Mari Berkarya, Mari Bercerita


Berkarya untuk kehidupan. Bercerita untuk menghidupkan

Perhatian!

Artikel ini bukan dimaksudkan untuk menyerang pihak-pihak tertentu

melainkan untuk memotivasi kita agar lebih cinta bahasa Indonesia.

Akhir-akhir ini, bangsa Indonesia tengah diuji seberapa besar rasa cintanya terhadap tanah air. Bagaimana tidak, kini telah banyak produk budaya yang berasal dari Indonesia diklaim oleh negara lain. Sebut saja Reog Ponorogo, lagu daerah rasa sayange, dan batik yang sudah terakui milik bangsa lain. Selain itu tari Pendhet dan rendang(makanan khas Sumatera Barat) juga diisukan akan diklaim oleh negara lain. Parahnya lagi, bahasa nasional kita, bahasa Indonesia pun turut masuk dalam daftar klaim budaya mereka.

Salah satu kedudukan bahasa Indonesia adalah sebagai bahasa nasional bangsa kita. Dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia berperan sebagai lambang kebanggaan nasional dan lambang identitas nasional. (pengertian lebih lanjut dapat dibaca di sini.)

Awal mula bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu Riau. Bahasa Melayu terbentuk pada masa perdagangan di mana pada masa itu, berbagai bangsa di dunia berlomba-lomba memperdagangkan produk mereka di tanah Malaka. Karena banyaknya suku bangsa yang berdagang di sana, secara otomatis bahasa yang dipergunakan pun beragam. Karena banyaknya bahasa, bangsa-bangsa tersebut bingung, bagaimana caranya berkomunikasi efektif antar pedagang. Oleh karenanya, bahasa Melayu dibentuk dengan mengambil kata-kata terbaik dari bahasa bangsa-bangsa di sekitarnya. Jadi bahasa melayu bukan milik salah satu negara saja, karena bahasa ini dibentuk oleh pedagang-pedagang di masa lampau.(Sejarah bahasa Indonesia lebih lanjut dapat dibaca di sini.)

Sejarah perkembangan bahasa Indonesia sangatlah panjang. pada masa sebelum Sumpah Pemuda diikrarkan, dengan mati-matian pemuda Indonesia memperjuangkan persatuan Indonesia. Mereka berpikir bagaimana caranya mempersatukan Indonesia dibawah satu ikatan mutlak. Proses tersebut berlangsung cukup lama hingga akhirnya pada kongres pemuda kedua tanggal 28 Oktober 1928 pemuda Indonesia resmi mengikrarkan persatuan Indonesia yang ditandai dengan Sumpah Pemuda dimana salah satu isinya adalah menjunjung tinggi bahasa persatuan bahasa Indonesia.

Pada masa pemerintahan orde baru penggunaan bahasa non baku sangat dibatasi. Terutama di media-media. Pada masa itu, pemerintah hampir tidak memberikan ruang gerak bagi bahasa daerah di televisi, ini menegaskan seakan-akan pemerintah benar-benar memperjuangkan nasionalisme dengan salah satu cara yakni diwujudkan dengan mencintai bahasa nasional, bahasa Indonesia. Akibatnya jelas, bahasa Indonesia hampir tak bergeser kedudukannya di masyarakat.

Kini justru dimasa reformasi dimana pembatasan berpendapat dan berekspresi sudah dihapuskan, sedikit demi sedikit posisi bahasa Indonesia di masyarakat mulai bergeser dan digantikan bahasa gaul yakni bahasa yang tercipta dari akulturasi bahasa Indonesia dengan bahasa prokem yang kini tengah berkembang pesat.

Saat ini hampir semua tayangan di media televisi menggunakan bahasa prokem yang mana asal mulanya adalah bahasa sandi kaum preman. Kalau pun ada yang menggunakan bahasa baku, paling hanya sebatas pada program berita dan kartun impor yang dialih bahasakan. Namun bagaimana dengan sinetron asli Indonesia? Sinetron-sinetron yang kini marak di Indonesia justru lebih suka memilih bahasa non baku sebagai bahasa pengantar cerita. Padahal tak sedikit anak-anak di bawah umur menyaksikan sinetron-sinetron tersebut. Kalau hal ini dibiarkan terus-menerus, bukan mustahil kalau anak-anak tersebut di masa depan menjadi awam dengan bahasa nasional kita dan merasa acuh untuk melestarikannya. Hal ini akan mengakibatkan berkurangnya jiwa nasionalisme sehingga berkuranglah rasa cinta bangsa kepada negara.

Selain itu kebanyakan MC atau pembawa acara program di televisi pun tak mau ketinggalan. Dengan dalih bahwa program tersebut adalah programnya remaja, mereka kesampingkan bahasa Indonesia. Mereka lebih suka menggunakan bahasa gaul. Bahkan tak sedikit di antara pembawa acara tersebut yang tidak mampu sama sekali berbahasa Indonesia yang baik dan benar.

