Mari Berkarya, Mari Bercerita


Berkarya untuk kehidupan. Bercerita untuk menghidupkan

Demi kesembuhan dari cobaan Tuhan
mereka datang memenuhi kabar burung siluman
turun dari gunung tinggi tinggi
naik dari lembah rendah rendah
datang dari kampung desa desa
tiba dari kota megah megah
mengharap sembuh ke bocah umur sepuluh

Ohh...
inilah saatnya
dimana akal dibuang
agama dicampakkan
Tuhan dimatikan
nyawapun dimurahkan

dan semua alasan terpaku pada tali kemiskinan
kertas resep yang mahal
dan pemerintahan yang mencuri sehat

Hufft... kasiat mengalahkan syariat
betapa mahal pembebasan penyakit ini
bahkan lebih dari rupiah sang dokter

kalau begini siapa yang patut disalahkan?

Sajak manusia pencari sugesti
dilematika warga miskin di negara jahil


Baca Selengkapnya atau Berkomentar...

Dan apakah neraka parlemen ini lekas berakhir?
akankah diakhiri?
atau ini terakhir?
yang mengakhiri riwayat bangsa?

sang raja hanya membisu di singgasana
menyaksikan gladiator gladiator kantor saling pukul sampai jontor
hentikan bila ini memuakkan!
sudah saatnya tangan Anda beranjak dari ranjang malasnya

gajah saling beradu, kancil menunggu mati

Hufft...
Masa bodoh yang penting menang!
masa kebodohan tak ada kemenangan!!!!



Baca Selengkapnya atau Berkomentar...

Tidak dapat dipungkiri lagi, bahwa televisi sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat khususnya masyarakat Indonesia. Harganya yang kian hari semakin terjangkau menyebabkan televisi kini dimiliki oleh hampir seluruh warga Negara Indonesia baik pada kelas ekonomi atas, menengah bahkan masyarakat kelas ekonomi bawah sekali pun.


Perkembangan nilai kepemilikan televisi ini tentu saja menggugah minat pengusaha program-program televisi untuk berlomba-lomba menyajikan acara yang tepat bagi keluarga Indonesia. Oleh karenanya kini tak sedikit stasiun televisi dijumpai di negeri ini.

Namun sayangnya, dari sekian banyak program televisi yang ada, hanya sedikit saja yang mengandung nilai edukasi. Kebanyakan dari program-program televisi tersebut mengandung nilai kekerasan, nilai amoral serta perbuatan-perbuatan yang seharusnya tidak dipublikasikan secara umum.

Sebagai contoh begitu banyak sinetron Indonesia namun tak satu pun memberikan nilai edukasi bagi penikmatnya. Kebanyakan dari sinetron-sinetron tersebut hanya ditujukan untuk memromosikan sang artis atau mengejar keuntungan dari rating yang tinggi meskipun harus dilakukan dengan mengeksploitasi aurat-aurat wanita serta adegan tak senonoh yang seharusnya dinikmati orang dewasa. Kita tentunya tidak mau adegan saling bunuh antara anak ingusan yang terjadi akibat menirukan adegan-adegan acara gulat beberapa tahun silam terulang lagi di negeri apalagi adegan pacaran yang dilakukan oleh anak TK yang masih ngedot akibat terlalu sering menonton sinetron yang sama sekali tidak mendidik.

Beberapa program lain yang bermasalah adalah acara gossip yang hanya melahirkan generasi baru ibu-ibu B-Goss (biang gossip), acara yang mengeksploitasi orang-orang kalangan bawah layaknya mainan bagi yang berduit, film kartun yang mendidik seorang balita untuk bertindak bodoh dan berlaku tak senonoh dan menganggap dirinya superhero, ada pula yang mempublikasikan borok-borok pemerintahan yang belum dibuktikan kebenarannya, kemudian masyarakat kalangan tertentu geram dan berusaha menjatuhkan pemerintahan dan sebagainya.

Ada beberapa acara yang baik untuk ditonton dan darinya kita mendapatkan pelajaran-pelajaran tertentu tentang makna hidup. Diantaranya adalah; Mario Teguh, Golden Ways, Kick Andi, Metro Files (mengulas sejarah Indonesia), Bosan Jadi Pegawai, serta Berita Televisi.

Program Mario Teguh, Golden Ways seharusnya lebih diprioritaskan dibanding acara-acara tangga lagu yang kini menjamur di Indonesia. Karena acara tersebut benar-benar membangkitkan semangat untuk bekerja dan berperilaku terpuji, lain dengan acara musik yang justru mengantarkan remaja pada tujuan yang tak jelas. Coba pikir, apa untungnya bagi kita kalau band kesayangan kita nangkring di top hits tangga lagu stasiun TV A? dapat duit? Yang ada kita malah disangka orang gila karena ketawa-ketiwi di depan TV akrena saking senangnya dengan prestasi band kegemaran kita.

Menonton televisi sangat menyenangkan namun tetap kita harus waspada. Nah, sudahkah Anda selektif dalam memilih acara televisi Anda? Kalau belum mulailah dari sekarang atau tidak sama sekali! Serta bagi pemerintah untuk lebih selektif lagi memfilter tayangan televisi layak tonton atau tidak layak tonton.






Baca Selengkapnya atau Berkomentar...

Resapi rasa hari
Menghirup udara waktu Duha
usia kian meninggi
pikiran masih di bawah tumit

Aku galau
semua yang nyata indah
mengambang di atas sana
di kelilingi apa pun yang membuatku mual
muak

Semua yang maya indah
terhampar sedap di depan mata
dikelilingi apapun yang menyenangkan
memuaskan

akankah seperti ini?
atau memang seperti ini?
atau hanya pikiran lapuk si bujang merana



Baca Selengkapnya atau Berkomentar...

Matahari memanas ganas
memanggang otak-otak dungu keadilan

ketika kebodohan memimpin negeri
ketika ketololan mencoba menghakimi
saat itu kedunguan berapi-api

Rasakan hawanya
panas... pengap... pasrah
melongo jiwa-jiwa menanti ajal
menilik kami yang menanti musibah

sudahlah pak pemimpin

Waiting for disaster
dilema negeri bodoh yang ditololkan
menunggu puncak dipeluk bencana



Baca Selengkapnya atau Berkomentar...

Setiap tanggal 28 Oktober, bangsa Indonesia memperingati suatu hari bersejarah. Di mana pada tanggal yang sama, delapan puluh satu tahun yang lalu, puluhan pemuda dari berbagai wilayah Nusantara berkumpul dan mencanangkan suatu sumpah yang sangat terkenal, yakni Sumpah Pemuda. Bagi Indonesia, Sumpah Pemuda adalah batu loncatan awal menuju kemerdekaan. Peristiwa Sumpah Pemuda membuktikan betapa besar semangat pemuda Nusantara untuk bersatu dalam satu kesatuan, satu pemerintahan, satu wilayah yaitu NKRI.

Pada tanggal 28 Oktober 1928, puluhan pemuda delegasi beberapa wilayah NKRI mengadakan Kongres Pemuda II yang menghasilkan Sumpah Pemuda. Adapun isji dari sumpah tersebut adalah;

1. Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe bertoempah darah satoe, Tanah Air Indonesia.

2. Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa satu, bangsa Indonesia.

3. Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Tiga poin penting sumpah tersebut memiliki makna yang dalam. Sumpah Pemuda telah menjadi semangat bagi pemuda Indonesia untuk lebih keras menggapai kemerdekaan. Lihat saja, belum juga Indonesia merdeka namun pemuda dan pemudinya sudah mengakui bahwa Tanah Air mereka adalah Indonesia, bangsanya bangsa Indonesia dan bahasanya bahasa Indonesia. Inilah sikap nasionalisme yang sehaarusnya dimiliki oleh pemuda Indonesia agar Indonesia semakin jaya, bukannya malah semakin terpuruk karena ulah bangsa sendiri. Bukankah keberlangsungan suatu negara bergantung pada pemudanya?

Karenanya marilah kita pahami dan resapi bersama perihal Sumpah Pemuda tersebut, agar bangsa ini lepas dari penjajahan bangsa sendiri serta mampu menangkal pengaruh luar yang meruntuhkan ideologi serta rasa nasionalisme kita.

Sumpah Pemuda terdiri dari tiga baris. Baris pertama menegaskan bahwa pemuda Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, Tanah Air Indonesia. Makna bertumpah darah adalah berjuang atau berbuat dengan sungguh-sungguh. Berjuang berarti memperjuangkan sesuatu, misal memperjuangkan hidup, memperjuangkan nafkah dan sebagainya. Makna berbuat pun demikian. Kemudian kata bertumpah darah dihubungkan dengan Tanah Air yang berarti kempung halaman, tempat tinggal dan sebagainya. Ini menegaskan apabila perjuangan dan perbuatan yang kita laksanakan akan kita lakukan di Indonesia dan untuk Indonesia. Perjuangan dan perbuatan tersebut adalah tanda cinta kita bagi Indonesia.

Perlakuan yang sesuai dengan baris pertama Sumpah Pemuda antara lain; Mengharumkan nama Indonesia di mata Internasional, menjaga alam dan lingkungan Indonesia, menghargai sejarahnya dan berusaha menjadi yang terbaik bagi dirinya, keluarganya dan bangsanya.

Baris kedua menerangkan bahwa pemuda dan pemudi Indonesia hanya mengakui satu bangsa bagi dirinya yakni bangsa Indonesia. Bukannya bermaksud merendahkan bangsa lamin namun seharusnya pemuda Indonesia bangga dengan bangsanya sendiri apapun yang terjadi. Karenanya sikap ini hendaknya ditanamkan pada pemuda Indonesia sejak dini.

Mencintai bangsa sendiri juga diwujudkan dengan mencintai budaya bangsa. Kini banyak pemuda Indonesia yang mulai teracuni budaya bangsa asing. Bukannya melarang namun sebagai pemuda berkualitas hendaknya pemuda Indonesia tidak hanya menjadi peniru saja namun harus mampu menjadi filter yang mampu menyaring mana budaya yang baik dan mana budaya yang buruk.

Sikap yang sesuai dengan baris kedua Sumpah Pemuda antara lain; Melestarikan budaya Indonesia; tidak mudah meniru budaya asing, terutama budaya yang bersifat negatif; bangga dengan bangsanya; Selalu menjaga nama baik Indonesia; anti KKN dan sebagainya.

Baris ketiga dari Sumpah Pemuda adalah baris yang unik. Pada baris ke tiga ini pemuda Indonesia menggunakan kata ‘menjunjung’ bukan ‘mengaku’ seperti dua baris sebelumnya. Selain itu pada baris ketiga ini, pemuda Indonesia menggunakan istilah ‘bahasa persatuan’. Lantas apa maknanya?

