Mari Berkarya, Mari Bercerita


Berkarya untuk kehidupan. Bercerita untuk menghidupkan

Anda pasti mengetahui tentang ejaan berikut;

Djagoeng (dibaca: jagung)
Djoeroe Koentji (dibaca: juru kunci) dan sebagainya.

Ejaan tersebut merupakan ejaan masa lampau sebelum ejaan tersebut disempurnakan dan diresmikan pada tanggal 1 Agustus 1962. Dalam proses evolusinya, Bahasa Indonesia mengalami berbagai macam peristiwa yang tak jarang memperkaya serta menyempurnakan bahasa kita, bahasa Indonesia.

Mari kita telusuri proses perkembangan bahasa Indonesia mulai dari bahasa pasar hingga menjadi bahasa nasional...

Bahasa Indonesia merupakan bentuk dialek baku dari bahasa Melayu yang pokoknya berasal dari bahasa Melayu Riau. Seperti yang diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantara dalam Kongres Bahasa Indonesia I tahun 1939 di Solo, Jawa Tengah, "jang dinamakan 'Bahasa Indonesia' jaitoe bahasa Melajoe jang soenggoehpoen pokoknja berasal dari 'Melajoe Riaoe', akan tetapi jang soedah ditambah, dioebah ataoe dikoerangi menoeroet keperloean zaman dan alam baharoe, hingga bahasa itoe laloe moedah dipakai oleh rakjat di seloeroeh Indonesia; pembaharoean bahasa Melajoe hingga menjadi bahasa Indonesia itoe haroes dilakoekan oleh kaoem ahli jang beralam baharoe, ialah alam kebangsaan Indonesia". Atau seperti yang diungkapkan pada kongres Bahasai Indonesia II tahun 1954 di Medan, Sumatera Utara, "...bahwa asal bahasa Indonesia ialah bahasa Melaju. Dasar bahasa Indonesia ialah bahasa Melaju jang disesuaikan dengan pertumbuhannja dalam masjarakat Indonesia"

Sejarah Bahasa Indonesia...

Bahasa Indonesia terbentuk dari bahasa Melayu (Austronesia) yang kemungkinan telah dipakai sejak abad- abad awal penanggalan modern. Bahasa ini sering disebut bahasa Melayu Pasar karena bahasa ini sering dipergunakan dalam transaksi - transaksi perdagangan kala itu. Seperti yang dikatakan oleh Jan Huyghen Van Linschoten di dalam bukunya yang terkenal, Itinerario menuliskan bahwa Malaka adalah kota tempat berkumpulnya nelayan di seluruh dunia, kemudian mereka mendirikan sebuah kota dan menciptakan bahasa mereka sendiri dengan mengambil kata-kata terbaik dari bahasa-bahasa di sekitar mereka sehingga bahasa Melayu dikenal sebagai bahasa yang paling sopan dan paling pas di kawasan Timur Jauh.

Bahasa Indonesia diakui secara resmi sebagai bahasa nasional pada peristiwa sumpah pemuda (28 Oktober 1928). Namun penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa nasional pertama kali dikemukakan oleh Muh Yamin pada Kongres Nasional kedua di Jakarta. Beliau mengatakan, "Jika mengacu pada masa depan bahasa-bahasa yang ada di Indonesia dan kesusastraannya, hanya ada dua bahasa yang bisa diharapkan menjadi bahasa persatuan yaitu bahasa Jawa dan Melayu. Tapi dari dua bahasa itu, bahasa Melayulah yang lambat laun akan menjadi bahasa pergaulan atau bahasa persatuan."

Selanjutnya mengenai perkembangan bahasa Indonesia sendiri serta penambahan kosa kata baru dipengaruhi oleh sastrawan terkenal dari Minangkabau seperti Marah Rusli, Abdul Muis, Nur Sutan Iskandar, Sutan Takdir Alisyahbana, Hamka, Roestam Effendi, Idrus, dan Chairil Anwar.

Hingga saat ini bahasa Indonesia masih terus mengalami penambahan kosa kata baik melalui penciptaan maupun serapan. Bahasa Indonesia sendiri terdiri dari berbagai komposisi kata yang diserap dari bahasa asing seperti bahasa Belanda, Inggris, Sanskerta, Cina, Arab, Parsi, Hindi Portugis dan sebagainya.






Baca Selengkapnya atau Berkomentar...

Setiap makhluk hidup memerlukan interaksi baik dengan diri sendiri, orang lain, sistem maupun lingkungan sekitarnya. Interaksi tersebut dibangun dengan kontak dan komunikasi antar obyek yang berbeda. Dalam hal berkomunikasi manusia membutuhkan bahasa sebagai media berkomunikasi. Tak akan bisa kita bayangkan jika di dunia ini tidak ada yang namanya bahasa. Bagaimana manusia hidup? Bagaimana manusia memenuhi kebutuhan hidupnya? Bagaimana manusia berpikir? Karena proses berpikir pun membutuhkan bahasa, dan sebagainya.

Bahasa terbentuk akibat dari proses pembentukan dan pengembangan kebudayaan manusia. Manusia zaman dahulu mengembangkan bahasa mulai dari bahasa paling sederhana hingga menjadi bahasa yang kompleks atau bahasa modern dengan tambahan kosa kata yang semakin beragam. Bahasa berkembang mulai dari isyarat-isyarat tubuh, bunyi-bunyi khusus hingga menjadi isyarat dan bunyi yang terstruktur.

Efek samping kebahasaan adalah budaya menulis. Kini bahasa tak hanya dipraktekan melalui gerakan dan isyarat namun bahasa dituangkan dalam kegiatan menulis. Menulis adalah suatu proses berkomunikasi dan berinteraksi kepada diri sendiri maupun antar individu yang dituangkan dalam suatu media konkret yang dikarenakan oleh suatu kondisi tertentu.

Bahasa juga membantu seseorang berpikir. Ketika berpikir, manusia berbicara pada dirinya sendiri. Ia menanyakan kepada dirinya sendiri mengenai suatu hal yang ia pikirkan. Misalnya ketika pak Karman hendak membeli apel, maka pak Karman akan berpikir dengan cara bertanya kepada dirinya sendiri; Di mana kios aple yang murah? Apakah saya harus membeli apel hijau atau apel merah? Jika terpaksa apelnya habis maka apa yang akan saya lakukan selanjutnya? dan sebagainya.

Proses berpikir tersebut terjadi dalam proses yang panjang namun dalam periode yang singkat. Jika dijabarkan maka kita akan menemukan jika ternyata untuk membeli sepasang sepatu saja akan kita tanyakan sejumlah pertanyaan di benak kita. Namun tanpa disadari ternyata proses berpikir tersebut terjadi dengan cepat bahkan dalam kondisi tertentu seseorang tak merasa berpikir sama sekali untuk memecahkan suatu masalah tertentu.




Baca Selengkapnya atau Berkomentar...

Entri Populer