Mari Berkarya, Mari Bercerita


Berkarya untuk kehidupan. Bercerita untuk menghidupkan

Media massa adalah sarana pengembangan dan penyerapan bahasa secara langsung. Hal ini terjadi karena saat ini media massa sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia. Misalnya koran, majalah, radio, televisi dan sebagainya.

Salah satu jenis media massa adalah media cetak yang kini cukup banyak jenisnya. Misalnya koran, tabloid, majalah dan sebagainya. Penyebarannya pun luas dan cepat. Hal ini disebabkan karena masih banyaknya bangsa Indonesia yang memiliki kebiasaan membungkus makanan atau benda-benda tertentu dengan menggunakan koran bekas atau majalah bekas. Hal ini tentu saja membawa dampak positif karena kini masyarakat di pelosok pun dapat menikmati berita dan informasi dari surat kabar meski tidak lengkap.

Di sisi lain, peran surat kabar yang begitu dekat dengan masyarakat pun membawa dampak negatif yang cukup besar. Dewasa kini ditemukan banyak sekali istilah kata yang penulisannya berbeda antara surat kabar yang satu dan surat kabar yang lain cukup mengancam dan sewaktu waktu dapat merusak kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Untuk lebih jelasnya simak berita yang saya kutip dari www.kompas.com yang diterbitkan pada tanggal 30 Oktober 2008 yang berjudul Ketidakseragaman Istilah di Media Massa Merusak Bahasa Indonesia

==========================
++++++++++++++++++++++++++
==========================

JAKARTA, KAMIS - Dalam fungsinya sebagai media pendidikan, media massa berkewajiban memasyarakatkan bahasa Indonesia. Media harus menjadi teladan dan pelopor dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Namun, dalam praktiknya, banyak yang mengingkari. Tidak semua media cetak punya acuan dalam pembakuan kosa kata dan istilah. Ketidakseragaman istilah dapat merusak bahasa Indonesia.

Demikian benang merah diskusi kelompok tentang Bahasa Media Massa dalam Kongres IX Bahasa Indonesia, Kamis (30/10) di Jakarta. Topik ini menjadi pembahasan paling diminati peserta, dibanding pembahasan topik lainnya. Tampil sebagai narasumber Sekretaris Jenderal Persatuan Wartawan Indonesia Hendry CH Bangun, Sastrawan dan Redaktur Harian Republika Ahmadun Yosi Herfanda, dan pakar IT dari Universitas Gadjah Mada Roy Suryo.

Hendry mengatakan, di dalam organisasi media massa tidak selalu ada fungsi atau peran penyelaras bahasa. Apalagi setelah eforia reformasi, kedudukan penyelaras bahasa tidak lagi menjadi semacam kewajiban. Akibatnya, bahasa media massa dewasa ini dapat dikategorikan sebagai memprihatinkan.

Mencermati data Biro Pusat Statistik (2005), penduduk usia 15-24 tahun sebanyak 40,224 juta, membuat pengelola media massa menjadikan remaja/pemuda sebagai target pembaca dan konsumen iklan. Untuk memikat mereka, bahasa yang digunakan disesuaikan dengan dunia mereka. C enderung menjauh dari bahasa Indonesia baku. Misalnya istilah, ungkapan, kata yang digunakan pasti yang sedang ngetren , katanya. Jadi, ada kesengajaan untuk menggunakan bahasa yang tidak baku agar sesuai dengan target pembaca muda.

Hendry menilai, karena ada sekitar 70 persen dari 851 media yang kurang sehat dan tidak sehat menurut data Dewan Pers (2006), sulit diharapkan peran itu dapat dilakukan dengan baik.

Senada dengan Hendry, Ahmadun mengatakan, bahasa jurnalistik sebenarnya hanya dipakai pada tulisan-tulisan yang masuk dalam kategori fakta. Akan tetapi, sistem pengejaannya juga diberlakukan pada kelompok opini dan fiksi melalui editing yang dilakukan oleh redakturnya.

