Mari Berkarya, Mari Bercerita


Berkarya untuk kehidupan. Bercerita untuk menghidupkan

Dewasa ini, sering sekali kita mendengar atau mungkin mengucapkan kalimat ‘Emang gue pikirin.’ , ‘Itu derita lo.’ Atau ‘Saya tidak mau tahu, ini urusan Anda!’. Pernahkah kita berpikir kalau kalimat tersebut adalah kalimat yang diucapkan kaum liberalis? Atau setidaknya kalimat tersebut adalah hasil paham liberal yang telah mempengaruhi pengucapnya? Karenanya mari kita diskusikan bersama tentang hal tersebut.

Seperti yang kita ketahui bahwa paham liberal adalah paham yang mengatasnamakan kebebasan mutlak bagi setiap individu. Dengan kata lain setiap individu memiliki hak bebas sebebas-bebasnya untuk mengatur dan mengurus urusannya sendiri.

Perilaku liberal juga menciptakan kondisi sosial masyarakat yang tidak seimbang. Yang kaya akan semakin kaya dan yang miskin semakin terpuruk. Mengapa? Hal ini dikarenakan setiap individu hanya terpaku pada urusan sendiri tanpa mempedulikan urusan orang lain. Mereka menganggap urusan orang lain adalah urusan mereka sendiri. Tipikal orang seperti ini akan membantu orang lain apabila bantuan yang diberikan tersebut menguntungkan dirinya ,alias mengharap pamrih. Dengan kata lain perilaku liberal akan menciptakan individu-individu dengan sikap egois yang tinggi.

Hal seperti di atas tentu saja bertentangan dengan semangat kegotong-royongan yang tersirat dalam ideologi bangsa kita. Dalam sila keempat pancasila -‘Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.’- memiliki nilai luhur kebersamaan dan kegotongroyongan yang mana telah dilaksanakan oleh masyarakat Indonesia sejak dulu.

Kembali ke perkataan ‘Emang gue pikirin.’ , ‘Itu derita lo.’ Atau ‘Saya tidak mau tahu, ini urusan Anda!’. Secara harfiah makna kalimat ‘Emang gue pikirin’ menyiratkan makna ‘Mengapa aku harus repot memikirkan urusan/masalah yang kamu kerjakan/alami?’. Dari pernyataan tadi seolah menegaskan apabila ‘Gue’ tidak punya urusan terhadap masalah orang lain dan ‘Gue’ tidak harus membantu masalah tersebut meski ia adalah teman ‘Gue’. Dengan kata lain, ‘Gue’ adalah seorang yang egois atau seorang yang telah terpengaruh paham liberal.

Begitu juga dengan perkataan ‘itu derita lo.’ atau ‘Saya tidak mau tahu, ini urusan Anda.’ Memiliki makna yang kurang lebih sama dengan makna ‘Emangnya gue pikirin.’

Karenanya marilah kita tinggalkan perkataan tersebut karena perkataan tersebut adalah perkataan yang menyakitkan. Terlebih apabila diucapkan kepada sahabat Anda. Perkataan yang demikian juga mengancam kedudukan Pancasila sebagai ideologi negara Indonesia. Selain itu, perkataan tadi juga menyimpang dari kaidah dan tata bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Kalau ingin menolak permohonan kawan ucapkanlah dengan sopan, dan dengan nada yang halus. Misalnya, “Maaf, kali ini saya tidak dapat membantu Anda karena saya harus … “. Mari budayakan berbahasa Indonesia yang baik dan benar, bertutur kata lembut dan berjiwa nasionalis tinggi.

Ada kritik, saran, pertanyaan, pernyataan atau tanggapan? Silahkan tulis di kolom komentar di bawah artikel ini. Terima kasih.



Artikel terkait lain dengan



18 Reaksi Pembaca:

Ya, benar sekali!

"Mari budayakan berbahasa Indonesia yang baik dan benar, bertutur kata lembut dan berjiwa nasionalis tinggi."