Kalau saja pemuda Indonesia menggunakan kalimat - Kami poetra dan poetri indonesia mengakoe berbahasa satoe, bahasa Indonesia. - pada baris ketiga Sumpah Pemuda maka bagaimana reaksi bangsa Indonesia? Tentu saja marah. Karena kalimat seperti ini mengandung permintaan untuk hanya menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa bangsa Indonesia. Hal ini tentu saja bertentangan dengan baris pertama dan kedua. Selain itu kalimat tersebut hanya mengandung tujuan menjadi pemuda Indonesia, sama seperti baris pertama dan kedua Sumpah Pemuda. Ini akan menimbulkan kesan jika bangsa Indonesia harus bertumpah darah, berbangsa dan berbahasa Indonesia tanpa tahu bagaimana cara mencapai hal tersebut. Karenanya rumusan baris ketiga Sumpah Pemuda ditulis dengan kalimat ‘Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoenjoeng tinggi bahasa persatoean, bahasa Indonesia.’

Sekarang pertanyaannya adalah, apa makna baris ketiga Sumpah Pemuda tersebut? Mari kita analisa. Kalimat ‘Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoenjoeng tinggi bahasa persatoean, bahasa Indonesia.’ Menggunakan tiga kata kunci, yakni; mendjoenjoeng tinggi, bahasa persatoean dan bahasa Indonesia.

‘Menjunjung tinggi’ berarti mengangkat sesuatu dan memosisikannya pada kedudukan yang tinggi. Menjunjung tinggi adalah istilah yang berarti menempatkan sesuatu lebih tinggi dibanding yang lain. Kemudian diterangkan pada kata selanjutnya bahwa apa yang harus dijunjung. Sesuatu yang harus dijunjung tinggi adalah bahasa persatuan. Bahasa persatuan adalah bahasa yang sifatnya mempersatukan. Mempersatukan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Kemudian diterangkan bahasa apa yang dimaksud, yakni bahsa Indonesia. Jadi baris ketiga Sumpah Pemuda bermakna, pemuda Indonesia bersumpah menempatkan bahasa Indonesia lebih tinggi dibanding bahasa-bahasa lain serta menjelaskan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa pemersatu bangsa.

Selain itu, dari baris ketiga dapat ditarik makna lagi bahwa dengan menjunjung tinggi bahasa persatuan yakni bahasa Indonesia berarti secara tidak langsung juga mencintai Tanah Air dan bangsa. Sehingga ada rasa kesatuan antara seorang pemuda dengan bangsanya dan Tanah Airnya. Dengan kata lain, cinta bahasa berarti cinta bangsa dan cinta Indonesia.

Menjunjung tinggi bahasa Indonesia dapat dilakukan dengan mempelajari bahasa tersebut, kemudian melestarikan dan menaganya agar tidak punah termakan zaman. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar pada saat yang tepat dan tidak asal-asalan dalam menggunakan bahasa.

Saat ini banyak pemuda Indonesia yang lebih senang menggunakan bahasa prokem dibandingkan dengan bahasa Indonesia. Meski perbuatan ini tidak dilarang oleh pemerintah dan dari balai bahasa pun menyatakan jika bahasa ini nantinya akan pudar seiring pertambahan usia, toh kalau pemudanya saja awam dengan bahasa Indonesia bagaimana nanti kalau sudah tua? Ingin seperti wakil rakyat sekarang yang kebanyakan bahasanya amburadul?

Karenanya mari renungkan kembali semangat pemuda Indonesia sebelum kemerdekaan dahulu. Kemudian terapkan pada diri kita. Mulai dari sekarang mari cintai bahasa kita, cintai bangsa kita dan cintai Tanah Air kita. Kemudian kita ciptakan kehidupan masyarakat madani dengan semangat nasioanlisme yang tinggi dan bebas dari penyakit bangsa. Selamat memperingati hari Sumpah Pemuda.




Baca Selengkapnya atau Berkomentar...

Pesona sastra Indonesia semakin memikat. Ini dibuktikan dengan banyaknya karya sastra sebagai buah pikiran pangarangnya. Kompetisi-kompetisi kesastraan pun semakin giat diselenggarakan. Hal ini menimbulkan kesan bahwa pemerintah sedang gencar-gencarnya melaksanakan kampanye pelestarian kesastraan Indonesia.

Di lain sisi tampaknya keberadaan bahasa Indonesia sendiri mulai terabaikan. Ketika kelopak-kelopak sastra kian berkembang justru bahasa Indonesia yang seharusnya dipertahankan malah menguncup. Hal ini tentu saja akan mempengaruhi kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Pengaruh tersebut antara lain semakin banyaknya karya sastra yang menggunakan kaidah bahasa di luar kaidah bahasa baku. Apabila hal ini dibiarkan, bukan tidak mungkin generasi muda Indonesia selanjutnya menjadi awam terhadap bahasa Indonesia dan hanya mengenal bahasa persatuan tersebut dari bangku sekolah saja.

Karenanya pemerintah diharap lebih sigap lagi dalam merespon hal ini. Kalau bangsa Jepang yang dikenal berteknologi modern saja lekat dengan budayanya sendiri, mengapa Indonesia tidak?

Selain itu, saat ini bahasa Indonesia mulai diajarkan di berbagai negara di dunia. Sebut saja Australia, Vietnam, Thailand dan masih banyak lagi Negara yang berminat dengan bahasa kita. Kalau kita sebagai si pemilik bahasa tidak mengetahui kaidah bahasa yang baku, sedang bangsa asing lebih menguasainya, apa akta dunia? Tentunya sebagai bangsa yang besar kita akan merasa malu.

Ada juga bahasa prokem yang konon berasal dari bahasa para preman. Dahulu tak banyak orang mengenal bahasa ini namun sebagai efek samping kemajuan teknologi informasi, bahasa ini mulai menyebar luas di kalangan masyarakat terutama masyarakat perkotaaan. Hal ini diperparah dengan banyaknya stasiun televisi yang menayangkan program-program remaja namun menggunakan bahasa pengantar yang tidak baku. Ini bisa saja menjadi suatu perbuatan pembodohan masal terhadap pemuda Indonesia. Bukankah keberlangsungan suatu Negara tergantung kepada pemudanya? Kalau pemudanya saja sudah dididik seperti ini, bagaimana kalau nantinya mereka menjadi wakil rakyat?

Karenanya saya mengajak pembaca yang masih peduli dengan bahasa untuk ikut melestarikan bahasa nasional kita. Biar bagaimana pun bahasa Indonesia adalah bahasa yang dicita-citakan pemuda Indonesia dulu agar menjadi salah satu alat pemersatu bangsa. Sekian terima kasih.

Ada komentar atau tanggapan silahkan tulis di bawah.





Baca Selengkapnya atau Berkomentar...

Malam grand final kontes bergengsi "Pemilihan Puteri Indonesia 2009" telah diselenggarakan pada tanggal 9 Oktober 2009. Kontes yang telah diadakan empat belas kali ini mengusung tema "Pancarkan Cantikmu Melalui Karya Bagi Negeri dan Pelestarian Persada Nusantara".

Kontes ini diikuti oleh 38 peserta dari 33 provinsi di Indonesia. DKI Jakarta adalah pengutus peserta terbanyak yakni sebanyak enam finalis Puteri Indonesia berasal dari Jakarta. Kontes tersebut berlangsung ketat dengan mengerucutkan peserta yang semula berjumlah tiga puluh delapan menjadi sepuluh kemudian lima kemudian puncaknya ketika hanya tersisa tiga peserta yang salah satunya siap dinobatkan sebagai Puteri Indonesia 2009.

Pada akhirnya gelar Puteri Indonesia diraih oleh wakil dari Nangroe Aceh Darussalam yakni Qory Sandrioriva. Kemudian disusul wakil dari Sumatera Barat, Zukhriatul Hafizah dan Isti Ayu Pratiwi sebagai runner up ke 2 dan merupakan perwakilan dari Maluku Utara.

Qory Sandrioriva
Qory Sandrioriva, Perwakilan NAD
sumber gambar http://www.kabarindo.com/photo/Qory%20Sandioriva.jpg

Kontes yang diselenggarakan oleh Yayasan Puteri Indonesia ini merupakan kontes bergengsi dan dapat dikatakan sebagai kontes bertaraf nasional. Peserta yang terpilih sebagai Puteri Indonesia pun nantinya akan mengemban tugas kenegaraan diantaranya menjadi duta bangsa dalam berbagai aspek permasalahan terutama dalam hal pengenalan budaya Indonesia di mata dunia.

Namun sayangnya ada satu kekurangan yang menurut saya cukup menurunkan kualitas acara tersebut. Kekurangan tersebut adalah bahasa pengantar yang dipergunakan pembawa acara ternyata bukan bahasa Indonesia baku melainkan bahasa santai yang sering dipakai remaja zaman sekarang untuk berkomunikasi. Akibat penggunaan bahasa non baku tersebut, malam final pemilihan Puteri Indonesia 2009 terkesan tidak serius dan main-main. Terlebih lagi tamu undangan yang hadir sebagian adalah pejabat negara. Seharusnya bahasa yang dipergunakan adalah bahasa Indonesia yang baik dan benar dan sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan.

Sungguh tidak masuk akal apabila acara yang menghasilkan duta bangsa promotor budaya serta bahasa Indonesia ke dunia Internasional malah menggunakan bahasa non baku sebagai bahasa pengantarnya.

Ya, kita hanya bisa berharap semoga pada kontes bergensi tahun depan lebih baik dari kontes tahun ini. Acara perhelatan bertaraf nasional dan menyangkut negara seperti ini seharusnya dilaksanakan dengan serius dan formal agar hasil yang didapat juga maksimal. Namun dibalik itu semua, kita mengharapkan pemenang kontes tersebut dapat mengemban tugasnya dengan baik.

Bagaimana menurutmu?




Baca Selengkapnya atau Berkomentar...

Licentia poetica, suatu iztilah yang kerap terdengar dari dunia sastra. Namun apakah licentia poetica itu? Licentia poetica adalah suatu lisensi atau izin tak tertulis yang diberikan kepada penulis karya sastra untuk menerjang kaidah tata bahasa Indonesia yang baik dan benar demi menimbulkan efek-efek tertentu sesuai keinginannya. Singkatnya dengan licentia poetica, seorang penulis 'dihalalkan' mempergunakan kaidah bahasa sendiri meski menyimpang.

Tampaknya era penggunaan licentia poetica dimulai sejak diperkenalkannya puisi kontemporer kepada masyarakat umum. Puisi kontemporer adalah puisi yang sudah tak terikat lagi dengan aturan-aturan penulisan puisi pada puisi baru atau puisi sebelumnya. Puisi kontemporer adalah puisi paling bebas yang pernah ada. Penyair dapat menggunakan kata-kata sesuka hatinya bahkan menggunakan kata-kata asing yang tidak tertulis di dalam KBBI atau bahkan menggunakan gambar. Contoh penyair puisi kontemporer adalah Sutardji Calzoum Bachri dengan banyak sajak yang ia buat seperti; Sepisaupi, Tragedi Winka dan Sihka, O
dan sebagainya. (Untuk karya Sutardji Calzoum Bachri yang lain dapat dilihat di sini)

Kembali ke licentia poetica, pada awalnya penggunaan licentia poetica dimaksudkan sebagai pembentuk efek-efek tertentu dalam karya sastra. Misalnya kemerduan bunyi, keselarasan sajak dan keseimbangan irama yang terbentuk dari susunan kata-kata dalam suatu kalimat. Efek-efek seperti ini akan menimbulkan kesan tertentu yang dapat mempengaruhi emosi pembaca sehingga pembaca akan terbawa cerita dan benar-benar meresapi cerita tersebut. Selain itu efek lain yang ditimbulkan oleh licentia poetica adalah menggugag rasa ingin tahu pembaca akan suatu karya akibat sang pembaca merasa karya tersebut unik dan berbeda dari karya lain.

