Mari Berkarya, Mari Bercerita


Berkarya untuk kehidupan. Bercerita untuk menghidupkan

Malam grand final kontes bergengsi "Pemilihan Puteri Indonesia 2009" telah diselenggarakan pada tanggal 9 Oktober 2009. Kontes yang telah diadakan empat belas kali ini mengusung tema "Pancarkan Cantikmu Melalui Karya Bagi Negeri dan Pelestarian Persada Nusantara".

Kontes ini diikuti oleh 38 peserta dari 33 provinsi di Indonesia. DKI Jakarta adalah pengutus peserta terbanyak yakni sebanyak enam finalis Puteri Indonesia berasal dari Jakarta. Kontes tersebut berlangsung ketat dengan mengerucutkan peserta yang semula berjumlah tiga puluh delapan menjadi sepuluh kemudian lima kemudian puncaknya ketika hanya tersisa tiga peserta yang salah satunya siap dinobatkan sebagai Puteri Indonesia 2009.

Pada akhirnya gelar Puteri Indonesia diraih oleh wakil dari Nangroe Aceh Darussalam yakni Qory Sandrioriva. Kemudian disusul wakil dari Sumatera Barat, Zukhriatul Hafizah dan Isti Ayu Pratiwi sebagai runner up ke 2 dan merupakan perwakilan dari Maluku Utara.

Qory Sandrioriva
Qory Sandrioriva, Perwakilan NAD
sumber gambar http://www.kabarindo.com/photo/Qory%20Sandioriva.jpg

Kontes yang diselenggarakan oleh Yayasan Puteri Indonesia ini merupakan kontes bergengsi dan dapat dikatakan sebagai kontes bertaraf nasional. Peserta yang terpilih sebagai Puteri Indonesia pun nantinya akan mengemban tugas kenegaraan diantaranya menjadi duta bangsa dalam berbagai aspek permasalahan terutama dalam hal pengenalan budaya Indonesia di mata dunia.

Namun sayangnya ada satu kekurangan yang menurut saya cukup menurunkan kualitas acara tersebut. Kekurangan tersebut adalah bahasa pengantar yang dipergunakan pembawa acara ternyata bukan bahasa Indonesia baku melainkan bahasa santai yang sering dipakai remaja zaman sekarang untuk berkomunikasi. Akibat penggunaan bahasa non baku tersebut, malam final pemilihan Puteri Indonesia 2009 terkesan tidak serius dan main-main. Terlebih lagi tamu undangan yang hadir sebagian adalah pejabat negara. Seharusnya bahasa yang dipergunakan adalah bahasa Indonesia yang baik dan benar dan sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan.

Sungguh tidak masuk akal apabila acara yang menghasilkan duta bangsa promotor budaya serta bahasa Indonesia ke dunia Internasional malah menggunakan bahasa non baku sebagai bahasa pengantarnya.

Ya, kita hanya bisa berharap semoga pada kontes bergensi tahun depan lebih baik dari kontes tahun ini. Acara perhelatan bertaraf nasional dan menyangkut negara seperti ini seharusnya dilaksanakan dengan serius dan formal agar hasil yang didapat juga maksimal. Namun dibalik itu semua, kita mengharapkan pemenang kontes tersebut dapat mengemban tugasnya dengan baik.

Bagaimana menurutmu?


Artikel terkait lain dengan



11 Reaksi Pembaca:

malah kadang ada puteri yang lebih fasih pake bahasa asing daripada bahasa Indonesia. Jadi ga enak kan Puteri Indonesia tapi tidak berbahasa Indonesia, sayang banget.

betul sekali sahabat
kontes sekelas nasional harusnya menggunakan bahasa yang baku dan indonesia yang benar

setuju! bahkan mungkin seharusnya wawasan kebahasa-Indonesiaan juga dijadikan aspek penilaian!

Kontes2an seperti itu cenderung 'wah' kalau salah satu kontestannya pandai atau cakap berbahasa asing. Sedangkan bahasa daerah dimana mereka mewakili propinsi sendiri malah seadanya. Padahal mereka bisa ditanyakan apakah mereka benar dari propinsi yang bersangkutan dan tahu masalah budaya daerah atau hanya numpang hidup saja. Itu yang terpenting sehingga mereka tahu bahwa mereka mewakili Indonesia, bukan negara lain. Ya, saya sangat setuju kalau bahasa Indonesia dijadikan hal yang penting sebagai komunikasi pada ajang tersebut. Tapi ....

menurutku sih gak ada masalah jadi Puteri Indonesia... Asalkan tampil sopan dan tidak porno. Kayak Miyabi...
Hahahaha

setuju banget.
smalem pas nonton terasa ada yang ganjal.
sempet kesel
ternyata memang salah pemilihanya.
pembahasan yang bagus shidiq.
semoga tahun depan gak begitu

Kalo menurut saya, acara PPI kemarin kurang persiapan...
Dalam membawa acara, pembagian'x kurang merata...
Jadi kadang kala terjadi tabrakan pasa saat berbicara...
Yang satu ngomong, eh..tiba2 satunya lagi juga ngomong...

@ rai (YAK)

Iya betul. Ini seharusnya menjadi perhatian panitia penyelenggara. Semoga di tahun depan kompetisi ini memasukkan pengetahuan kebudayaan dan kebahasaan sebagai salah satu poin uji bagi finalis.

@ sobatsehat
Ini bukan hanya kontes bertaraf nasional. Bahkan kontes ini sudah menjadi tradisi nasional dan bersifat formal.

@ firyan
Ya, mari berharap semoga tahun depan demikian.

@ Bang Aswi
Sebagian kontestannya berdarah campuran antara darah Indonesia dan asing, jadi mungkin mereka kurang menguasai dalam hal bahasa daerah. Kemudian penggunaan bahasanya memang hendaknya baku karena kontes ini dihadiri petuinggi negara juga. Dan maaf kenapa komentar Bang Aswi terputus ya?

@ akhatam
Gelar puteri Indonesia adalah gelar bergengsi yang sering diidam-idamkan remaja puteri di Indonesia. Nilai moral dan kepribadian memang harus baik agar masayarakat simpati dan mendukung.

@ Bayu Sutrisno
Ya memang, aku juga merasa aneh karena MC-nya terkesan kurang serius dan kurang siap.

@ Zippy
Sepertinya memang kurang persiapan. Ya semoga kontes serupa berikutnya lebih matang mempersiapkan acaranya.

saya kok memiliki kesan yang berbeda, ya, mas. kontes seperti ini sesungguhnya sesuatu yang bagus, asalkan tidak ada niatan tersembunyi di balik moment seperti ini. apa pu motifnya, perempuan memang memiliki "daya jual" tinggi, lebih2 di mata kaum kapitalis.

benar mas, sepertinya "derajat" acara tersebut turun karena penggunaan bahasa Indonesia yang terkesan semaunya. Setuju sekali bila aspek kebahasaan (bahasa Indonesia tentunya) dimasukkan sebagai salah satu poin uji

Posting Komentar

TERIMA KASIH ATAS KOMENTARNYA.

Entri Populer