Posisi bahasa pers harus berinduk dan merujuk pada bahasa Indonesia standar/baku. Ia juga guru bahasa bagi masyarakat. Pelopor penyerapan bahasa asing dan daerah serta pembakuannya ke dalam bahasa Indonesia. "Namun, bahasa pers juga bisa sebag ai perusak bahasa Indonesia, karena keliaran pengingkarannya terhadap sistem pembakuan bahasa Indonesia," katanya.

Ahmadun sempat menampilkan sejumlah kata, yang di banyak media masih belum seragam memakainya. Bahkan, kesalahan yang terjadi jumlahnya jutaan. Seperti kata salat dipakai 270.000 kali, shalat (1.380.000), sholat (1.139.000). Ustaz (2.470.000), ustad (3.110.000), dan kata ustadz (681.000). Wudu (9.340), wudlu (59.300), wudhu (151.000). Kata gender (924.000) dan jender (76.000). Obyek (1.840.000), objek (1.890.000), obyektif (290.000), objektif (432.000). Iven (290.000), even (6.650.000) dan kata event digunakan 6.650.000 kali.

Menurut Ahmadun, terjadinya perbedaan penggunaan kata itu karena perbedaan pedoman pembentukan istilah atau penyerapan bahasa asing antara Pusat Bahasa dan kalangan pers. Perbedaan cita rasa yang hendak dilekatkan pada istilah asing yang diserap ke dalam bahasa Indonesia. Anggapan dari kalangan pers bahwa pusat bahasa lamban dalam menyerap dan membakukan bahasa asing ke bahasa Indonesia, sehingga kalangan pers melakukan pembakuan secepatnya dengan cara masing-masing yang berbeda.

"Sedang Roy Suryo mengkhawatirkan bahasa tulis di telepon selular (SMS, EMS, MMN, 3G), yang penggunanya di Indonesia mencapai 116 juta. Telepon selular luar biasa merusak bahasa Indonesia. Begitu juga pengguna internet, juga banyak yang merusak bahasa," katanya.

Kepala Pusat Bahasa Depdiknas Dendy Sugono mengatakan, sebenarnya pembakuan istilah dan pengindonesiaan kata dan ungkapan asing sudah lama dilakukan oleh Pusat Bahasa, namun kalangan pers jarang menggunakannya.

"Ada 405.000 kata dan ungkapan asing dalam berbagai bidang ilmu yang sudah dibakukan dan ada 182.000 dalam proses penyelarasan. Walaupun telah dilakukan pengembangan per istilahan, masyarakat masih merasakan banyak kata bahasa asing yang belum memiliki padanan dalam bahasa Indonesia, terutama kata umum yang banyak digunakan dalam komunikasi bidang teknologi dan perniagaan," jelasnya.

Menurut Dendy, sejalan dengan laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, pemanfaatan bahasa asing, khususnya bahasa Inggris, untuk memperkaya bahasa Indonesia, tetap diperlukan sebagai sumber kata dan ungkapan yang emuat konsep baru. Namun, penyerapan kata asing yang sudah ada padanannya dalam bahasa Indonesia sebaiknya dihindari. Untuk menopang upaya tersebut, Pusat Bahasa pata tahun 1995 telah menerbitkan buku Pedoman Pengindonesiaan Nama dan Kata Asing.

Yurnaldi

==========================
++++++++++++++++++++++++++
==========================

Dengan berita ini diharapkan media massa khususnya surat kabar dapat meluruskan kembali kaidah kebahasaan dengan acuan yang jelas karena hal ini menyangkut keberadaan dan kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara Republik Indonesia sekaligus bahasa persatuan bangsa.