Saat ini licentia poeticai masih dipergunakan dalam dunia sastra. Namun sayang banyak penulis yang sering menjadikan licentia poetica sebagai alasan bagi mereka untuk menerjang kaidah bahasa yang telah baku. Hal ini dianggap lumrah karena kebebasan berkarya tak boleh dibatasi. Namun apakah penulis tersebut memahami kaidah tata bahasa yang baik dan benar? Belum tentu. Padahal sebagai warga negara Indonesia yang baik hendaklah menjaga dan melestarikan kebudayaannya apalagi bahasa nasional.

Ya, inilah licentia poetica yang hingga kini masih menuai perdebatan di dunia sastra Indonesia. Di suatu sisi penggunaan licentia poetica dimaksudkan sebagai pemanis karya sastra namun disisi lain menjaga kelestarian bahasa nasional adalah kewajiban setiap warga negara termasuk penulis. kalau sudah begini apa yang harus diperbuat?

Hendaknya yang harus kita garis bawahi adalah pelanggaran aturan bahasa atas nama licentia poetica adalah suatu hal namun buta akan aturan penggunaan bahasa yang baik dan benar adalah hal lain. kedua hal tersebut tak dapat dipadukan karena latar belakang permasalahan yang berbeda. Sebagai bangsa Indonesia yang baik kita tidak dilarang menciptakan karya sastra karena
itu adalah salah satu wujud pelestarian seni berbahasa namun juga hendaknya pemahaman akan kaidah penggunaan bahasa yang baik dan benar tidak kita abaikan.


Baca Selengkapnya atau Berkomentar...


SMS (Sort Messages Servis) merupakan sistem layanan komunikasi modern berbasis teks. Layanan komunikasi ini tersedia pada handphone (hp) yang kini beragam jenis dan kegunaannya.

Dalam posting artikel saya yang lalu (Ketidakseragaman Istilah di Media Massa Merusak Bahasa Indonesia) ada sebuah pernyataan yang berbunyi "Bahasa tulis di telepon selular (SMS, EMS, MMN, 3G), yang penggunanya di Indonesia mencapai 116 juta. Telepon selular luar biasa merusak bahasa Indonesia." serta komentar dari sobat Zippy yang berbunyi,
"Eh..ia, bener banget...
Sekarang banyak banget yg tidak menempatkan bahasa sebagaimana mesti'x...
Tapi kalo SMS gue rasa emang aneh kalo mengikuti kaidah bahasa yang benar, yakni menggunakan bahasa baku...
Rasa ganjil, heheh... "
Karena hal tersebutlah pada kesempatan kali ini saya ingin sekali membahasnya.

Menurut pernyataan pertama, angka pengguna layanan SMS mencapai 116 juta. Ini bukanlah angka yang kecil. Mengingat jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2009 menurut BPS adalah sebesar 231 juta jiwa (lihat sumber). Kalau dihitung secara matematika yakni dengan rumus : 119 juta / 231 juta x 100 % maka akan kita dapati hasil 51,52%. Sungguh angka yang menakjubkan, lebih dari 50 persen masyarakat Indonesia menggunakan layanan ini setiap harinya. Dan tak dapat terbayangkan besarnya arus berkirim SMS setiap harinya lebih-lebih saat hari-hari khusus seperti idul fitri, natal dan sebagainya.

Ketika menulis SMS tak sedikit individu (termasuk saya) yang menggunakan bahasa non baku. Kita sering sekali menggunakan bahasa ringan pergaulan atau dengan singkatan-singkatan kata saja. Padahal dalam kaidah kebahasaan yang baik dan benar, penyingkatan kata pada bahasa tulis yang tidak sesuai dengan EYD saja sudah dianggap bahasa yang tidak benar meskipun alur tata kata-kata benar. Lantas apa yang menyebabkan banyak individu (termasuk saya) menulis yang dengan cara demikian?

Saya menemukan beberapa alasan untuk kondisi di atas yakni;
  1. Keterbatasan jumlah karakter yang tersedia.
  2. Menyita waktu karena mengetik menggunakan hp (dan semacamnya) lebih lama dibanding dengan komputer atau mesin tik. Apalagi harus menggunakan kata-kata utuh.
  3. Kebanyakan biaya layanan SMS lebih murah dibanding bicara langsung melalui telepon genggam. Apalagi berbeda operator.
Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah apakah kondisi di atas tidak bisa ditanggulangi? Mungkin bisa namun sulit. Apalagi arus mobilitas dan kesibukan manusia yang semakin hari semakin meningkat. Tentunya manusia akan lebih senang beralih menggunakan teknologi yang lebih canggih, cepat, tepat dan praktis.

Beberapa saran yang saya rekomendasikan untuk kondisi di atas agar kedudukan bahasa nasional kita tetap kokoh adalah;
  1. Menurunkan tarif bicara lebih rendah dibandingkan tarif SMS. Dengan begini diharapkan masyarakat akan lebih tertarik berbicara langsung daripada menulis pesan.
  2. Lebih menggiatkan pengenalan bahasa Indonesia yang baik dan benar terutama kepada generasi muda tanpa melalaikan generasi di atasnya. Hal ini dilakukan sebagai tindakan preventif agar masyarakat terbiasa menggunakan bahasa Indonesia baik saat berkomunikasi.
  3. Mengadakan pelatihan dan kompetisi menulis agar kreativitas menulis kian meningkat dan sesuai dengan kaidah tata bahasa yang baik dan benar.
  4. Mengkampanyekan cinta bahasa nasional dan mengajak penulis-penulis yang ada untuk turut aktif menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam karya-karyanya.
Mungkin hanya itu saja yang dapat saya sampaikan kali ini. Yang jelas di sini saya hanya menginformasikan dan menyarankan saja namun segala keputusan dan kesimpulan saya kembalikan kepada pembaca yang terhormat. Namun apabila ada saran dan tambahan dari pembaca silakan tulis di kolom komentar di bawah ini. Saya akan sangat senang sekali menerimanya. Insya Allah apabila ada yang bagus, saya ikutkan di artikel ini. Terima kasih.



Baca Selengkapnya atau Berkomentar...

Alhamdulillah hari ini kita masih diperkenankan mencicipi manisnya hari kemenangan dan nikmatnya kembali suci. Kalau kita rasa-rasakan alangkah nikmatnya anugerah yang Allah berikan kepada kita setelah selama sebulan kita bakar dosa kita kepada Allah swt dan kini tiba saatnya kita lenyapkan dosa dan kesalahan antar kita. Untuk itu, di sini saya persembahkan puisi khusus bagi semua dengan inti, saya mohon maaf apabila telah dengan sengaja ataupun tidak telah membuat kesalahan kepada pembaca poet3q. Berikut puisinya;


FITRI

Siapa aku?
Siapa aku?
aku siapa?
aku ini siapa?

di hadap-Mu ku berdosa
sejagad, semesta, selanggeng waktu
hamba mohon bakarlah
kubangan hitam besar itu
jadikan hamba pria yang menangis
bukan cengeng
bukan pengecut
namun tegar nun perkasa
seiring alir air mata taubatku
kepada-Mu

siapa diriku?
di mana jiwaku?
hancur hidupku!
tanpamu sobat
tanpa ikhlasmu ulurkan tangan
dan menarikku ke bantaran kehidupan baru
dengan rendah hati kuucap
minal aidzin wal faidzin
mohon maaf atas segala khilaf lahir dan batin
semoga kembali suci
putih
kuat dan beruntung
seperti dulu
dulu sekali...


Maaf Jelek... Initinya saya mohon maaf atas segala khilaf, salah yang disengaja maupun tidak disengaja, semoga jiwa kita kembali fitri Amiin.

Sekalian tambahan;
Alhamdulillah saya dapat kartu lebaran dari Sobat Bayu Sutrisno, terima kasih banyak. Ini kartunya;


Baca Selengkapnya atau Berkomentar...

Media massa adalah sarana pengembangan dan penyerapan bahasa secara langsung. Hal ini terjadi karena saat ini media massa sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia. Misalnya koran, majalah, radio, televisi dan sebagainya.

Salah satu jenis media massa adalah media cetak yang kini cukup banyak jenisnya. Misalnya koran, tabloid, majalah dan sebagainya. Penyebarannya pun luas dan cepat. Hal ini disebabkan karena masih banyaknya bangsa Indonesia yang memiliki kebiasaan membungkus makanan atau benda-benda tertentu dengan menggunakan koran bekas atau majalah bekas. Hal ini tentu saja membawa dampak positif karena kini masyarakat di pelosok pun dapat menikmati berita dan informasi dari surat kabar meski tidak lengkap.

Di sisi lain, peran surat kabar yang begitu dekat dengan masyarakat pun membawa dampak negatif yang cukup besar. Dewasa kini ditemukan banyak sekali istilah kata yang penulisannya berbeda antara surat kabar yang satu dan surat kabar yang lain cukup mengancam dan sewaktu waktu dapat merusak kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Untuk lebih jelasnya simak berita yang saya kutip dari www.kompas.com yang diterbitkan pada tanggal 30 Oktober 2008 yang berjudul Ketidakseragaman Istilah di Media Massa Merusak Bahasa Indonesia

==========================
++++++++++++++++++++++++++
==========================

JAKARTA, KAMIS - Dalam fungsinya sebagai media pendidikan, media massa berkewajiban memasyarakatkan bahasa Indonesia. Media harus menjadi teladan dan pelopor dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Namun, dalam praktiknya, banyak yang mengingkari. Tidak semua media cetak punya acuan dalam pembakuan kosa kata dan istilah. Ketidakseragaman istilah dapat merusak bahasa Indonesia.

Demikian benang merah diskusi kelompok tentang Bahasa Media Massa dalam Kongres IX Bahasa Indonesia, Kamis (30/10) di Jakarta. Topik ini menjadi pembahasan paling diminati peserta, dibanding pembahasan topik lainnya. Tampil sebagai narasumber Sekretaris Jenderal Persatuan Wartawan Indonesia Hendry CH Bangun, Sastrawan dan Redaktur Harian Republika Ahmadun Yosi Herfanda, dan pakar IT dari Universitas Gadjah Mada Roy Suryo.

Hendry mengatakan, di dalam organisasi media massa tidak selalu ada fungsi atau peran penyelaras bahasa. Apalagi setelah eforia reformasi, kedudukan penyelaras bahasa tidak lagi menjadi semacam kewajiban. Akibatnya, bahasa media massa dewasa ini dapat dikategorikan sebagai memprihatinkan.

