Mari Berkarya, Mari Bercerita


Berkarya untuk kehidupan. Bercerita untuk menghidupkan




Menikah, siapa sih yang gak pingin nikah. Apalagi umur sudah mencukupi buat nikah lantas apa yang ditunggu? Banyak!

Menikah itu bukan perkara mudah. Ada banyak yang perlu dipertimbangkan. Jangan sampai keputusan yang diambil hanya bermodal nekad belaka. Ikut-ikutan lantaran teman-teman sudah pada naik pelaminan. Sebab menikah itu adalah perkara besar. Karena di sana ada proses menyatukan dua pribadi manusia yang saling berbeda. Menyatukan presepsi untuk dapat mengarungi samudera kehidupan bersama. Mendidik anak-anak yang sholeh sholehah. Menghadapi konflik bersama. Maka kalau persiapannya tidak oke punya bisa susah nantinya.
Menikah juga bukan perkara ngasal. Bagi seorang laki-laki berat rasanya menerima tanggung jawab dalam pernikahan. Bayangkan saja, sebelum menikah seorang laki-laki hanya menanggung dua wanita saja. Yaitu ibunya dan saudara wanitanya. Sedangkan bila telah menikah, ia akan ketambahan satu atau dua wanita lagi yang akan ditanggungnya. Yaitu istri dan anak perempuannya. Seorang laki-laki harus mampu memimpin empat wanita ini. Mengarahkan dan membimbing mereka ke jalan yang benar. Jalan yang diridhai Allah. Mengingatkan bilamana mereka salah. Namun di sisi lain baktinya pada ibunya gak boleh kurang. Dua wanita yang akan saling cemburu kepada seorang laki-laki bila ia telah menikah adalah ibu dan istrinya. Maka alangkah berat bila laki-laki tak mampu melaksanakannya.

Menikah itu bukan sekedar memadu cinta. Selalu ada bumbu-bumbu dalam mahligai rumah tangga. Seorang laki-laki tidak menikahi bidadari yang cantik sempurna. Pun seorang wanita tak sedang menikahi malaikat yang terjaga dari kesalahan. Manusia menikahi manusia. Laki-laki menikahi perempuan dengan segala kekuranglebihannya. Dan kekurangannya biasanya akan terungkap ketika ikrar pernikahan telah dikumandangkan. Sanggupkah kita menerimanya? Ringan di bibir namun berat ketika menjalankannya. Setidaknya jangan terlalu gemar berangan manis tentang pernikahan. Karena daging gulai yang sedap pun kadang terselip jahe yang pedas di dalamnya.

Bagi laki-laki menikah itu tanggung jawab. Tanggung jawab lantaran udah bawa pergi anak orang. Bagaimana tidak, lha si istri itu kan tadinya milik mami papinya. Mami papinya yang membesarkannya. Mendidiknya dari kecil hingga dewasa. Mengusahakan pengobatan ketika sakit. Sampai rela lapar asal anaknya kenyang. Lha si cowok, kenal juga enggak dengan orang tua si cewek, trus gak bantu apa-apa buat membesarkan si cewek tahu-tahu dia datang ke orang tua si cewek terus mengatakan ingin meminang si cewek. Lha sebagai orang tua jelas was-was to mas. Anda ini siapa, kami belum kenal Anda. Nanti kalau anak yang sudah kami besarkan dengan susah payah ini kamu rawat  bahagia ndak dia? Nah lo... Berat euy tanggung jawab kepada istri. 

Menikah itu juga menyatukan dua wanita yang saling cemburu. Seperti yang ane singgung di atas tadi, dua wanita yang saling cemburu itu adalah ibu dan istri. Buktinya ane ngalamin sendiri. Belum nikah aja ibu sudah pesan kalau nyari istri wajib pengertian sama ibu ane juga. Ane mah setuju sama pesen ibu. Sebab bakti laki-laki sama ibu jauh lebih besar daripada kepada istri. Makanya ane support kenginan ibu yang demikian. Selain itu, wajar kiranya ibu juga cemburu. Sebab seperti halnya ibu si istri yang anaknya kita boyong tadi, ibu si suami pun merasakan hal yang sama. Beliau lah yang membesarkan sang pemuda hingga jadi tampan gagah perkasa. Beliau korbankan segenap jiwa raga dan air mata demi melihat putranya berjaya. Namun belum sempat jasa itu terbalas dengan bakti yang sempurna sang putra malah meninggalkannya memilih untuk merawat wanita lain. Wanita lain yang baru dikenalnya akhir-akhir ini. Ya begitulah lika-liku kehidupan. Makanya bagi para cowok gak usah kecakepan ente main pacar anak orang dah. Kasihan tu ibu ente, jasa belum terbalas bakti pun tak kau lakukan. Yang ada terus kau injak dia demi wanita yang belum halal bagimu. Na'udzubillah

So dengan kondisi begini sangat wajar bagi laki-laki seperti ane untuk tidak terburu-buru naik pelaminan. Ane masih pingin ngebahagiain orang tua ane dulu terutama ibu ane yang ingin melihat anaknya lulus kuliah. Walaupun ane gak akan menolak apabila takdir Allah mengharuskan ane menikah sebelum lulus kuliah namun tetap kalau belum ibu rela ya sebaiknya tunggu saja. Lagipula jalan hidup manusia siapa tahu. 

Wallaahua'lam bish showwab ane sekedar berbagi cerita.

Artikel terkait lain dengan



0 Reaksi Pembaca:

Posting Komentar

TERIMA KASIH ATAS KOMENTARNYA.

Entri Populer