Mari Berkarya, Mari Bercerita


Berkarya untuk kehidupan. Bercerita untuk menghidupkan


Api membara gelora menderap buana

bumi nusantara sang ibu pertiwi di atas tungku

dengan kayu-kayu jiran yang membarakan agni

mendidih

ya mendidih riak di otak anak-anaknya

siapa yang mau direndahkan?

inikah telur diujung perang?


Bukankah damai lebih indah? saudaraku?

tunjukan kepada dunia kita bukan bangsa bar-bar

Biar sikayu-kayu Jiran mengabu termakan api congkaknya

setelah abu sang kayu kita nikmati sajian hangat yang telah masak sedap

sang abu tetap menjadi abu, tak berguna

yang mendidih pun masak dan mengenyangkan rakyat-rakyatnya


Inilah suatu perjuangan

belati tajam nan indah tertempa oleh palu yang keras dan api membara

bukan berarti kita menyerah

inilah wibawa negara kita

berperang dengan keanggunannya


Baca Selengkapnya atau Berkomentar...

Sebuah nama sebuah cerita
Sebuah fatamorgana
dan ada aku di sana

Dan kuntum bunga ketiga semakin menampakkan durinya
sebuah racun saraf
membuat lemas
lemah
kemudian terbunuh
dan

Sebuah ambiguitas sarkasme menderu dera
ketika sinestesia dihiperbolakan setinggi-tingginya
dan ironi sebagai puncaknya
semua berhulu dari kuntum bunga ketiga

aarrgghh... (*mengumpat sejadi-jadinya*)



Baca Selengkapnya atau Berkomentar...

Kuntum bunga ketiga yang mekar.
Semerbak wanginya.
Menari-nari si anak bayu.
Hendak membawa kelopaknya mengepak mengarak padamu.
Aku tahan.
Jika ini hanya fatamorgana waktu duha.
Kan kutelan durinya hingga sang bunga layu.
Jika suatu hari mekar kembali ku tak ragu tuk merawatnya kembali.

Baca Selengkapnya atau Berkomentar...

Dan bagaimana kau dengar nyanyian alam?

Semilir bayu hilir merayu rayu

Kicau macau mengacau akar bakau kau

Atau

Lewat dongeng manusia manusia lampau

Prasasti-prasasti bercerita

Candi candi bernyayi


Mampukah kau dengar nyanyian alam?

Tidak?

Kau tak dengar tak berarti tuli

Kau tak mendengar nyanyiannya

Karena kini ia tengah menangis


Baca Selengkapnya atau Berkomentar...

Entri Populer