Mencermati data Biro Pusat Statistik (2005), penduduk usia 15-24 tahun sebanyak 40,224 juta, membuat pengelola media massa menjadikan remaja/pemuda sebagai target pembaca dan konsumen iklan. Untuk memikat mereka, bahasa yang digunakan disesuaikan dengan dunia mereka. C enderung menjauh dari bahasa Indonesia baku. Misalnya istilah, ungkapan, kata yang digunakan pasti yang sedang ngetren , katanya. Jadi, ada kesengajaan untuk menggunakan bahasa yang tidak baku agar sesuai dengan target pembaca muda.

Hendry menilai, karena ada sekitar 70 persen dari 851 media yang kurang sehat dan tidak sehat menurut data Dewan Pers (2006), sulit diharapkan peran itu dapat dilakukan dengan baik.

Senada dengan Hendry, Ahmadun mengatakan, bahasa jurnalistik sebenarnya hanya dipakai pada tulisan-tulisan yang masuk dalam kategori fakta. Akan tetapi, sistem pengejaannya juga diberlakukan pada kelompok opini dan fiksi melalui editing yang dilakukan oleh redakturnya.

Posisi bahasa pers harus berinduk dan merujuk pada bahasa Indonesia standar/baku. Ia juga guru bahasa bagi masyarakat. Pelopor penyerapan bahasa asing dan daerah serta pembakuannya ke dalam bahasa Indonesia. "Namun, bahasa pers juga bisa sebag ai perusak bahasa Indonesia, karena keliaran pengingkarannya terhadap sistem pembakuan bahasa Indonesia," katanya.

Ahmadun sempat menampilkan sejumlah kata, yang di banyak media masih belum seragam memakainya. Bahkan, kesalahan yang terjadi jumlahnya jutaan. Seperti kata salat dipakai 270.000 kali, shalat (1.380.000), sholat (1.139.000). Ustaz (2.470.000), ustad (3.110.000), dan kata ustadz (681.000). Wudu (9.340), wudlu (59.300), wudhu (151.000). Kata gender (924.000) dan jender (76.000). Obyek (1.840.000), objek (1.890.000), obyektif (290.000), objektif (432.000). Iven (290.000), even (6.650.000) dan kata event digunakan 6.650.000 kali.

Menurut Ahmadun, terjadinya perbedaan penggunaan kata itu karena perbedaan pedoman pembentukan istilah atau penyerapan bahasa asing antara Pusat Bahasa dan kalangan pers. Perbedaan cita rasa yang hendak dilekatkan pada istilah asing yang diserap ke dalam bahasa Indonesia. Anggapan dari kalangan pers bahwa pusat bahasa lamban dalam menyerap dan membakukan bahasa asing ke bahasa Indonesia, sehingga kalangan pers melakukan pembakuan secepatnya dengan cara masing-masing yang berbeda.

"Sedang Roy Suryo mengkhawatirkan bahasa tulis di telepon selular (SMS, EMS, MMN, 3G), yang penggunanya di Indonesia mencapai 116 juta. Telepon selular luar biasa merusak bahasa Indonesia. Begitu juga pengguna internet, juga banyak yang merusak bahasa," katanya.

Kepala Pusat Bahasa Depdiknas Dendy Sugono mengatakan, sebenarnya pembakuan istilah dan pengindonesiaan kata dan ungkapan asing sudah lama dilakukan oleh Pusat Bahasa, namun kalangan pers jarang menggunakannya.

"Ada 405.000 kata dan ungkapan asing dalam berbagai bidang ilmu yang sudah dibakukan dan ada 182.000 dalam proses penyelarasan. Walaupun telah dilakukan pengembangan per istilahan, masyarakat masih merasakan banyak kata bahasa asing yang belum memiliki padanan dalam bahasa Indonesia, terutama kata umum yang banyak digunakan dalam komunikasi bidang teknologi dan perniagaan," jelasnya.

Menurut Dendy, sejalan dengan laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, pemanfaatan bahasa asing, khususnya bahasa Inggris, untuk memperkaya bahasa Indonesia, tetap diperlukan sebagai sumber kata dan ungkapan yang emuat konsep baru. Namun, penyerapan kata asing yang sudah ada padanannya dalam bahasa Indonesia sebaiknya dihindari. Untuk menopang upaya tersebut, Pusat Bahasa pata tahun 1995 telah menerbitkan buku Pedoman Pengindonesiaan Nama dan Kata Asing.

Yurnaldi

==========================
++++++++++++++++++++++++++
==========================

Dengan berita ini diharapkan media massa khususnya surat kabar dapat meluruskan kembali kaidah kebahasaan dengan acuan yang jelas karena hal ini menyangkut keberadaan dan kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara Republik Indonesia sekaligus bahasa persatuan bangsa.




Baca Selengkapnya atau Berkomentar...

Seiring berjalannya bulan Ramadan, banyak kita temui istilah-istilah yang diserap dari bahasa Arab. kebanyakan masyarakat Indonesia belum paham mengenai istilah tersebut, aakah istilah tersebut sudah terserap ke dalam bahasa Indonesia atau belum dan apakah istilah tersebut sudah memiliki kaidah penulisan sendiri menurut kaidah penulisan bahasa Indonesia? Mari kita bahas bersama-sama.

Sebelumnya perlu saya informasikan bahwa pembenaran istilah berikut mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia online yang dikelola oleh website http://pusatbahasa.diknas.go.id. Berikut daftar istilah yang menurut saya kurang tepat apabila ditinjau dari kaidah penulisan bahasa Indonesia.

Ramadan atau Ramadhan
Istilah di atas sering kita baca pada spanduk-spanduk yang dibuat oleh instansi-instansi baik swasta maupun pemerintah. Penulisan bulan kesebelas dalam kalender Islam yang benar menurut KBBI-online adalah Ramadan. (Tanpa 'h' dan diawali huruf besar karena nama bulan) yang artinya: bulan ke-9 tahun Hijriah (29 atau 30 hari), pada bulan ini orang Islam diwajibkan berpuasa.

Imsak atau imsyak
Istilah tersebut sering dengar sepuluh menit sebelum azan subuh. Istilah yang benar adalah imsak (tanpa 'y') yang menurut KBBI-online berarti: saat dimulainya tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa,seperti makan dan minum; 2 v berpantang dan menahan diri dr makan, minum, dan hal-hal yg mem-batalkan puasa mulai terbit fajar sidik sampai datang waktu berbuka.
Parahnya lagi masih ada juga orang yang salah menyebut istilah tersebut dengan kata 'insaf' padalah dalam KBBI-online disebutkan bahwa insaf berarti : sadar akan kekeliruannya dan bertekad akan memperbaiki dirinya.

Buka puasa atau batal puasa
Hal ini sering tidak disadari oleh sebagian kaum muslim. Begitu azan magrib berkumandang, lekas-lekas mereka mengatakan 'Makan ini dulu, sekedar untuk membatalkan puasa.' Padahal istilah ini salah. Batal dalam bahasa Indonesia berarti tidak berlaku; tidak sah; jadi sayangkan kalau puasa kita tidak sah karena niat kita salah niat? Gunakanlah kata berbuka atau buka puasa seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Tarawih, taraweh, tarweh, taroweh atau tarowih?
Istilah tersebut lumrah kita dengar selama bulan puasa. Menurut KBBI-online yang benar adalah tarawih.

Kultum, ceramah, pidato atau khotbah
Sebagian masyarakat masih rancu menggunakan istilah di atas. Mana yang dikategorikan kultum, ceramah, pidato atau khotbah. Karenanya mari kita luruskan bersama-sama.

  • Kultum (kuliah tujuh menit) berarti kuliah dalam waktu tujuh menit. Selain berkaitan dengan sekolah tinggi, kuliah juga berarti ceramah agama. Ini berarti kultum merupakan ceramah keagamaan yang berdurasi pendek. Di bulan Ramadan, biasanya kultum dilaksanakan sebelum salat tarawih. Namun tidak menutup kemungkinan kultum dilaksanakan di waktu dan tempan yang lain.
  • Ceramah merupakan pidato oleh seseorang di hadapan banyak pendengar, mengenai suatu hal atau pengetahuan. Durasi ceramah lebih panjang dibandingkan dengan kultum. Bedanya dengan pidato adalah ceramah lebih bersifat khusus bagi suatu kelompok tertentu.
  • Pidato adalah pengungkapan pikiran dalam bentuk kata-kata yg ditujukan kepada orang banyak. Dibandingkan dengan ceramah, pidato lebih bersifat umum. Pendengarnya pun tidak harus kelompok masyarakat tertentu.
  • Khotbah adalah ceramah keagamaan sakral yang biasanya diikuti dengan ibadah tertentu. Misalnya khotbah jumat yang diikuti dengan Salat Jumat. Perbedaan lain antara khotbah dengan ceramah ataupun pidato adalah khotbah memiliki rukun dan syarat yang harus dipenuhi oleh khatib terlebih dahulu.
Mungkin itu dulu yang dapat saya berikan. Apabila ada tanggapan atau tambahan mengenai istilah di bulan Ramadan dari pembaca, silakan tulis dikolom komentar di bawah artikel ini. Terima kasih sebelum dan sesudahnya.



Baca Selengkapnya atau Berkomentar...

Perhatian!

Artikel ini bukan dimaksudkan untuk menyerang pihak-pihak tertentu

melainkan untuk memotivasi kita agar lebih cinta bahasa Indonesia.

Akhir-akhir ini, bangsa Indonesia tengah diuji seberapa besar rasa cintanya terhadap tanah air. Bagaimana tidak, kini telah banyak produk budaya yang berasal dari Indonesia diklaim oleh negara lain. Sebut saja Reog Ponorogo, lagu daerah rasa sayange, dan batik yang sudah terakui milik bangsa lain. Selain itu tari Pendhet dan rendang(makanan khas Sumatera Barat) juga diisukan akan diklaim oleh negara lain. Parahnya lagi, bahasa nasional kita, bahasa Indonesia pun turut masuk dalam daftar klaim budaya mereka.

Salah satu kedudukan bahasa Indonesia adalah sebagai bahasa nasional bangsa kita. Dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia berperan sebagai lambang kebanggaan nasional dan lambang identitas nasional. (pengertian lebih lanjut dapat dibaca di sini.)

Awal mula bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu Riau. Bahasa Melayu terbentuk pada masa perdagangan di mana pada masa itu, berbagai bangsa di dunia berlomba-lomba memperdagangkan produk mereka di tanah Malaka. Karena banyaknya suku bangsa yang berdagang di sana, secara otomatis bahasa yang dipergunakan pun beragam. Karena banyaknya bahasa, bangsa-bangsa tersebut bingung, bagaimana caranya berkomunikasi efektif antar pedagang. Oleh karenanya, bahasa Melayu dibentuk dengan mengambil kata-kata terbaik dari bahasa bangsa-bangsa di sekitarnya. Jadi bahasa melayu bukan milik salah satu negara saja, karena bahasa ini dibentuk oleh pedagang-pedagang di masa lampau.(Sejarah bahasa Indonesia lebih lanjut dapat dibaca di sini.)

