Mari Berkarya, Mari Bercerita


Berkarya untuk kehidupan. Bercerita untuk menghidupkan

Saya sering sekali menonton video Dr. Zakir Naik di Youtube. Bila Anda belum tahu siapa itu Dr. Zakir Naik beliau adalah seorang Dr yang kerap memberikan ceramah soal perbandingan agama. Ceramah-ceramah beliau terasa ringan dan mudah dicerna. Apa yang beliau sampaikan sungguh masuk di akal. Beliau kerap menjawab pertanyaan-pertanyaan yang datang dari non muslim. Bahkan dari orang-orang atheis sekali pun. Dan beliau kerap memberikan jawaban yang memuaskan hati. Di antara jawaban beliau yang membuat saya begitu kagum adalah jawaban atas pertanyaan orang atheis yang menanyakan kurang lebih isinya, "Bahkan jika saya mengetahui ke Maha Agung Tuhan dengan segala pemberian-Nya terhadap saya apakah saya harus merasa kagum? Bukankah itu mudah bagi Tuhan Yang Maha Kuasa? Misalkan Bill Gates -orang terkaya di dunia- memberi saya 100 dolar, apakah saya harus takjub karena itu? Bukankah 100 dolar bagi Bill Gates itu sesuatu yang kecil?" dijawab dengan sangat apik oleh Dr. Zakir Naik, "Brother, yang menjadi pertanyaan bukan apakah saya harus heran dengan pemberian Bill Gates kepadamu tapi mengapa Bill Gates memberikan 100 dolar kepadamu? Mengapa di antara ratusan juta orang Bill Gates justru memilihmu untuk menerima 100 dolarnya?" Sebuah jawaban pamungkas yang membuat sang atheis mengucapkan , "Yah itu dia jawabannya,.... benar itu jawabannya...".

Saya adalah tipe orang yang senang mengamati hal-hal yang anti mainstream. Kadang saya mengamati orang-orang atheis yang bersliweran di jejaring sosial. Seperti di kaskus. Sering mereka eksis di sana. Pernah juga mereka membuat trit di kaskus dan dibaca serta direply oleh banyak sekali pembaca. Ada yang pro juga ada yang kontra. Namun ada sesuatu yang menarik dari pengamatan saya. Selama ini yang saya pahami adalah bahwa orang atheis itu adalah mereka yang tidak percaya kepada Tuhan. Ternyata tidak semua atheis begitu. Kebanyakan justru atheis adalah mereka yang percaya kepada Tuhan. Hanya saja mereka tidak mengenal Tuhannya. Mereka selalu memandang Tuhan dengan kacamata negatif sehingga apa saja yang berkaitan dengan Tuhan pasti buruk. Oleh sebab itu mereka kemudian antipati terhadap Tuhan dan menyatakan diri bukan hamba Tuhan manapun.

Sifat antipati mereka terhadap Tuhan sering nampak di video tanya-jawab Dr. Zakir Naik. Ada yang bertanya seperti pertanyaan di awal, ada yang dengan pertanyaan lain seperti, "Mengapa Tuhan begitu kejam dengan memasukan orang kedalam neraka?", "Mengapa Tuhan mengancam akan memasukkan manusia yang tidak mau menyembah-Nya ke dalam neraka?", "Bagaimanakah sebenarnya ajaran Tuhan tentang pemboman oleh manusia?" dan sebagainya. Dan semua pertanyaan itu menandakan bahwa mereka tidak merasakan sisi humanis dari Tuhan padahal Tuhan jauh lebih penyayang kepada kita dibanding kita menyayangi diri kita sendiri.