Artikel terkait lain dengan



22 Reaksi Pembaca:

pertama,
artikel yang menjawab pertanyaan gue kemaren,
lengkap.
makasih shidiq

Alhamdulillah kalau sudah menjawab pertanyaannya Sob. Terima kasih Sob. Tetap eksis berkarya untuk bangsa.

ketidak seragaman ini juga semakin membuat masyarakat semakin bingung. bingungnya masyarakat juga berdampak pada asumsi yang berbeda-beda terhadap satu kata. asumsi ini mestinya kita perbaiki dengan menyatukan kata. satu kata satu bahasa yaitu bahasa indonesia yang benar

Setuju dengan sobatsehat Memang hendaknya media tersebut sadar atau disadarkan oleh yang lebih tinggi. Misalnya pemerintah dengan menerbitkan undang-undang.

tapi jadi bingung juga. saat memakai kata yang baku, artikel jadi terasa kurang menarik bagi anak muda.

atau ada cara supaya artikel dengan bahasa baku tetap tidak berkesan 'lama'?

@Firyan
Maksudnya lama?
Menurut saya, salah satu cara untuk membuat artikel terkesan menarik namun tetap menggunakan bahasa baku adalah dengan mengurangi kata-kata serapan yang tidak populer. Gunkan gaya bahasa santai dan juga gunakan kalimat yag efektif.

Eh..ia, bener banget...
Sekarang banyak banget yg tidak menempatkan bahasa sebagaimana mesti'x...
Tapi kalo sms gue rasa emang aneh kalo mengikuti kaidah bahasa yang benar, yakni menggunakan bahasa baku...
Rasa ganjil, heheh...

@Zippy
Memang saat ini banyak yang menyelewengkan bahasa.

Untuk bahasa SMS kapan-kapan kita bahasa yuk.

bagaimanapun.. semua bentuk media yang merusak harga diri bangsa harus di brantas saja...
betul kan pak ?? ehhehe

@aldrix -the brandals
Wah saya kurang setuju kalau main berantas aja. Kalu bisa diperbaiki, kenapa tidak? Ini lebih demokratis.

Media masa? wah... berarti wartawan punya saham juga dalam merusak bahasa Indonesia :D

Sebenarnya tak hanya wartawan saja... namun masih banyak pihak-pihak lain yang berpotensi merusak kaidah bahasa Indonesia.

wauh, rumit juga masalah kebahasaan.
jadi istilah apa yang benar-benar tepat untuk digunakan? yang mana? selama ini ga ada yang ngasih tau soal ketetapan istilah, keseragaman istilah.

Menurutku istilah yang benar adalah istilah yang sesuai dengan EYD.

Pe-eR yang susah .. menyeragamkan istilah / standarisasi bukanlah hal yang mudah dan cepat .. jika sudah ada yang dijadikan acuan, maka persoalan yang muncul berikutnya adalah siapakah yang mengontrol / memastikan bahwa penggunaan istilah itu sudah sesuai dengan acuan yang dibuat ..


Iklan Baris

Bisa jadi teknologi telah merusak bahasa (HP dan internet), tetapi terlalu dini jika kita hanya bisa menyalahkan teknologi. Mungkin kewajiban kitalah yang memahami hal itu untuk meluruskannya ...

teknologi punya dua sisi, baik dan buruk. penggunaan internet mungkin akan melakukan pemendekan bahasa, tapi itu justru memperkaya bentuka pemendekan bahasa itu sendiri.
dan untuk laras bahasa jurnalistik, itu memang berbeda dengan laras bahasa ilmiah. karena keduanya memiliki akrakteristik yang khas.
kebetulan, saya juga membahasa tentang pemendekan bahasa, dan tatabahasa sebagai evaluasi informasi yang di dalamnya ada perbedaan antara laras ilmiah dengan bahasa jurnalistik

@Bang Aswi
Yak memang benar. Menyalahkan teknologi memang hal yang sia-sia, toh yang berada di balik layar teknologi manusia juga. Karena itu saya setuju dengan komentar Bang Aswi bahwa kewajiban kita untuk memahami dan menyadarinya.

@Ahmad-Yunus
Mungkin memang perlu kajian khusus mengenai hal ini. Namun meski laras bahasanya berbeda penggunaan kata-katanya harus seragam agar tidak menimbulkan rasa bingung masyarakat mengenai istilah bahasa. Benarkan?

Poskan Komentar

TERIMA KASIH ATAS KOMENTARNYA. PAKAI SMILLEY AGAR LEBIH INTERAKTIF

Entri Populer