Sejarah perkembangan bahasa Indonesia sangatlah panjang. pada masa sebelum Sumpah Pemuda diikrarkan, dengan mati-matian pemuda Indonesia memperjuangkan persatuan Indonesia. Mereka berpikir bagaimana caranya mempersatukan Indonesia dibawah satu ikatan mutlak. Proses tersebut berlangsung cukup lama hingga akhirnya pada kongres pemuda kedua tanggal 28 Oktober 1928 pemuda Indonesia resmi mengikrarkan persatuan Indonesia yang ditandai dengan Sumpah Pemuda dimana salah satu isinya adalah menjunjung tinggi bahasa persatuan bahasa Indonesia.

Pada masa pemerintahan orde baru penggunaan bahasa non baku sangat dibatasi. Terutama di media-media. Pada masa itu, pemerintah hampir tidak memberikan ruang gerak bagi bahasa daerah di televisi, ini menegaskan seakan-akan pemerintah benar-benar memperjuangkan nasionalisme dengan salah satu cara yakni diwujudkan dengan mencintai bahasa nasional, bahasa Indonesia. Akibatnya jelas, bahasa Indonesia hampir tak bergeser kedudukannya di masyarakat.

Kini justru dimasa reformasi dimana pembatasan berpendapat dan berekspresi sudah dihapuskan, sedikit demi sedikit posisi bahasa Indonesia di masyarakat mulai bergeser dan digantikan bahasa gaul yakni bahasa yang tercipta dari akulturasi bahasa Indonesia dengan bahasa prokem yang kini tengah berkembang pesat.

Saat ini hampir semua tayangan di media televisi menggunakan bahasa prokem yang mana asal mulanya adalah bahasa sandi kaum preman. Kalau pun ada yang menggunakan bahasa baku, paling hanya sebatas pada program berita dan kartun impor yang dialih bahasakan. Namun bagaimana dengan sinetron asli Indonesia? Sinetron-sinetron yang kini marak di Indonesia justru lebih suka memilih bahasa non baku sebagai bahasa pengantar cerita. Padahal tak sedikit anak-anak di bawah umur menyaksikan sinetron-sinetron tersebut. Kalau hal ini dibiarkan terus-menerus, bukan mustahil kalau anak-anak tersebut di masa depan menjadi awam dengan bahasa nasional kita dan merasa acuh untuk melestarikannya. Hal ini akan mengakibatkan berkurangnya jiwa nasionalisme sehingga berkuranglah rasa cinta bangsa kepada negara.

Selain itu kebanyakan MC atau pembawa acara program di televisi pun tak mau ketinggalan. Dengan dalih bahwa program tersebut adalah programnya remaja, mereka kesampingkan bahasa Indonesia. Mereka lebih suka menggunakan bahasa gaul. Bahkan tak sedikit di antara pembawa acara tersebut yang tidak mampu sama sekali berbahasa Indonesia yang baik dan benar.

Pemerintah pun seakan tutup mata menyaksikan hal ini. Entah dengan dalih kebebasan berpendapat atau berekspresi, pemerintah tak lagi ambil pusing mengenai masalah ini. Penggunaan bahasa gaul dan bahasa prokem sudah tidak dibatasi. Bahkan kini bahasa tersebut tak hanya berkembang di media televisi saja namun mulai meracuni dunia cyber yang kini tengah digandrungi remaja.

Kalau sudah begini, apakah kita akan diam saja? Tentunya sebagai bangsa Indonesia sejati, kita akan katakan tidak! Menghadapi isu pengklaiman produk budaya bahkan lambang identitas nasional ini, pemerintah diharuskan lebih tegas dan gesit untuk menepis serangan ini. Kalau perlu, tegur siapa saja yang berani mengusik kedaulatan dan kebudayaan Indonesia. Kemudian patenkan seluruh produk budaya Indonesia yang ada, kalau perlu diundang-undangkan juga agar masyarakat Indonesia lebih menghormati dan menghargai bahasanya. Jangan adalagi kasus seperti ini yang seolah-olah menempatkan Indonesia sebagai anak bawang (baca: pecundangnya) Asia Tenggara.

Selain itu, tidak ada salahnya mengadopsi beberapa sistem pemerintahan orde baru. Misalnya dari sisi ketegasannya. Karena ketegasan Suharto, tidak ada bangsa lain yang berani mengusik Indonesia pada masa itu. Kedaulatan Indonesia diakui dunia Internasional. Tidak ada intervensi asing selain atas izin kepala negara. Dan yang terpenting tidak ada produk budaya Indonesia yang diklaim bangsa lain.

Masyarakat Indonesia terutama pemuda Indonesia juga seharusnya tidak tinggal diam. Jangan hanya berteriak-teriak menghujat bangsa lain yang sudah merampas produk budaya kita saja, namun segeralah introspeksi dan lihat kepada diri sendiri apakah kita sudah menghargai budaya, bahasa dan bangsa kita. Selain itu, tingkatkan kepedulianmu dengan cara melestarikannya. Jaga budaya kita, jaga bahasa kita jangan dikemudian hari malah merengek-rengek memohon barang milik kita yang diakui oleh bangsa lain padahal kita sendiri jarang menjaganya.

Selain itu, menjaga agar hubungan bilateral tetap berjalan baik juga adalah salah satu cara menjada warisan luhur kebudayaan Indonesia. Karena tak sedikit masalah intervensi dan penekanan-penekanan terjadi akibat hubungan bilateral yang kurang baik.

Karenanya, mari besama kita lestarikan budaya kita, kita lestarikan bahasa kita. Agar di kemudian hari tidak ada lagi isu serupa. Segera patenkan bahasa Indonesia dan jagalah ia karena itu merupakan cita-cita dan janji setia pemuda Indonesia sejak dulu hingga sekarang.

Sekali lagi, Artikel ini bukan dimaksudkan untuk menyerang pihak-pihak tertentu melainkan untuk memotivasi kita agar lebih cinta dengan Indonesia. Komentar-komentar yang positif sangat diharapkan dari pembaca dan saya mohon untuk tidak meninggalkan komentar yang kasar dan negatif. Terima kasih.



Baca Selengkapnya atau Berkomentar...

Dewasa ini, sering sekali kita mendengar atau mungkin mengucapkan kalimat ‘Emang gue pikirin.’ , ‘Itu derita lo.’ Atau ‘Saya tidak mau tahu, ini urusan Anda!’. Pernahkah kita berpikir kalau kalimat tersebut adalah kalimat yang diucapkan kaum liberalis? Atau setidaknya kalimat tersebut adalah hasil paham liberal yang telah mempengaruhi pengucapnya? Karenanya mari kita diskusikan bersama tentang hal tersebut.

Seperti yang kita ketahui bahwa paham liberal adalah paham yang mengatasnamakan kebebasan mutlak bagi setiap individu. Dengan kata lain setiap individu memiliki hak bebas sebebas-bebasnya untuk mengatur dan mengurus urusannya sendiri.

Perilaku liberal juga menciptakan kondisi sosial masyarakat yang tidak seimbang. Yang kaya akan semakin kaya dan yang miskin semakin terpuruk. Mengapa? Hal ini dikarenakan setiap individu hanya terpaku pada urusan sendiri tanpa mempedulikan urusan orang lain. Mereka menganggap urusan orang lain adalah urusan mereka sendiri. Tipikal orang seperti ini akan membantu orang lain apabila bantuan yang diberikan tersebut menguntungkan dirinya ,alias mengharap pamrih. Dengan kata lain perilaku liberal akan menciptakan individu-individu dengan sikap egois yang tinggi.

Hal seperti di atas tentu saja bertentangan dengan semangat kegotong-royongan yang tersirat dalam ideologi bangsa kita. Dalam sila keempat pancasila -‘Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.’- memiliki nilai luhur kebersamaan dan kegotongroyongan yang mana telah dilaksanakan oleh masyarakat Indonesia sejak dulu.

Kembali ke perkataan ‘Emang gue pikirin.’ , ‘Itu derita lo.’ Atau ‘Saya tidak mau tahu, ini urusan Anda!’. Secara harfiah makna kalimat ‘Emang gue pikirin’ menyiratkan makna ‘Mengapa aku harus repot memikirkan urusan/masalah yang kamu kerjakan/alami?’. Dari pernyataan tadi seolah menegaskan apabila ‘Gue’ tidak punya urusan terhadap masalah orang lain dan ‘Gue’ tidak harus membantu masalah tersebut meski ia adalah teman ‘Gue’. Dengan kata lain, ‘Gue’ adalah seorang yang egois atau seorang yang telah terpengaruh paham liberal.

Begitu juga dengan perkataan ‘itu derita lo.’ atau ‘Saya tidak mau tahu, ini urusan Anda.’ Memiliki makna yang kurang lebih sama dengan makna ‘Emangnya gue pikirin.’

Karenanya marilah kita tinggalkan perkataan tersebut karena perkataan tersebut adalah perkataan yang menyakitkan. Terlebih apabila diucapkan kepada sahabat Anda. Perkataan yang demikian juga mengancam kedudukan Pancasila sebagai ideologi negara Indonesia. Selain itu, perkataan tadi juga menyimpang dari kaidah dan tata bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Kalau ingin menolak permohonan kawan ucapkanlah dengan sopan, dan dengan nada yang halus. Misalnya, “Maaf, kali ini saya tidak dapat membantu Anda karena saya harus … “. Mari budayakan berbahasa Indonesia yang baik dan benar, bertutur kata lembut dan berjiwa nasionalis tinggi.

Ada kritik, saran, pertanyaan, pernyataan atau tanggapan? Silahkan tulis di kolom komentar di bawah artikel ini. Terima kasih.





Baca Selengkapnya atau Berkomentar...

Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan sebagaimana yang telah dicita-citakan pemuda Indonesia sejak tahun 1928. Bahasa Indonesia kini menjadi bahasa resmi negara. Dalam kedudukannya sebagai bahasa resmi negara, bahasa Indonesia ternyata memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan bangsa dan negara. Pengaruh tersebut merasuk dan mempengaruhi berbagai sisi kehidupan rakyat, pejabat Indonesia. Pengaruh tersebut juga merasuk dalam ideologi bangsa Indonesia yakni Pancasila. Sejauh apa pengaruh bahasa Indonesia terhadap Pancasila? Mari kita diskusikan bersama.

Peran bahasa Indonesia dalam kaitannya edngan pengamalan nilai-nilai luhur Pancasila antara lain;

Membentuk kepribadian bangsa

Salah satu unsur pembentuk Pancasila adalah kepribadian luhur yang telah dimiliki bangsa Indonesia sejak dulu. Sebelum penjajahan bangsa barat dimulai, bangsa Indonesia memiliki kepribadian khas yang terbentuk dari pengaruh kerajaan-kerajaan yang tersebar luas di tanah pertiwi. Kepribadian tersebut di antaranya adalah sikap ramah tamah yang kini dikenal di seantero jagad sebagai sikap khas dari daerah timur. Selain sikap ramah ada juga sikap gotong-royong, tenggang rasa, toleransi dan sebagainya yang dulu menjadi ikon identitas bangsa kita. Oleh karenanya Pancasila dibentuk untuk menjaga dan melestarikan sikap budaya tersebut agar nantinya tidak pupus termakan zaman.

