Mari Berkarya, Mari Bercerita


Berkarya untuk kehidupan. Bercerita untuk menghidupkan




Saya pernah membaca sebuah kisah. Kira-kira isinya begini...

Diceritakan bahwa ada seorang Syaikh yang terkenal memiliki ilmu agama yang dalam dan sangat dihormati. Suatu ketika selesai sholat berjamaah di sebuah masjid beliau menemukan seorang jamaah yang tidak sengaja menjatuhkan rokoknya. -Hukum merokok haram menurut jumhur ulama-. Sang Syaikh pun mengambil rokok tersebut dan diserahkanlah rokok tersebut kepada sang jamaah.



Kalau kita perhatikan di kisah tersebut ada kejanggalan. Kejanggalannya adalah kenapa Sang Syaikh malah mengembalikan rokoknya bukannya malah membuangnya? Ternyata jawabannya adalah bahwa Sang Syaikh khawatir jika ia membuang rokok tersebut si lelaki tadi akan membeli rokok yang baru yang diambilkan dari uang nafkah keluarganya. Subhanallah. Beginilah pandangan orang yang berilmu.

Pelajaran apa yang bisa kita petik?
  1. Andai Sang Syaikh tidak mengembalikan rokok tadi apakah sang lelaki akan begitu saja berhenti merokok? Besar kemungkinan tidak. Dia mungkin akan membeli barang haram itu lagi. Dan uang untuk membelinya, bisa adi dia ambil dari nafkah anak-istrinya.

    Inilah fenomena yang sering terjadi di kalangan perokok. Mereka biasanya lebih memilih untuk merokok dibanding mempersiapkan kebutuhan pendidikan anaknya atau kebutuhan istrinya bahkan mungkin kebutuhan teman-temannya akan udara segar. Sepatu anaknya rusak, mungkin masih bisa diganti bulan depan. Yang penting rokok hari ini masih ngebul. Yang penting lidahnya tidak pahit karena tidak menghisap rokok.

    Namun bila anaknya yang masih kecil merokok apa yang mereka lakukan? Mereka marah dan mati-matian melarang anaknya merokok. Andai rokok itu menyehatkan mengapa mereka melarang anak-anaknya merokok?

  2. Uang yang didapatkan dari kerja halal adalah uang halal. Maka sangat disayangkan bila uang tersebut harus digunakan untuk membeli barang haram. Akan lebih bermanfaat bila uang tersebut digunakan untuk menafkahi anak istri. Kalau dibelikan rokok? Bukannya badan makin sehat dosa pun menumpuk. Na'udzubillah.

  3. Karena yang memberikan rokok adalah seorang Syaikh yang dikenal tawadhu' dan memiliki ilmu agama yang dalam maka ini sekaligus menjadi teguran bagi si pemilik rokok. Mungkin bagi orang lain Sang Syaikh terkesan setuju dengan tindakan merokok namun bagi sang lelaki mungkin tidak. Dia mungkin merasa malu karena sang Syaikh mengetahui kalau dia merokok. Barangkali setelah kejadian ini Allah beri hidayah bagi sang lelaki agar dia tidak mengulangi perbuatan menghisap barang haram tersebut.

    Ibarat kata misal kita sedang main game di sekolah, kemudian wali kelas melihatnya tanpa sepengetahuan kita. Kemudian dia mengatakan "Gamenya bagus yah." kira-kira apa yang kita rasakan? Malu pastinya dan bagi yang akalnya masih sehat, tidak akan mengulanginya lagi di kemudian hari.
Inilah perbedaan pandangan orang-orang berilmu dan orang yang masih awam seperti saya. Barangkali jika saya di posisi Syaikh mungkin saya akan membuang rokok tersebut dengan pertimbangan menyelamatkan sang lelaki. Padahal bisa jadi sang lelaki malah memotong nafkah ke anak istri nya hanya agar terpuaskan hasrat merokoknya. Wallahua'lam bish-showwab manusia hanya berusaha melakukan yang terbaik dan Allah lah yang menentukan bukan?

Artikel terkait lain dengan



0 Reaksi Pembaca:

Posting Komentar

TERIMA KASIH ATAS KOMENTARNYA.

Entri Populer