Mari Berkarya, Mari Bercerita


Berkarya untuk kehidupan. Bercerita untuk menghidupkan



Waktu ane sekolah pelajaran yang paling ane males adalah menghafal. Yah apapun itu. Bahkan bisa dibilang sampe sekarang yang namanya pelajaran teori dan menghafal ane paling males. Pelajaran macam sejarah, IPS, geografi dan sebagainya. Entah kenapa mungkin karena jaman udah canggih jadi menghapal itu menjadi sebuah proses yang membosankan. Bagaimana nggak canggih, lha wong ada mbah google. Kalau lupa tinggal klik, ketik, klik. Ketemu deh. So ngapain pake menghapal segala. Hmmm....


Tapi justru sikap di atas bukan sikap yang tepat. Meghafal adalah proses belajar paling baik. Mengapa? Bisa dibilang manusia berilmu itu karena dia menyimpan ilmu di kepalanya. Dengan kata lain dia menghafal ilmu-ilmu yang bermanfaat yang sudah dia pelajari. 

Bukti nyata keajaiban memorizing adalah pada sosok teladan kita, manusia paling mulia, Rasulullah Shollallaahu'alaihi wa sallam. Setiap muslim pasti tahu bahwa Nabi Muhammad adalah sosok Nabi yang tidak Allah beri kemampuan membaca dan menulis. Namun di samping itu kemampuan hafalan beliau sangat hebat. Begitu wahyu turun, sekali diucapkan oleh malaikat Jibril, langsung beliau hafalkan dan sampaikan kepada umat. Seandainya Allah tidak mengkaruniai beliau dengan ingatan dan kemampuan memorizing yang kuat, apakah yang akan terjadi dengan agama ini?

Tidak hanya Nabi. Bahkan para sahabat Radhiallaahu'anhum adalah para penghafal yang hebat. Bukti konkrit kehebatan hafalan mereka adalah sampainya hadits-hadits Nabi kepada kita. Hadits Nabi diseleksi berdasarkan sanadnya (jalur periwayatannya). Bukan karena matannya (isi haditsnya). Di dalam sanad ada yang namanya perawi (yang meriwayatkan hadits). Para perawi ini selain diteliti aqidahnya ia juga diteliti hafalannya. Mana perawi yang kuat hafalannya (tsiqah) mana yang tidak. Mana yang hafalannya kuat jika ia bersama kitabnya mana yang tidak. Mana yang hafalannya kuat ketika ia berumur sekian namun hafalannya bercampur ketika menginjak usia sekian. Mana yang hafalannya buruk. Mana yang pendusta. Dan sebagainya. Dan hadits yang dinyatakan sebagai hadits sahih diantaranya memiliki syaratjalur periwayatannya kuat dan perawinya tsiqah.

Jika kita perhatikan lagi sejarah para Sahabat Nabi. Mengapa sampai sahabat Abu Bakr Radhiallaahu'ahu memiliki ide untuk mengumpulkan Al Quran yang ditulis di kulit-kulit, tulang-tulang, batu dan sebagainya? Ialah karena banyak sekali sahabat penghafal Al Quran meninggal dalam peperangan. Maka untuk menjaga Al Quran, Sahabat Khulafaur Rasyidin sepakat mengumpulkan Al Quran dan menyusunnya menjadi mushaf di zaman kekhalifahan sahabat Utsman Radhiyallaahu'anhu.

Selain itu, sebab Al Quran terjaga keasliannya semenjak 1400 tahun yang lalu di antaranya dengan banyaknya penghafal Al Quran di dunia ini Para penghafal itu selalu ada dari generasi ke generasi. Mereka para penghafal tidak hanya menghafal esensi Al Quran saja. Namun mereka menghafal hingga ke huruf-hurufnya sampai tanda bacanya. Jadi jika ada satu huruf pun yang salah di dalam Al Quran maka dengan serta merta akan ada yang mengkoreksi. Inilah wujud janji Allah yang akan menjaga Al Quran hingga akhir zaman dengan menganugerahkan kemampuan hafalan yang kuat kepada sebagian umat Islam agar senantiasa terjaga keaslian Al Quran hingga akhir zaman. Subhanallah...

Yap that is the miracle of memorizing. Setelah mengetahui hal tersebut maka ane ingin mengubah cara berpikir ane. Sebisa mungkin kita hafalkan ilmu-ilmu yang bermanfaat bagi kita. Kita ajarkan anak-anak kita kelak untuk menghafal. Dan semoga tulisan di atas memotivasi bagi saya dan Anda yang mungkin lagi kena penyakit "Alegi Hafalanix" hehehe....

Wallaahuta'ala a'lam jika ada koreksi silakan tinggalkan di komentar

Artikel terkait lain dengan



0 Reaksi Pembaca:

Posting Komentar

TERIMA KASIH ATAS KOMENTARNYA.

Entri Populer