Hubungan bahasa Indonesia dalam membentuk kepribadian bangsa antara lain; Dengan membiasakan diri untuk berbahasa Indonesia yang baik dan benar berarti membiasakan diri untuk berperilaku terpuji dan bermartabat. Ada peribahasa jawa yang mengatakan, “Ajining dhiri ana ing lathi.” Kepribadian seseorang dapat dilihat dari lidahnya (tutur katanya). Dengan kata lain, rusaknya bahasa seseorang berarti rusak pula kepribadian seseorang. Seseorang yang terbiasa bertutur kata kasar dan menyakitkan pastinya memiliki watak yang keras dan egois.

Pengaruh tutur kata dan kepribadian dapat langsung kita cermati pada sikap seorang preman. Pernahkah Anda melihat seorang preman dengan tutur kata yang kasar memiliki sikap dan perilaku terpuji? Suka membantu misalnya? Pastinya tidak.

Pengaruh tutur kata juga secara tidak langsung membentuk norma-norma di masyarakat. Norma sendiri berperan sebagai benteng perilaku bagi masyarakat itu sendiri. Sanksi pelanggaran norma tidaklah main-main meski norma tersebut bukan termassuk hukum yang tertulis. Sanksi norma yang paling berat adalah pengusiran kepada individu dari tanah ia bermukim akibat pelanggaran norma yang terlalu berat. Dengan norma yang dihasilkan oleh masyarakat berperilaku luhur, diharapkan generasi penerus pun akan tertular perilaku luhur juga. Dan kehidupan bermasyarakat akan menjadi lebih baik.

Perilaku dan rasa kemanusiaan yang adil dan beradab serta semangat kegotong-royongan akan meningkatkan persatuan dan kesatuan bangsa yang akan menghasilkan keadilan dan kesejahteraan yang merata bagi seluruh rakyat Indonesia. Dengan demikian tidak perlu ada lagi persoalan akibat SARA dan setiap umat beragama tenang menjalankan perannya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.

Menjunjung tinggi kehidupan demokrasi

Bahasa yang santun akan menjamin perilaku yang santun pula. Karena perilaku yang santun, masyarakat tidak perlu khawatir dengan demonstrasi yang berbuntut kekerasan dan pengrusakan. Demonstrasi akan berjalan santun dan damai. Pengungkapan pendapat melalui mimbar bebas akan berjalan lancar. Wakil rakyat pun akan senang menerima kedatangan demonstran. Akibatnya pertukaran ide antar wakil rakyat dengan rakyat akan berjalan lancar. Tidak ada lagi kalimat ambigu karena seluruh pendapat diutarakan dengan padat dan jelas.

Tidak ada lagi kerusuhan di DPR akibat kesalahpahaman berkomunikasi. Tidak ada lagi perpecahan di masyarakat karena perbedaan ideologi partai. Semua hidup damai dan terstruktur.

Akibatnya pemimpin yang korup akan mudah dideteksi karena sistem demokrasi yang berjalan lancar. Rakyat sebagai mata akan mengawasi dan akan mengeksekusi pemerintah korup melalui tangan-tangan badan yang berwenang. Dengan luhurnya akhlak, baik pemimpin dan yang dipimpin akan menjadi satu kesatuan utuh. Pemerintah akan menjadi pelayan rakyat, namun rakyat bukan sebagai tuan melainkan tamu yang harus menghormati penjamunya.

Sebagai modal awal merealisasikan tujuan nasional

Tujuan nasional tersirat dalam pembukaan UUD 1945 alinea keempat. Ada empat tujuan nasional yang tertulis di sana yakni;

  1. Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia
  2. Memajukan kesejahteraan umum
  3. Mencerdaskan kehidupan bangsa
  4. Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan social.

Pada artikel saya yang lalu (MENGENAL BAHASA INDONESIA), saya telah menulis mengenai fungsi bahasa Indonesia di antaranya adalah sebagai bahasa resmi pengantar pendidikan dan bahasa resmi karya ilmiah. Hal ini sesuai dengan tujuan kedua dan ketiga. Dengan dipergunakannya bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi pendidikan berarti bahasa Indonesia turut serta mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan cerdasnya anak-anak bangsa, maka kesejahteraan umum meningkat. Dan karena kesejahteraan umum meningkat, maka akan lahir generasi-generasi baru yang lebih cerdas lagi.

Dalam kaitannya dengan melaksanakan ketertiban dunia, bahasa Indonesia berperan sebagai salah satu lambang kebanggaan dan identitas bangsa. Dengan bahasa Indonesia, kita perlihatkan kepada dunia bahwa Indonesia ada dan siap menjaga perdamaian dunia, menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia dan siap menjadi penengah negara yang terlibat konflik agar tercipta kehidupan yang harmonis di dunia.

Selain itu, mencintai bahsa Indonesia juga akan meningkatkan cinta kita terhadap Indonesia. Rasa nasionalisme akan meningkat. Segala daya dan upaya akan kita lakukan untuk menjaga ibu pertiwi agar tidak menangis lagi. Menangis karena tangan-tangan penjajah pribumi atau penjajah asing.

Karenanya mari bersama-sama kita jaga dan lestarikan bahasa kita. Kita realisasikan cita-cita pemuda Indonesia dulu. Enam puluh empat tahun Indonesia merdeka, mari bersama berbuat dan tunjukan kepada dunia siapa Indonesia.




Baca Selengkapnya atau Berkomentar...

Artikel ini saya tulis sebagai rasa syukur serta ungkapan terima kasih saya kepada Allah swt. Mengapa? Karena pada hari Sabtu tanggal 1 Agustus 2009, saya didaulat oleh sekolah saya untuk mewakili sekolah mengikuti lomba Pidato Agama Islam tingkat Kordinat Wilayah Sleman Timur, Yogyakarta. Dan pada akhirnya saya mampu meraih predikat sebagai juara ketiga mengalahkan beberapa sekolah dari empat kecamatan wilayah Sleman Timur. Karenanya saya ingin sekali berbagi pengalaman dan tips kepada sobat di sana.

Pengalaman yang saya dapatkan pada pelaksanaan lomba Pidato Agama Islam tidaklah sedikit. Dari pelaksanaan lomba, saya dapat merasakan bagaimana sulitnya berbicara di depan umum. Bagaimana rasanya mengapresiasikan keinginan kita untuk mempengaruhi khalayak namun pada saat yang sama puluhan pasang mata tengah menatap seakan mencari celah untuk meruntuhkan kekuatan hati ini. Selain itu tekanan dari penampilan peserta lain juga turut menumbuhkan perasaan pesimis.

Selain pengalaman di atas, saya juga mendapatkan semagat baru untuk mengembangkan kemampuan berbahasa saya khususnya dalam hal berbicara. Menurut saya orang-orang yang mampu berbicara di depan umum seringkali menjadi orang berpengaruh bagi orang lain. Contohnya pak SBY yang mempu meraih suara terbanyak dalam pilpres kemarin. Maka dari itu, melalui artikel ini, saya mengajak sobat Indonesia untuk giat mengapresiasikan bahasanya. Saya punya sedikit tips bagi sobat yang sedang berlatih pidato.

  1. Tentukan tema berpidato atau pahami arah tema apabila tema tersebut adalah tema yang ditetapkan panitia lomba.
  2. Bagi Sobat yang belum terbiasa berbicara di depan umum, buatlah terlebih dahulu naskah pidatonya. Hal ini dilakukan agar sobat memahami kemanakah arah Sobat berbicara nantinya.
  3. Usahakan naskah adalah hasil karya sendiri. Naskah yang merupakan hasil karya orang lain sering menjadi penyebab permasalahan dalam berpidato. Hal ini disebabkan karena pembicara sering tidak menguasai materi pidatonya karena tidak mengenal pokok bahasan yang akan dibahas. Karenanya saya himbau bagi Sobat yang ingin berpidato agar membuat naskah pidatonya sendiri.
  4. Perbanyak perbendaharaan kata. Hal ini dilakukan agar pembicara dapat berimprovisasi mengembangkan sendiri kalimat pidatonya dengan gagasan pokok yang ada. Hindari hafalan karena itu adalah penghambat pembicaraan Sobat ketika di mimbar nanti.
  5. Kurangi pengucapan kata 'e', 'em', 'mungkin' dan sebagainya. Penggunaan kata 'e' atau 'em' yang terlalu banyak akan menimbulkan kesan tidak siap dan pendengar akan cepat merasa bosan karena pembicara dianggap terlalu bertele-tele. Penggunaan kata 'mungkin' pada pernyataan tertentu akan menyurutkan minat pendengar atas materi yang Sobat suguhkan. Mengapa? karena pernyataan yang sobat sajikan terkesan meragukan dan tidak meyakinkan pendengar.
  6. Latihan terus menerus. Latihan bukan hanya difokuskan pada penampilan dan gaya bahasa saja namun fokuskan juga pada durasi waktu.
  7. Perhatikan ekspresi dan mimik wajah Sobat ketika berbicara. Hal ini dilakukan untuk mengatasi rasa bosan pendengar akibat mimik wajah pembicara yang terlalu kaku.
  8. Gunakan penekanan pada kata atau kalimat tertentu yang dianggap perlu diberi tekanan. Hal ini dilakukan agar pendengar tidak bosan akibat nada bicara pembicara yang dirasa terlalu datar.
  9. Perhatikan gaya bahasa Sobat. Pada intinya pidato adalah kegiatan mempengaruhi khalayak dengan menyajikan materi dalam bentuk bahasa lisan. Gaya bahasa yang terkesan 'friendship' dan lugas serta efektif akan meningkatkan minat dengar khalayak.
  10. Selalu berlatih, berusaha dan berdo'a. Semoga berhasil.
Di bawah ini ada link untuk mengunduh naskah yang saya buat sebagai persiapan lomba pidato. Saya persilahkan bagi sobat untuk mengunduhnya dan menyebarluaskannya dengan tujuan bukan komersil. Berikut linknya,

Judul Naskah : Meraih Kesuksesan Dunia - Akhirat adalah dengan Ilmu.
Penulis : Shidiq Nur Widayan
Tipe file: ZIP
Link Unduh : Naskah Pidato.zip

Kiranya itu saja yang dapat saya sampaikan. Apabila Sobat ingin berbagi tips lain seputar berpidato, silahkan tulis di kolom komentar di bawah artikel ini. Kritik, saran dan tanggapan senantiasa saya harapkan, Terima kasih.



Baca Selengkapnya atau Berkomentar...

Alhamdulillahirabbil'alamiin akhirnya pada hari ini saya dapat menulis kembali blog tercinta saya ini.

Pada kesempatan kali ini, saya ingin sekali menjawab pertanyaan sobat blogger saya Agung Agriza dengan komentarnya atas artikel blog saya yang berjudul 'Tips Sederhana Berbahasa Indonesia'. Di bawah artikel tersebut, sobat Agung Agriza menulis komentar seperti ini,
"wah iya .. sekarang jarang banget orang-orang yang pake bahasa indonesia yang baik dan benar.
trmasuk aku, masih bingung sebenernya gimana bahasa indonesia yang baik dan benar itu. "

Karena itu, pada kesempatan kali ini, saya ingin mencoba menjawab pertanyaan sobat Agung Agriza semampu saya, berikut ulasannya.

