Mari Berkarya, Mari Bercerita


Berkarya untuk kehidupan. Bercerita untuk menghidupkan



Dr: "Apakah Anda adalah seorang Hindu?"
P  : "Bukan, saya adalah favorit Anda, saya adalah atheis."
Dr: "Oh ya, favorit saya. Jika Anda adalah atheis maka saya ucapkan selamat kepada Anda?"
P : "Maaf ucapkan apa?"
Dr: "Saya ucapkan selamat kepada Anda."

Kira-kira begitulah petikan sebagian percakapan antara Dr. Zakir Naik dengan seorang penanya. Ketika sang penanya mengatakan bahwa dia adalah seorang atheis, serta merta Dr. Zakir Naik mengucapkan selamat kepadanya. Mengapa demikian?


Ketika manusia lahir, biasnya dia sudah mendapat identitas agama dari orang tuanya. Jika kedua orang tuanya adalah Islam, maka ia beragama Islam. Jika kristen maka ia beragama kristen dan seterusnya. Mayoritas manusia hanya menjadi pengikut buta agama Bapak-Ibunya, agama nenek Moyangnya tanpa mau berpikir apa sebenarnya esensi agamanya. Bagaimana hakikat ketuhanan tersebut. Apakah saya sudah berada pada agama yang tepat dan menyembah Tuhan yang tepat atau tidak? Sangat jarang ada yang mau berpikir seperti itu hingga istilahnya dia hanya ikut-ikutan saja. Istilahnya taklid buta.

Pujian Dr. Zakir Naik kepada atheis bukan karena membenarkan keyakinan mereka yang tidak menganggap tuhan itu ada melainkan karena mereka termasuk pada orang-orang yang memikirkan tentang keTuhanan. Mereka bukan termasuk pada orang-orang yang sekedar taklid buta kepada orang tuanya atau nenek moyangnya. Mereka berusaha mencari kebenaran hanya saja mereka masih tersesat dan kebingungan tentang keberadaan Tuhan itu sendiri.

Selain itu di dalam Islam -agama yang saya yakini kebenarannya dan dengan konsep keTuhanan paling logis di antara agama-agama lain- menetapkan syarat bagi orang-orang yang mau memeluknya dengan mengucakan kalimat Syahadat:

Asyhadu al-laa ilaaha illallaah wa asyhadu anna muhammadar-rasuulullaah.

Coba perhatikan kalimat syahadat Tauhid berikut: Laa ilaaha Illallaah
Kalimat tersebut terdiri dari dua rukun:
  1. An Nafyu: Meniadakan segala bentuk sesembahan yang haq yang patut disembah
    Menurut Dr. Zakir Naik, para atheis sudah memasuki fase ini. Fase dimana mereka telah menolak berbagai sesembahan yang bathil yang tidak patut untuk disembah. Di sini tinggal mengarahkan mereka saja kepada satu-satunya sesembahan yang haq yang patut untuk disembah, ialah Allah 'Azza Wa Jalla.

    Dr. Zakir Naik menyebutkan pula bahwa dia sering menghabiskan setengah waktu dialognya hanya untuk meyakinkan kepada penyembah Tuhan Bathil bahwa apa yang disembah itu adalah Bathil.
  2. Al Itsbat: Menetapkan Allah sebagai satu-satunya sesembahan yang haq dan patut disembah.
    Setelah menafikan segala bentuk sesembahan bathil maka selanjutnya adalah menetapkan bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang haq yang wajib untuk disembah.
    Untuk itulah banyak ulama menyebutkan bahwa untuk memperkuat Tauhid kaum muslimin, terlebih dahulu jauhkanlah mereka dari segala macam bentuk kesyirikan. Setelah itu arahkan mereka kepada Tauhid kepada Allah.

Ucapan selamat kepada atheis tidak dimaksudkan untuk membenarkan apa yang dia yakini namun sebagai ucapan selamat karena mereka bukan termasuk golongan orang-orang taklid buta dan mereka selangkah lagi lebih dekat kepada keyakinan bahwa Allah 'Azza Wa Jalla adalah satu-satunya Tuhan yang haq yang patut disembah oleh seluruh umat manusia.

Sekian semoga bermanfaat.

Artikel terkait lain dengan



0 Reaksi Pembaca:

Posting Komentar

TERIMA KASIH ATAS KOMENTARNYA.

Entri Populer