillaahi min dzalik.


2. Gak Pake Biduan
Harapan ane, walimahan ane gag pake biduan. Selain karena musik itu hukumnya haram dalam Islam, rasanya gak etis juga ngundang cewek geal geol di walimah nantinya. Maksudnya gini, biasanya biduan itu pakaiannya seksi dan tabarruj. Dan gak sedikit laki-laki yang bakal kesengsem nih sama bodynya si biduan. Apalagi kalau wajahnya cantik. Ane kan nikah karena mau nundukin pandangan. Bisa bersenang-senang dengan istri. Tapi kok awal-awal nikah malah majang aurot di muka umum. Makanya ane gag pingin ada biduan atau orgen tunggal di walimah nanti. 

Kalaupun ada musiknya ane pingin musik walimah seperti nasyid-nasyid walimah yang di stel pakai tip aja dah. Atau kalau live concert, alat musiknya cuma pake duff. Alias rebana bodong. Rebana yang ga ada krincingannya. Yang nyanyi juga anak-anak kecil. Ada kok, cari aja Nasyid Al Mustaqbal. Itu anak-anak unyu yang nyanyi dan syairnya insya Allah gag melalaikan. Lain kalau pake orgen tunggal. Ada azan zuhur pun biasanya ditabrak langsung sama mereka. Abis azan bukannya siap-siap solat eh malah joget-joget. Nah yang begini juga pasti dimurkai Allah. Maka jangan mengawali sesuatu yang suci dengan murka Allah.


3. Pisah Tamu Laki-Laki sama Perempuan
Nah ini yang rada susah, tapi insya Allah bisa diusahakan. Alasannya jelas, Allah melarang ikhtilath atau bercampur baurnya laki-laki dan wanita dalam satu tempat tanpa hijab. Bisa menimbulkan fitnah. Dan balik lagi, jangan mengawali sesuatu yang suci dengan murkanya Allah. Nanti gag berkah itu pernikahan.


4. Minimal Mempelai Wanita gag Jadi Barang Pajangan
Pajangan maksudnya duduk di depan. Ane gag mau istri ane tabarruj kemudian jadi tontonan di depan umum. Kalaupun harus ada yang ditonton, biarlah ane sebagai lelaki dewekan di depan. Kalau memang mau foto-foto, boleh yang laki sama yang laki, yang perempuan sama yang perempuan. Atau kalau mau campur perempuan dan laki-laki minimal sama mahromnya. 


5. Yang Diundang Jangan Cuma Orang Kaya
Ini juga termasuk larangan dari Nabi. Karena Nabi menyebut makanan paling jelek adalah makanan walimah dimana yang datang cuma orang-orang kaya. Makanya undang tetangga, sanak keluarga, teman-teman dan orang-orang sholeh untuk hadir di walimahan kita. Jangan cuma orang-orang kaya doang. 


6. Meniadakan Adat-Adat yang Tidak Sesuai dengan Syariat
Adat tidak mengapa asal tidak melanggar syariat. Tidak mengandung kesyirikan. Dan tidak dipaksakan dilakukan bila tidak mampu. Sekali lagi walimah itu sebenarnya mudah, kadang kite sebagai umat Islam yang bikin berat. Contoh, ulang tahun. Kadang kita yang nyusahin diri dengan mengadakan pesta ulang tahun atau sekedar ngucapi ulang tahun padahal Rasul gag pernah mencontohkan hal itu. Rasul gag pernah merayakan ulang tahun, Rasul hanya berpuasa di hari kelahirannya. Tok. Gag pake bikin-bikin kue segala. Itu kan budayanya orang non Islam, dan orang Islam gag perlu nyontoh yang kaya gitu. Contoh lain adalah perayaan tahun baru. Itu Nabi kalau tahun baru gag sibuk nyiapi kembang api, gag sibuk bikin acara renungan dan sebagainya. Karena introspeksi dan merenung hendaknya dilaksanakan tiap hari. Dan lagi-lagi perayaan tahun baru entah itu hijriah atau masehi bukanlah produk Islam, maka jangan sampai kita tasyabuh dengan perayaan orang di luar Islam.
Maka dari itu, bila adat itu baik dilaksanakan dan tidak melanggar syariat serta tidak memberatkan maka fine-fine aja dilaksanakan. Bila sebaliknya maka sebaiknya ditinggalkan. Islam itu agama tauhid, bukan agama tahayul dan khurafat yang biasanya menjangkiti pelaku adat bila tidak melakukan adat-adat tertentu.

Yah, untuk sementara ini dulu yang bisa saya tulis. Mengapa saya menulis ini? Harapan saya calon istri saya ikut membacanya juga. Kemudian dia bisa bantu diskusi dengan keluarganya. Dan ane diskusi dengan keluarga ane. Insya Allah bila walimahannya berkah semoga pernikahannya juga berkah. 

By the way, ada yang bilang pengantin di pesta resepsi itu bagai raja dan ratu sehari. Berkaitan dengan pernyataan itu saya benar-benar menolak dengan tegas dan gag setuju. Kenapa? Bohong kalau pengantin itu jadi ratu dan raja sehari. Yang ada mah arca pajangan seharian. Kalau emang raja dan ratu, harusnya itu tamu-tamu bisa disuruh-suruh dong. Bisa disuruh mijetin mempelai kalau kecapekan. Bisa disuruh bersihin meja kursi menjelang acara walimahannya selesai. Dan sebagainya. Kenyataannya enggak. Makanya ane dengan tegas menolak istilah raja dan ratu sehari. Hehehehehe

Moga calon istriku baca note kecil ini, dan aku dan dia kemudian belajar lagi untuk mempersiapkan pernikahan kita kelak agar bisa menyelenggarakan pernikahan sesuai sunnah. Aamiin.

Artikel terkait lain dengan



0 Reaksi Pembaca:

Posting Komentar

TERIMA KASIH ATAS KOMENTARNYA.

Entri Populer