Sebelum kita bahas lebih jauh mengenai bahasa Indonesia yang baik dan benar, ada baiknya kalau kita ketahui terlebih dahulu makna kata dari kata 'baik' dan 'benar'.

Menurut KBBI yang dikembangkan dalam website Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia bahwasanya kata 'baik' memiliki berbagai arti yang ditinjau dari berbagai sisi. Berikut makna kata 'baik' (tanpa imbuhan) menurut website tersebut;

"1 a elok; patut; teratur (apik, rapi, tidak ada celanya, dsb): karangan bunga itu -- sekali; 2 a mujur; beruntung (tt nasib); menguntungkan (tt kedudukan dsb): nasibnya -- sekali; mendapat kedudukan yg --; 3 a berguna; manjur (tt obat dsb): buku ini sangat -- untuk dibaca; daun kumis kucing -- untuk obat penyakit ginjal; 4 a tidak jahat (tt kelakuan, budi pekerti, keturunan, dsb); jujur: anak itu -- budi pekertinya; 5 v sembuh; pulih (tt luka, barang yg rusak, dsb): sudah dua minggu dirawat di rumah sakit, ia belum -- juga; lukanya sudah --; 6 a selamat (tidak kurang suatu apa): selama ini keadaan kami -- saja; 7 a selayaknya; sepatutnya: kami diterima dng --; -- orang ini kusuruh pulang sekarang; 8 p (untuk menyatakan) entah ... entah ...: -- di kota maupun di desa, olahraga sepak bola digemari orang; 9 p ya (untuk menyatakan setuju): berangkatlah sekarang! -- , Ayah; 10 n kebaikan; kebajikan: kita wajib berbuat -- kpd semua orang;"

Dari beberapa makna di atas, makna kata 'baik' yang ditinjau dari sisi ke 1 (elok; patut; teratur) dan ke 4 (tidak jahat)-lah yang paling cocok diterapkan dalam pernyataan 'bahasa Indonesia yang baik dan benar'. Dengan kata lain bahasa yang baik adalah bahasa yang apabila diucapkan terdengar elok, susunan katanya teratur dan tidak mengandung celaan-celaan yang dapat menyinggung seseorang atau suatu kelompok. Selain itu bahasa Indonesia yang baik adalah bahasa yang mencerminkan sikap yang sopan, berbudi pekerti luhur serta berakhlak mulia. Hal ini dapat dirasakan ketika seseorang berkomunikasi dengan orang lain. Si komunikan akan dapat merasakan apakah bahasa yang dipergunakan oleh komunikator itu baik atau tidak.

Sedangkan makna kata 'benar' (tanpa imbuhan) menurut website tersebut adalah sebagai berikut;

"1 sesuai sebagaimana adanya (seharusnya); betul; tidak salah: apa yg dikatakannya itu --; jawabannya -- semua; 2 tidak berat sebelah; adil: keputusan hakim hendaknya --; 3 lurus (hati): orang ini amat --; 4 dapat dipercaya (cocok dng keadaan yg sesungguhnya); tidak bohong: krn diancam akan dibunuh, ia memberikan kesaksian yg tidak --; 5 sah: keputusannya --; 6 sangat; sekali; sungguh: mahal -- buku ini;"

Dari beberapa makna di atas, peninjauan makna dari sisi pertama (sesuai sebagaimana adanya (seharusnya)) adalah makna yang paling cocok diterapkan. Ini berarti bahasa Indonesia yang benar adalah bahasa Indonesia yang sesuai dengan kaidah kebahasaan yang ditetapkan. Dengan kata lain bahasa Indonesia yang benar adalah bahasa baku yang sesuai dengan EYD.

Dari pernyataan di atas dapat saya simpulkan jika bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah bahasa Indonesia yang elok, teratur serta tidak melanggar norma-norma dan sesuai dengan kaidah yang telah ditetapkan.

Dengan kesimpulan tersebut, saya telah menjawab pertanyaan dari sobat Agung Agriza. namun saya ingin menambahkan sedikit pengetahuan tentang bahasa baku.

Bahasa baku merupakan salah satu jenis bahasa yang mengacu pada kaidah bahasa Indonesia sesuai EYD, sering dipergunakan oleh orang-orang terdidik/terpelajar dalam suatu pertemuan-pertemuan atau acara-acara formal/resmi baik dalam bentuk bahasa lisan maupun bahasa tulis dan tidak menampakan ciri-ciri kedaerahan atau asing.

Ciri-ciri bahasa Indonesia baku antara lain:

  1. Bahasa baku menggunakan penempatan jeda-jeda yang sesuai dengan satuan-satuan makna kalimatnya. Penempatan jeda yang tidak sesuai akan menimbulkan kesan janggal pada kalimat.
  2. Menggunakan lafal, intonasi dan tekanan yang sesuai dengan sistem bunyi bahasa Indonesia dengan tidak menampakan ciri kedaerahan atau asing.
  3. Menghindari pemakaian bentuk-bentuk ketatabahasaan yang menyimpang.
  4. Berpedoman pada EYD dan Pedoman Pembentukan Istilah.
  5. Menggunakan kata-kata yang tertulis dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, menghindari pemakaian kata-kata pergaulan atau kata-kata yang bersifat kedaerahan maupun asing.
Bahasa baku juga adalah bahasa yang dipergunakan untuk hal-hal sebagai berikut;
  1. Pembicaraan kepada seseorang yang dihormati, misalnya kepada guru, juragan dan kepada orang yang baru saja kita kenal.
  2. Komunikasi resmi, misalnya dalam surat resmi, pengumuman resmi, dan perundang-undangan.
  3. Wacana teknis, misalnya dalam pembuatan laporan penelitian, karya ilmiah dan tesis.
  4. Pembicaraan kepada khalayak ramai, misal ketika proses KBM (Kegiatan Belajar Mengajar), pidato, mimbar bebas dan konferensi.
Demikian ulasan yang dapat saya sampaikan, kurang lebihnya saya mohon maaf. Apabila pembaca memiliki saran, kritik, ide, pertanyaan maupun pernyataan yang sesuai dengan artikel ini, silahkan tulis di kolom komentar di bawah artikel ini. Kemudian saya ucapkan terima kasih kepada Sobat Agung Agriza atas pertanyaannya dan saya harap artikel ini cukup untuk menjawab pertanyaan sobat. Terima kasih.


Baca Selengkapnya atau Berkomentar...

Bahasa Indonesia adalah bahasa utama bagi bangsa Indonesia. Dewasa ini, kedudukan bahasa Indonesia mulai tergeser oleh maraknya bahasa prokem di kalangan remaja. Tak hanya itu ternyata kontrol guru bahasa Indonesia terhadap perkembangan bahasa prokem di sekolah-sekolah masih terlalu kecil. Kebanyakan guru bahasa Indonesia hanya menjalankan tugasnya sebagai guru saja. Sehingga kepedulian siswa akan bahasa Indonesia menjadi berkurang.

Di sekolah saya, ada seorang guru bahasa yang sangat giat melatih siswa didiknya untuk mencintai dan membiasakan diri menggunakan bahasa yang diajarkannya. Tak hanya itu, beliau juga mengajarkan kepada muridnya agar senantiasa menjaga bahasa krama inggil meski guru tersebut bukanlah guru bahasa Jawa. Sayangnya guru tersebut bukanlah guru bahasa Indonesia, namun beliau adalah guru bahasa Inggris di sekolah saya. hal serupa mungkin saja dialami oleh sekolah lain, karena itu sebagai siswa Indonesia saya akan mencoba membagi tips sederhana menggunakan bahasa Indonesia. Sebagai catatan sebelumnya bahwa saya bukanlah murid yang pandai berbahasa Indonesia. namun saya akan mencoba untuk membagi ilmu saya kepada pembaca (reader and blogger) di Indonesia. karenanya apabila ada kesalahan pengucapan dan penulisan di sini, saya mohon maaf dan saya juga mengharapkan koreksinya. Berikut tips sederhana berbahasa Indonesia tersebut,

1. Niat
Niat adalah hal yang penting yang harus dilakukan oleh manusia sebelum mengerjakan sesuatu. Dengan niat manusia akan lebih termotivasi untuk mengerjakan sesuatu.

2. Pelajari bahasa Indonesia
Mempelajari bahasa Indonesia dengan tujuan untuk mengenal bahasa Indonesia. Dengan mengenal kita akan memahami. Setelah memahami bentuk, struktur maupun seluk beluk berbahasa maka ketika kita hendak mengapresiasikan bahasa tersebut melalui metode yang kita inginkan (berbicara, menulis dan sebagainya) kita akan merasa mudah. Karenanya penting untuk memahami terlebih dahulu bahasa Indonesia sebelum mengapresiasikannya. Tidak perlu sedetil-detilnya namun setidaknya mengetahui dasar ilmunya saja sudah cukup.

3. Pelajari kata serapan
Ini adalah hal penting yang tidak boleh sampai terhenti di tengah jalan. Bahasa Indonesia adalah bahasa yang kaya namun masih tetap memiliki kekurangan kata. Penambahan perbendaharaan kata pun terus terjadi. Salah satu caranya adalah dengan menyerap kata dari bahasa lain yang dianggap cocok dengan struktur bahasa Indonesia. Ketika kita mempelajari kata serapan berarti secara tidak langsung kita menambah perbendaharaan kata kita. Sehingga kita tidak merasa kesulitan apabila suatu hari nanti kita berbicara dengan seorang intelektual dengan bahasanya yang 'tinggi'.

4. Tahu siapa yang diajak berkomunikasi
Obyek komunikasi Anda akan menentukan pemilihan kata yang akan Anda gunakan. Apabila Anda sedang berkomunikasi dengan warga satu kampung usahakan untuk meminimalisasi penggunaan kata serapan yang tidak populer. Contohnya adalah kata 'viskositas'. Mungkin untuk orang-orang yang berkecimpung di dunia fisika dan kimia sudah tidak awam lagi dengan kata ini. Namun jika Anda katakan 'viskositas (kekentalan)' kepada warga desa Anda yang awam mungkin mereka hanya bisa bengong memandangi Anda tanpa tahu apa yang sebenarnya Anda katakan.

5. Memperbanyak pengetahuan yang berkaitan dengan bahasa
Membaca dan mendengar adalah sarana efektif untuk menyerap tata cara berbahasa. Membaca buku-buku bahasa Indonesia dengan kalimat-kalimat bakunya. Mendengar dosen-dosen kebahasaan berbicara di depan umum atau pun Anda mencoba untuk mempraktikan bahasa Anda dengan berbicara atau pun menulis artikel akan sangat membantu Anda mengembangkan ketrampilan berbahasa Anda.