Pemerintah pun seakan tutup mata menyaksikan hal ini. Entah dengan dalih kebebasan berpendapat atau berekspresi, pemerintah tak lagi ambil pusing mengenai masalah ini. Penggunaan bahasa gaul dan bahasa prokem sudah tidak dibatasi. Bahkan kini bahasa tersebut tak hanya berkembang di media televisi saja namun mulai meracuni dunia cyber yang kini tengah digandrungi remaja.

Kalau sudah begini, apakah kita akan diam saja? Tentunya sebagai bangsa Indonesia sejati, kita akan katakan tidak! Menghadapi isu pengklaiman produk budaya bahkan lambang identitas nasional ini, pemerintah diharuskan lebih tegas dan gesit untuk menepis serangan ini. Kalau perlu, tegur siapa saja yang berani mengusik kedaulatan dan kebudayaan Indonesia. Kemudian patenkan seluruh produk budaya Indonesia yang ada, kalau perlu diundang-undangkan juga agar masyarakat Indonesia lebih menghormati dan menghargai bahasanya. Jangan adalagi kasus seperti ini yang seolah-olah menempatkan Indonesia sebagai anak bawang (baca: pecundangnya) Asia Tenggara.

Selain itu, tidak ada salahnya mengadopsi beberapa sistem pemerintahan orde baru. Misalnya dari sisi ketegasannya. Karena ketegasan Suharto, tidak ada bangsa lain yang berani mengusik Indonesia pada masa itu. Kedaulatan Indonesia diakui dunia Internasional. Tidak ada intervensi asing selain atas izin kepala negara. Dan yang terpenting tidak ada produk budaya Indonesia yang diklaim bangsa lain.

Masyarakat Indonesia terutama pemuda Indonesia juga seharusnya tidak tinggal diam. Jangan hanya berteriak-teriak menghujat bangsa lain yang sudah merampas produk budaya kita saja, namun segeralah introspeksi dan lihat kepada diri sendiri apakah kita sudah menghargai budaya, bahasa dan bangsa kita. Selain itu, tingkatkan kepedulianmu dengan cara melestarikannya. Jaga budaya kita, jaga bahasa kita jangan dikemudian hari malah merengek-rengek memohon barang milik kita yang diakui oleh bangsa lain padahal kita sendiri jarang menjaganya.

Selain itu, menjaga agar hubungan bilateral tetap berjalan baik juga adalah salah satu cara menjada warisan luhur kebudayaan Indonesia. Karena tak sedikit masalah intervensi dan penekanan-penekanan terjadi akibat hubungan bilateral yang kurang baik.

Karenanya, mari besama kita lestarikan budaya kita, kita lestarikan bahasa kita. Agar di kemudian hari tidak ada lagi isu serupa. Segera patenkan bahasa Indonesia dan jagalah ia karena itu merupakan cita-cita dan janji setia pemuda Indonesia sejak dulu hingga sekarang.

Sekali lagi, Artikel ini bukan dimaksudkan untuk menyerang pihak-pihak tertentu melainkan untuk memotivasi kita agar lebih cinta dengan Indonesia. Komentar-komentar yang positif sangat diharapkan dari pembaca dan saya mohon untuk tidak meninggalkan komentar yang kasar dan negatif. Terima kasih.

Artikel terkait lain dengan



12 Reaksi Pembaca:

yups, setuju deh, jangan sampai seperti batik dan lain-lain.
udah di bajak orang, baru deh nyadar kalau itu warisan budaya yang harus dipelihara dan dilestarikan....

Siip. Mari lestarikan bahasa kita, mari lestarikan budaya kita.

artikelnya bagus, kata katanya dewasa dan tegas.
memang kita harus melestarikan bahasa indonesia..
semangat berkarya sobat

sepakat mas, melestarikan bahasa adalah menjunjung tinggi bangsa kita

setuju! hanya saja belum mendapatkan ide bagaimana supaya bahasa yang baku menjadi berkesan asyik dan ramah...

Ya, pertama kita harus sadar tentang apakah kita juga sudah menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Kedua ditujukan kepada pemerintah, seberapa jauh mereka telah menyiapkan payung hukum agar masalah 'pengakuan' ini bisa dimentahkan tanpa harus kita merasa panas. Ketiga, yuk budayakan berbahasa yang baik di mana pun dan kapan pun.

wah, sungguh Shid, mengena banget sama keadaan.

Setuju Shid, lebih baik hal positif dari pemerintahan orde lama diterpkan kembali. Ketegasannya, kekokohannya, harus diadakan lagi.
Terima kasih Shid, tulisannya jujur.

ga nyangka bahasa persatuan, bahasa Indonesia kita mau diakuin juga...

berkunjung ke rumah sahabat tersayang...
waktu malam-malam.... sambil ngopi.. beeeeeeuuuuuh....

Posting Komentar

TERIMA KASIH ATAS KOMENTARNYA.

Entri Populer