Bahasa mengungkapkan kepribadian! Bahasa melatih kepribadian!

Setuju. Benar sekali. Bahasa memang mengungkap kepribadian. Selain itu bahasa juga pembantu pembentuk kepribadian.

waw!!
kalo 'ga usah dipikirin' masih non-liberal kan Shid?
sadis juga ya efek bahasa untuk kepribadian orang. Jaga hati, jaga pikiran, jaga ucapan.
Harus jago jaga diri!!

selamat menjalankan ibadah puasa
mohon maaf lahir dan bathin

shidiq gmna dengan budaya yang biasa menggunakan kata kata dalam keseharianya itu?
ex: betawi??

klo saya sih kata ‘Emang gue pikirin.’ , ‘Itu derita lo.’ Atau ‘Saya tidak mau tahu, ini urusan Anda!’ adalah kata egois dan terucap saat emosi..

yah EGP .. mikirn diri aja deh ... ehehehe...

@Yak
Setuju. Jaga hati, jaga pikiran, jaga ucapan, harus jago jaga diri terlebih di bulan puasa. Terimakasih komentarnya.

@heru
Sama-sama. Semoga ibadah kita mabrur. Terimakasih komentarnya.

@Bayu Sutrisno
Untuk perkataan di atas cuma saya tekankan pada maknanya bukan pengucapannya. Jadi menurut saya, semua bahasa baik daerah maupun nasional memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri, tergantung pengucapnya. Terimakasih komentarnya.

@aldrix
Saya setuju dengan pernyataan Anda yang mengatakan perkataan tadi terucap saat emosi. Karenanya jangan lantas hanya karena emosi kita halalkan segala perkataan. Terimakasih komentarnya, membantu sekali.

oh, begitu..
tapi kalo ini jadi kebiasaan dan kebiasaan ini populer gmna?

Dalam percakapan memang sedikit janggal kalau kita menggunakan EYD. Minimal, kita memperhalus bahasa 'prokem' kita sehari. "Gue tau penderitaan lo, lain kali deh. Tapi gak sekarang!"

tergantung tempatnya juga

tapi terkadang jika di instansi resmi yang sudah mengungkapkan 'EGP'-nya dengan bahasa halus, jadi malas untuk berusaha meminta bantuan lagi...

nah.., ini nih.., yang membuat saya malu kalau berkunjung keblog ini....
bahasannya sangat mengena.
sedangkan say masih belum bisa menjalankan apa yang dibahas diatas...
jadi malu...

kita sering kebablasan nih Shid, jadi dianggap biasa dah sekarang.

@Bayu Sutrisno
Yang namanya kebiasaan kan bisa diubah. Memang sulit tapi yakinlah pasti bisa.

@Bang Aswi
Hati-hati Bang. Kalau terlalu terbiasa berbahasa prokem, bisa-bisa malah lupa dengan bahasa sendiri.

@Ya mungkin karena mereka acuh dengan bangsa sendiri. Rasa nasionalismenya kurang. Jadi heran, mengapa mereka mencalonkan diri jadi wakil rakyat ya?


@Kumpulan puisi cinta
Tidak seperti itu juga. Saya saja baru belajar berbahasa juga. Tapi yang jelas kebiasaan bahkan adat pun dapat diubah.


@Yak
Ya karena itulah jangan dibablas-bablasin nanti tersesat jadinya.

buat semua. Terima kasih tanggapannya.

"Yang namanya kebiasaan kan bisa diubah. Memang sulit tapi yakinlah pasti bisa."
SETUJU shidiq jawaban yang bagus. jadi ingat kemarin mengenai seminar tembakau.
"ROKOK ITU ADIKSI bukan kebiasaan"

ane jarang make juga sih,tp makasih dah,dan ane baru tau kalo ini bahasa liberal

kunjungan balik

Posting Komentar

TERIMA KASIH ATAS KOMENTARNYA.

Entri Populer