Bukti betapa penyayangnya Tuhan adalah Dia masih menjamin rezeki kita meskipun kita sering mendurhakai-Nya. Dia tidak berlaku curang sedikitpun atas ketetapan rizki yang telah ia tetapkan kepada manusia. Ada manusia yang diberi harta berlimpah ada yang diuji dengan sedikit harta. Mereka yang hartanya berlimpah bukan berarti Tuhan sayang kepadanya dan mereka yang miskin belum tentu dibenci Tuhan. Kondisi seperti ini justru dapat menjadi sebab munculnya sifat humanis bagi manusia. Mereka yang kaya akan menolong saudaranya yang miskin. Memunculkan kasih sayang di antara mereka. Mereka yang kaya akan belajar berbagi sedang yang miskin akan belajar bersabar. Bukankah ini adalah sisi humanis juga? Bayangkan bila seluruh manusia diberi kecukupan harta, apa jadinya kita? Barangkali tidak ada lagi yang mau saling peduli karena tidak ada rasa membutuhkan kepada sesama. Semua sudah berkecukupan. Tak perlu saling membantu dan tak perlu meminta bantuan. Bukankah ini akan mematikan nilai humanis pada manusia? Di sinilah wujud kebesaran Tuhan dimana di antara manusia diciptakan sebab-sebab yang membuat kita saling membutuhkan satu sama lain. Yang dapat memotivasi kita untuk mengeluarkan sisi humanis kita dan memberi kesempatan bagi kita untuk menunjukkan akhlak yang mulia bagi sesama manusia. Ketimpangan dan ketidakmerataan anugerah yang sering dipandang sebagai kecacatan penciptaan oleh manusia justru menunjukan betapa sempurnanya ciptaan Tuhan itu dan betapa agung Sang Pencipta.

Di beberapa videonya Dr. Zakir Naik menjelaskan bahwa manusia adalah makhluk yang lebih baik dari malaikat. Alasannya adalah karena manusia memiliki kehendak bebas (free will). Saya sangat setuju. Dengan memiliki free will manusia memiliki pilihan. Tidak seperti malaikat yang hanya punya satu pilihan saja yaitu mengerjakan seluruh perintah Allah, manusia punya pilihan apakah dia mau jadi hamba yang patuh atau hamba tak patuh. Tentu saja dengan resiko yang ditanggung sendiri. Bila manusia taat maka kedudukannya lebih mulia dibanding malaikat. Dan Nabi juga sudah menjelaskannya bahwa ada di antara manusia yang sama sekali tidak dikenal di dunia namun begitu terkenal di kalangan penduduk langit (malaikat). Namun bila manusia ingkar maka ia bisa lebih rendah dari hewan. Mengapa bisa begitu? Karena selain memberikan hak untuk bebas memilih manusia juga diberi akal. Akal adalah sesuatu yang tidak diberikan kepada hewan. Makanya makhluk yang sudah dikaruniai sesuatu yang begitu istimewa ini namun tidak mampu atau tidak mau menggunakannya bukankah lebih buruk dari hewan? Bahkan hewan yang tidak diberi akal pun kadang bisa berpikir, seharusnya manusia yang sudah diberi akal tentu harus lebih bisa berpikir dan menggunakan akalnya untuk mencari kebenaran. Untuk mengenal siapa Tuhannya dan bagaimana sifat-sifat-Nya.

Nah jadi di sini saya mengajak bagi Anda siapa pun itu, apapun agamamu untuk menonton video Dr. Zakir Naik. Karena banyak dari ceramah beliau yang membuka wawasan kita terhadap agama yang kita anut. Apakah sudah benar apa yang kita yakini? Apakah sudah benar cara kita meyakininya? dan sebagainya. 

Untuk saudaraku yang muslim yang sudah yakin akan pilihannya terhadap Islam dan bukan sekedar Islam karena ikut-ikut orang tua, saya mengajak untuk lebih jauh menimba ilmu agama Islam. Pelajari fiqh-fiqh ibadah, pelajari adab-adab, perdalam ilmu aqidah, perbagus bacaan Quran kita, perbaiki akhlak kita dan senantiasa berusaha untuk menjadi muslim sepenuhnya. Islam sesungguhnya adalah Islam yang diajarkan oleh Nabi kita. Yang dipahami oleh para sahabat. Karena Nabi kita dididik langsung oleh Allah dan diajarkan langsung agama Islam yang sesuai dengan kriteria Allah Ar Rahman Ar Rahim. Sedangkan sahabat adalah orang-orang yang dididik langsung oleh Nabi. Mereka yang apabila salah dalam berislam dapat bertanya langsung kepada Nabi. Mereka yang mengalami dan melihat langsung praktik Islam Nabi. Lantas apa lagi yang membuat kita menanti?

Artikel terkait lain dengan



0 Reaksi Pembaca:

Posting Komentar

TERIMA KASIH ATAS KOMENTARNYA.

Entri Populer