Mari Berkarya, Mari Bercerita


Berkarya untuk kehidupan. Bercerita untuk menghidupkan

Setiap tanggal 28 Oktober, bangsa Indonesia memperingati suatu hari bersejarah. Di mana pada tanggal yang sama, delapan puluh satu tahun yang lalu, puluhan pemuda dari berbagai wilayah Nusantara berkumpul dan mencanangkan suatu sumpah yang sangat terkenal, yakni Sumpah Pemuda. Bagi Indonesia, Sumpah Pemuda adalah batu loncatan awal menuju kemerdekaan. Peristiwa Sumpah Pemuda membuktikan betapa besar semangat pemuda Nusantara untuk bersatu dalam satu kesatuan, satu pemerintahan, satu wilayah yaitu NKRI.

Pada tanggal 28 Oktober 1928, puluhan pemuda delegasi beberapa wilayah NKRI mengadakan Kongres Pemuda II yang menghasilkan Sumpah Pemuda. Adapun isji dari sumpah tersebut adalah;

1. Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe bertoempah darah satoe, Tanah Air Indonesia.

2. Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa satu, bangsa Indonesia.

3. Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Tiga poin penting sumpah tersebut memiliki makna yang dalam. Sumpah Pemuda telah menjadi semangat bagi pemuda Indonesia untuk lebih keras menggapai kemerdekaan. Lihat saja, belum juga Indonesia merdeka namun pemuda dan pemudinya sudah mengakui bahwa Tanah Air mereka adalah Indonesia, bangsanya bangsa Indonesia dan bahasanya bahasa Indonesia. Inilah sikap nasionalisme yang sehaarusnya dimiliki oleh pemuda Indonesia agar Indonesia semakin jaya, bukannya malah semakin terpuruk karena ulah bangsa sendiri. Bukankah keberlangsungan suatu negara bergantung pada pemudanya?

Karenanya marilah kita pahami dan resapi bersama perihal Sumpah Pemuda tersebut, agar bangsa ini lepas dari penjajahan bangsa sendiri serta mampu menangkal pengaruh luar yang meruntuhkan ideologi serta rasa nasionalisme kita.

Sumpah Pemuda terdiri dari tiga baris. Baris pertama menegaskan bahwa pemuda Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, Tanah Air Indonesia. Makna bertumpah darah adalah berjuang atau berbuat dengan sungguh-sungguh. Berjuang berarti memperjuangkan sesuatu, misal memperjuangkan hidup, memperjuangkan nafkah dan sebagainya. Makna berbuat pun demikian. Kemudian kata bertumpah darah dihubungkan dengan Tanah Air yang berarti kempung halaman, tempat tinggal dan sebagainya. Ini menegaskan apabila perjuangan dan perbuatan yang kita laksanakan akan kita lakukan di Indonesia dan untuk Indonesia. Perjuangan dan perbuatan tersebut adalah tanda cinta kita bagi Indonesia.

Perlakuan yang sesuai dengan baris pertama Sumpah Pemuda antara lain; Mengharumkan nama Indonesia di mata Internasional, menjaga alam dan lingkungan Indonesia, menghargai sejarahnya dan berusaha menjadi yang terbaik bagi dirinya, keluarganya dan bangsanya.

Baris kedua menerangkan bahwa pemuda dan pemudi Indonesia hanya mengakui satu bangsa bagi dirinya yakni bangsa Indonesia. Bukannya bermaksud merendahkan bangsa lamin namun seharusnya pemuda Indonesia bangga dengan bangsanya sendiri apapun yang terjadi. Karenanya sikap ini hendaknya ditanamkan pada pemuda Indonesia sejak dini.

Mencintai bangsa sendiri juga diwujudkan dengan mencintai budaya bangsa. Kini banyak pemuda Indonesia yang mulai teracuni budaya bangsa asing. Bukannya melarang namun sebagai pemuda berkualitas hendaknya pemuda Indonesia tidak hanya menjadi peniru saja namun harus mampu menjadi filter yang mampu menyaring mana budaya yang baik dan mana budaya yang buruk.

Sikap yang sesuai dengan baris kedua Sumpah Pemuda antara lain; Melestarikan budaya Indonesia; tidak mudah meniru budaya asing, terutama budaya yang bersifat negatif; bangga dengan bangsanya; Selalu menjaga nama baik Indonesia; anti KKN dan sebagainya.

Baris ketiga dari Sumpah Pemuda adalah baris yang unik. Pada baris ke tiga ini pemuda Indonesia menggunakan kata ‘menjunjung’ bukan ‘mengaku’ seperti dua baris sebelumnya. Selain itu pada baris ketiga ini, pemuda Indonesia menggunakan istilah ‘bahasa persatuan’. Lantas apa maknanya?

Kalau saja pemuda Indonesia menggunakan kalimat - Kami poetra dan poetri indonesia mengakoe berbahasa satoe, bahasa Indonesia. - pada baris ketiga Sumpah Pemuda maka bagaimana reaksi bangsa Indonesia? Tentu saja marah. Karena kalimat seperti ini mengandung permintaan untuk hanya menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa bangsa Indonesia. Hal ini tentu saja bertentangan dengan baris pertama dan kedua. Selain itu kalimat tersebut hanya mengandung tujuan menjadi pemuda Indonesia, sama seperti baris pertama dan kedua Sumpah Pemuda. Ini akan menimbulkan kesan jika bangsa Indonesia harus bertumpah darah, berbangsa dan berbahasa Indonesia tanpa tahu bagaimana cara mencapai hal tersebut. Karenanya rumusan baris ketiga Sumpah Pemuda ditulis dengan kalimat ‘Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoenjoeng tinggi bahasa persatoean, bahasa Indonesia.’

