Mari Berkarya, Mari Bercerita


Berkarya untuk kehidupan. Bercerita untuk menghidupkan


Sumber foto: mepow.wordpress.com

Suatu siang di dekat sebuah mushola di pinggir jalan kampung terkapar seekor burung. Burung yang sangat bagus bentuknya. Warna kepalanya hitam dengan kucir yang berwarna hitam pula. Warna lehernya cerah can sayapnya agak kemerah-merahan. Ekornya panjang seperti murai namun ini bukan murai. Burung ini disebut burung Bubut Pacar Jambul. Bentuknya agak sedikit besar. Panjang ujung paruh sampai ujung ekornya berkisar 40cm.

Burung itu terkapar tak berdaya. Barangkali ia tadinya kelelahan dan terbang rendah namun karena ia tak menyadari di depannya ada kaca mushola maka kemudian dia menabrak kaca tersebut dan jatuh terkapar. Waktu kupungut burung tersebut memberikan perlawanan yang tak berarti. Seperti kehabisan tenaga. Dia pun nurut dan akhirnya aku membawanya pulang.

Di perjalanan pulang kuputuskan untuk membelikan burung itu sangkar. Harapanku agar si burung dapat kuletakkan di suatu tempat. Mampirlah aku ke pasar. Di pasar aku pun memilih sangkar yang lumayan besar. Tak lupa aku beli juga jangkrik untuk makanan dan wadah minum untuk si burung. Kemudian burung itu kubawa pulang. Selama di pasar dan di perjalanan pulang banyak sekali orang-orang yang menanyakan perihal burung itu. Di antara mereka ada yang menawarkan diri untuk merawatnya. Ada yang memintanya namun kutolak semua. Aku tidak berniat memberikan burung ini pada mereka. Bila kuberikan maka tidak akan terjamin kebebasannya. Memang aku berniat untuk merawat sementara si burung untuk kemudian aku lepas lagi. Alasanku memungutnya adalah agar burung tersebut aman. Aman dari gangguan binatang dan orang-orang. Sampai ia sehat lagi aku berniat melepaskannya.

Beberapa hari aku merawatnya. Kuletakkan ia di dapur rumah kontrakanku dan kusiapkan air minum serta makanannya. Namun selama itu tak disentuhnya makanan dan minuman itu sama sekali. Aku sudah mencari kira-kira makanan apa yang dia mau namun semua tidak ia sentuh. Di sisi lain ia berjingkat-jingkat di dalam kandang yang kini mengekangnya seolah-olah berteriak 'lepaskan aku!','lepaskan aku!'. Pernah suatu ketika burung itu lepas dari sangkarnya namun ia tidak mampu terbang tinggi. Bahkan untuk melampaui tembok dapur kami yangs setinggi 2 meter an pun. Ia hanya berputar-putar ke sana kemari dan akhirnya dapat kutangkap lagi dan kumasukkan ke kandang.

Suatu ketika aku putuskan untuk melepasnya. Biarlah bagaimana kondisinya akan kulepas dia. Memang sejak awal aku berniat melepaskannya. Aku akan mencarikan tempat yang bagus untuknya. Mungkin di hutan atau kebun atau tempat yang banyak pohonnya. Agar dia bisa sembunyi dari pemangsa atau para manusia pemburu harta. Agar dia dapat menikmati kebebasannya. Atau menikmati sisa umurnya di alam bebas. Selain itu aku takut bahwa ganjaran bagi yang menyiksa hewan sampai mati adalah neraka. Na'udzubillah.

Burung yang selama ku pisahkan ia dari kebebasannya tidak mau makan atau minum sedikitpun itu kubawa ke suatu tempat tak jauh dari tempat ku menemukannya. Di sana ada banyak pepohonan. Sangat sulit menemukan hutan di palembang karena sudah banyak pemukiman di sana. Aku berharap tempat ini bagus untuknya. Kemudian aku lepaskan ia agar bisa terbang menghilang dibalik pepohonan. Aku serahkan nyawa dan rezekinya kepada Dzat Yang Maha Memberi Rezeki. Aku harap bilapun dia mati, dia mati dengan bebas. Dia tidak sedang dikurung dibalik jeruji lidi. Dan dia dapat menikmati kebebasannya di akhir hidupnya.

Seekor burung yang terbiasa bebas, terbang tinggi sesuka hatinya, berkelana kemana-mana ketika semua kebebasan itu dipisahkan darinya ia pun protes. Ia pun mogok makan dan mogok minum. Ia memilih mati daripada kebebasannya direnggut. Ia tidak peduli bagaimana tidak mampunya dia menghadapi dunia karena dia hanya menginginkan kebebasan karena itulah kodratnya.

Sebagaimana burung wanita pun membutuhkan kebebasan. Namun kebebasan wanita dan burung tidaklah sama. Musuh burung ada dua yaitu pemangsa dan manusia. Pemangsa tidak peduli dengan penampilan si burung karena dia menginginkan dagingnya. Sedangkan manusia menginginkan si burung karena keindahannya. Andai si burung berakal tentu dia memilih untuk menyembunyikan penampilan indahnya di hadapan manusia. Dengan begitu dia tidak akan ditangkap dan dieksploitasi oleh manusia. Berkuranglah satu musuhnya.

Sedangkan musuh wanita adalah nafsu laki-laki. Wanita yang gemar menampilkan keindahannya akan terpenjara oleh pandangan laki-laki. Ia senantiasa diintai dan diperhatikan oleh para pesakitan. Namun kadang wanita malah senang dengan hal itu. Mereka memilih pamer kemolekan di hadapan laki-laki. Mereka memilih memenjarakan dirinya di hadapan pemangsa yang siap menerkam kehormatannya kapan ada kesempatan. Padahal mereka selalu membuka kesempatan bagi laki-laki menikmati molek tubuhnya.

Kebebasan sesungguhnya seorang wanita adalah bebasnya mereka dari pandangan buruk laki-laki. Dan terpenjaranya dia adalah ketika semua pandangan buruk laki-laki tertuju padanya. Kebebasan wanita adalah bila dia bukan menjadi budak dari nafsu. Sedangkan terbudaknya seorang wanita bila dia hanya dijadikan obyek seksual. Renungkan, berapa banyak wanita yang dieksploitasi kemolekan tubuhnya demi menarik perhatian agar laki-laki memandang iklan sebuah produk? Tidakkah mereka sadar tengah dipenjara oleh hal itu? Terpenjara oleh tuntutan tampil cantik dan seksi di hadapan laki-laki. Terpenjara untuk menjadi obyek seksual bagi laki-laki? Sampai kapan mereka sadar bahwa mereka sedang dimanfaatkan sebagaimana burung yang dikurung dan dipamerkan keindahan bulu dan siulnya agar orang membelinya.

Kebebasan dari sisi burung dan wanita pasti berbeda karena dua makhluk
ini juga berasal dari jenis yang berbeda. Bila burung bebas untuk pergi dan berkumpul dengan siapa saja bukan berarti wanita juga bebas untuk pergi dan berkumpul dengan siapa saja bukan? Jaga dirimu dan pergaulanmu saudariku.


Sekian semoga bermanfaat.

Artikel terkait lain dengan



0 Reaksi Pembaca:

Posting Komentar

TERIMA KASIH ATAS KOMENTARNYA.

Entri Populer