Sekarang pertanyaannya adalah, apa makna baris ketiga Sumpah Pemuda tersebut? Mari kita analisa. Kalimat ‘Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoenjoeng tinggi bahasa persatoean, bahasa Indonesia.’ Menggunakan tiga kata kunci, yakni; mendjoenjoeng tinggi, bahasa persatoean dan bahasa Indonesia.

‘Menjunjung tinggi’ berarti mengangkat sesuatu dan memosisikannya pada kedudukan yang tinggi. Menjunjung tinggi adalah istilah yang berarti menempatkan sesuatu lebih tinggi dibanding yang lain. Kemudian diterangkan pada kata selanjutnya bahwa apa yang harus dijunjung. Sesuatu yang harus dijunjung tinggi adalah bahasa persatuan. Bahasa persatuan adalah bahasa yang sifatnya mempersatukan. Mempersatukan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Kemudian diterangkan bahasa apa yang dimaksud, yakni bahsa Indonesia. Jadi baris ketiga Sumpah Pemuda bermakna, pemuda Indonesia bersumpah menempatkan bahasa Indonesia lebih tinggi dibanding bahasa-bahasa lain serta menjelaskan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa pemersatu bangsa.

Selain itu, dari baris ketiga dapat ditarik makna lagi bahwa dengan menjunjung tinggi bahasa persatuan yakni bahasa Indonesia berarti secara tidak langsung juga mencintai Tanah Air dan bangsa. Sehingga ada rasa kesatuan antara seorang pemuda dengan bangsanya dan Tanah Airnya. Dengan kata lain, cinta bahasa berarti cinta bangsa dan cinta Indonesia.

Menjunjung tinggi bahasa Indonesia dapat dilakukan dengan mempelajari bahasa tersebut, kemudian melestarikan dan menaganya agar tidak punah termakan zaman. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar pada saat yang tepat dan tidak asal-asalan dalam menggunakan bahasa.

Saat ini banyak pemuda Indonesia yang lebih senang menggunakan bahasa prokem dibandingkan dengan bahasa Indonesia. Meski perbuatan ini tidak dilarang oleh pemerintah dan dari balai bahasa pun menyatakan jika bahasa ini nantinya akan pudar seiring pertambahan usia, toh kalau pemudanya saja awam dengan bahasa Indonesia bagaimana nanti kalau sudah tua? Ingin seperti wakil rakyat sekarang yang kebanyakan bahasanya amburadul?

Karenanya mari renungkan kembali semangat pemuda Indonesia sebelum kemerdekaan dahulu. Kemudian terapkan pada diri kita. Mulai dari sekarang mari cintai bahasa kita, cintai bangsa kita dan cintai Tanah Air kita. Kemudian kita ciptakan kehidupan masyarakat madani dengan semangat nasioanlisme yang tinggi dan bebas dari penyakit bangsa. Selamat memperingati hari Sumpah Pemuda.


Artikel terkait lain dengan



8 Reaksi Pembaca:

sayang sekali jika ruh sumpah pemuda dirayakan dan diresapi hanya pada tanggal 28 oktober, setelah berubah tanggal berubah pula ruhnya..

saya melihat di televisi saat diwawancarai para pemuda banyak yang tidak hafal isi dari sumpah pemuda, dan para media memandangnya miris dan merasa kecewa. lantas apakah dengan menghafal isi sumpah pemuda para pemuda dapat diacungi jempol dan dibanggakan dan apakah wajib hukumnya menghafal teks sumpah pemuda. kalau menurut saya sebenarnya yang harus dipertanyakan adalah ruh dari sumpah pemuda itu sendiri bukan hanya sekedar teks.bagaimana pemuda mengartikan dan memaknai dari inti saru sumpah pemuda dan melanjutkan perjuangan para pemuda terdahulu dalam memelihara bangsa dan negara, tapi sebuah peringatan hanya diperingati saja selebihnya ikutan saja..

maaf mas, saya sudah mengotori kotak komentarnya..heheh

salam

Saya setuju dengan pendapat mas Sigit. Itulah inti dari tulisan saya. Tidak harus hafal namun paham. Seseorang yang memahami suatu hal, secara tidak langsung akan menghafalkan hal tersebut, bahkan di luar kepala. Semangat sumpah pemuda boleh hanya pada tanggal 28 Okt, namun semangat nasionalisme jangan pernah luntur. Sebagai tulang punggung, pemuda Indonesia tidak boleh loyo dan harus selalu tegar.

Sebelumnya ane sendiri harus menginstropeksi diri (benarkah tulisannya?) karena ane sendiri termasuk pemuda tapi selama ini masih bersikap sebagaimana remaja pada umumnya...

pada kenyataannya, sudahkah para pemoeda (baca: saya) menjunjung tinggi bahasa persatuan itu. saya kira belum....

bagus sekali isi beritanya
namun tolong dikoreksi kata-kata Sumpah Pemuda di atas
apakah sudah sesuai dengan naskah aslinya.?
terimakasih

Posting Komentar

TERIMA KASIH ATAS KOMENTARNYA.

Entri Populer