6. Rileks ketika berbahasa
Menulis dan berbicara adalah contoh umum yang dipergunakan orang untuk mengapresiasikan bahasanya. Ketika hendak berbicara atau menulis, manusia akan berpikir terlebih dahulu. Ketika berpikir manusia akan berbicara kepada dirinya dengan bahasa pikirannya. Ia akan bertanya kepada dirinya sendiri apa yang harus ia lakukan kini dan setelah ini. Saat manusia berambisi kuat untuk mengemukakan gagasannya, emosinya akan bergejolak. Ketika emosinya bergejolak pikirannya akan kacau sehingga ia tidak dapat berpikir logis dan sistematis. Akibatnya ia akan terburu-buru untuk mengungkapkan gagasannya. Akibatnya seringkali apa yang ia ungkapkan terkesan meloncat-loncat tak tentu kemana tujuannya. Selain itu tata bahasa kita akan menjadi amburadul kualitas gagasan dan bahasa kita. Karenanya rileks dalam berpikir dan berbicara adalah hal penting yang harus dilakukan sebelum mengungkapkan gagasan kita agar gagasan yang hendak kita ungkapkan akan menjadi gagasan yang sistematis dan logis.

Contohnya adalah ketika debat capres yang lalu. Kalau kita perhatikan dengan seksama akan kita temukan perbedaan tata bahasa yang dipergunakan antar kandidat capres. Kandidat A dengan gaya bicaranya yang diselimuti semangat membara. Kemudian kandidat B yang gaya bicaranya santai. Kemudian kandidat C yang gaya bicaranya yang cepat namun serius. Tata bahasa yang digunakan oleh kandidat A akan sangat berbeda dengan tata bahasa yang dipergunakan kandidat B. Bisa saja tata bahasa kandidat A akan terkesan tidak teratur karena emosinya yang borkobar-kobar mempengaruhi pola pikirnya sehingga ia akan berpikir lebih cepat dari biasanya, karena itu ide-ide dikepalanya terus bermunculan namun di satu sisi ia tidak mampu mengungkapkan ide tersebut karena terlalu cepatnya ide tersebut bermunculan dan menghilang. Akibatnya tata bahasanya agak kacau disebabkan ia tidak rileks ketika berbicara.

Mungkin itu saja artikel kali ini. Jika ada usulan, tanggapan atau komentar silahkan tulis di kolom komentar di bawah ini. Terima kasih sebelum dan sesudahnya.


Baca Selengkapnya atau Berkomentar...

Sebelumnya mungkin di antara pembaca sekalian ada yang mengetahui kepanjangan dari SBI. SBI adalah akronim dari Sekolah Bertaraf Internasional, Gelar yang sangat diharapkan oleh ribuan sekolah di Indonesia mulai dari TK hingga Perguruan Tinggi. Beberapa sekolah di Indonesia berhasil menyandang gelar tersebut, beberapa belum dan beberapa di antaranya gagal. Secara resmi gelar tersebut didapatkan setelah sekolah yang bersangkutan memperoleh sertifikat yang dikeluarkan oleh ISO, sebuah badan yang bergerak untuk menyertifikasi barang atau produk di dunia sesuai dengan standar Internasional yang ditetapkan oleh ISO.

Salah satu di antara sekian syarat yang diajukan agar suatu sekolah bertaraf Internasional adalah guru dan muridnya harus menguasai bahasa Inggris. Pernah ada rumor yang mengatakan bahwa beberapa mata pelajaran harus dibawakan dengan bahasa Inggris. Mata pelajaran tersebut di antaranya adalah matematika dan ilmu alam. Karena itu, beberapa guru di sekolah mendadak mendapat kuliah bahasa Inggris. Selain itu jam pelajaran bahasa Inggris bagi siswa pun ditambah agar siswa-siswi mampu menguasai bahasa Inggris.

Di lain sisi, pelajaran bahasa Indonesia tampaknya agak dikesampingkan. Di suatu sisi jam pelajaran bahasa Inggris bertambah namun di sisi lain jam pelajaran bahasa Indonesia tetap. Selain itu disadari atau tidak komunikasi yang terjadi antar siswa dengan guru pun jarang yang menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Mereka lebih suka menggunakan bahasa prokem. Akibatnya jelas, minat akan bahasa Indonesia pun menurun dan di beberapa daerah di Indonesia, rata-rata nilai UAN bahasa Inggris lebih tinggi daripada rata-rata nilai UAN bahasa Indonesia.

Bukannya buruk memiliki gelar bertaraf Internasional atau mahir berbahasa Inggris. Malahan di masa yang akan datang kedua hal tersebut termasuk hal yang membanggakan serta berguna, terlebih di era globalisasi. Meski begitu, janganlah kemudian kita lupakan bahasa sendiri. Padahal kalau kita telusuri, ternyata bahasa Indonesia pun diminati bangsa lain, contohnya bangsa Australia serta Vietnam. Kalau kita bisa menjual kenapa harus selalu membeli?

Untuk menanggulangi peristiwa tersebut dibutuhkan partisipasi dari seluruh elemen masyarakat Indonesia untuk menjaga bahasa kita agar tidak punah termakan zaman. Pemerintah diharapkan lebih intensif membangun jati diri bangsa melalui pendidikan dan pengenalan budaya Indonesia kepada siswa. Dari masyarakat umum diharapkan keaktifannya untuk turut serta melestarikan bahasa bangsa ini agar identitas bangsa Indonesia tetap terjaga hingga kapan pun. Siswa pun begitu juga, jangan karena bahasa Indonesia adalah bahasa Ibu, kemudian bahasa tersebut diremehkan. Hal ini juga dilakukan agar di kemudian hari ibu pertiwi memiliki identitas jelas di mata dunia dengan salah satu cirinya adalah bahasa. Mari jaga bahasa kita, kekayaan bangsa kita.

Akhir kata mari bersama kita jaga bahasa kita meski pengaruh asing kian meraja lela. Sekian dari saya ada kritik atau saran, tanggapan atau komentar, silahkan tulis di kolom komentar di bawah ini. Terima kasih sebelum dan sesudahnya.



Baca Selengkapnya atau Berkomentar...

Pada artikel saya yang lalu yang berjudul ‘5 Alasan Bangga dengan Bahasa Indonesia’ saya dapati sebuah komentar unik yang membuat saya penasaran. Komentar tersebut berasal dari sobat blogger, jamer serta facebook saya, Bayu Sutrisno. Dalam komentarnya, ia menulis jika bahasa Indonesia adalah bahasa ketiga tersulit di dunia. Komentar ini pun menimbulkan minat saya untuk menelisik lebih jauh, apakah benar bahasa Indonesia adalah bahasa ketiga tersulit di dunia? Dari pencarian saya di mesin pencari paling terkenal Google, saya menemukan babarapa Informasi penting mengenai posisi dan peran bahasa Indonesia di mata dunia dan Internet. Berikut informasi yang saya dapatkan:

  • Bahasa Indonesia dipelajari oleh 45 Negara di dunia.

Berita ini ditulis oleh www.kompas.com .Rabu, 29 Oktober 2008.

Isi berita Ini menegaskan jika bahasa Indonesia kini mulai dipelajari oleh 45 negara di dunia. Menurut Andri Hadi, negara yang mempelajari bahasa tersebut di antaranya adalah: Australia, Amerika, Kanada, Vietnam, dan banyak negara lainnya. Ia menjelaskan jika bahasa Indonesia menjadi bahasa popular keempat di Australia. Ada sekitar 500 sekolah mengajarkan bahasa Indonesia di sana. Bahkan anak-anak murid kelas 6 sekolah dasar di sana sudah mahir berbahasa Indonesia.

Jika ingin membaca lebih lengkap beritanya, klik di sini.

  • Bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua di Kota Ho Chi Minh.

Berita ini ditulis oleh www.kompas.com . Jumat, 12 Juni 2009

Ho Chi Minh adalah ibukota negara Vietnam. Menurut seorang diplomat Indonesia. Pada bulan Desember 2007 Pemerintah Daerah Kota Ho Chi Minh, Vietnam, secara resmi mengumumkan Bahasa Indonesia menjadi bahasa kedua di Kota Ho Chi Minh.Selain itu Konsul Jenderal RI di Ho Chi Minh City untuk periode 2007-2008, Irdamis Ahmad di Jakarta mengatakan, "Bahasa Indonesia sejajar dengan Bahasa Inggris, Prancis dan Jepang sebagai bahasa kedua yang diprioritaskan,"

Salah satu penyebab bahasa Indonesia begitu diminati oleh bangsa Vietnam antara lain karena kemungkinan meningkatnya hubungan bilateral antara Indonesia dengan Vietnam di masa depan.

Jika ingin membaca lebih lengkap beritanya, klik di sini.

  • Wikipedia bahasa Indonesia yang menduduki peringkat ke 26 di dunia.

Berita ini ditulis oleh http://www.antara.co.id. Selasa, 20 November 2007

Dikutip dari web tersebut: "Wikipedia Indonesia kini berada di peringkat 26 dari 250 Wikipedia berbahasa asing di dunia. Sedangkan di tingkat Asia kita berada di peringkat tiga, setelah Jepang dan Mandarin,"

Jika ingin membaca lebih lengkap beritanya, klik di sini.

  • Bahasa Indonesia bahasa ketiga yang paling banyak digunakan pada wordpress.

Artikel ini ditulis oleh http://amriltgobel.multiply.com pada 17 Januari 2009

Penulis blog ini adalah salah satu pengguna multiply yang pernah mengikuti acara Wordcamp Indonesia. acara ini sebelumnya pernah diselenggarakan di Filipina dan Thailand.

Dikutip dari blog tersebut, “fakta bahwa setelah Spanyol, Bahasa Indonesia adalah Bahasa yang menempati urutan ketiga yang paling banyak digunakan dalam posting-posting Wordpress. Indonesia pun adalah negara kedua terbesar di dunia yang pertumbuhannya paling cepat dalam penggunaan engine blog itu. Dalam 6 bulan terakhir tercatat 143.108 pengguna baru Wordpress dari Indonesia dan telah ada 117.601.633 kunjungan melalui 40 kota di Indonesia.”

Jika ingin membaca lebih lengkap beritanya, klik di sini.

Itu tadi beberapa fakta akan keberadaan bahasa Indonesia di Internet dan Dunia. Saya harap dengan bukti ini bangsa Indonesia menjadi lebih cinta dengan bahasa Indonesia.

Lantas, bagaimana dengan pernyataan saudara Bayu Sutrisno mengenai bahasa Indonesia adalah bahasa tersulit ke tiga di dunia? Untuk berita ini belum saya dapatkan kebenarannya, namun salah seorang peserta forum (http://suikoindo.9.forumer.com/a/language_post681-30.html) , animegic mengatakan bahwa menurut penelitian lembaga bahasa di dunia, dilihat dari segi gramatikal dan kompleksitivitasnya bahasa-bahasa yang dianggap sangat sulit di dunia adalah

  1. bahasa ibrani (bahasa kaum Yahudi)
  2. bahasa yunani
  3. bahasa latin
  4. bahasa jepang
  5. bahas korea

sementara bahasa indonesia secara mengejutkan menempati bahasa tersulit ke 15 di dunia, diakibatkan terlalu banyaknya partikel dan pengindahan tata aturan bahasa.

Namun sumber tersebut belum pasti karena hanya diungkap melalui forum, meski begitu terlepas dari benar tidaknya bahasa Indonesia sebagai bahasa tersulit kelimabelas atau pun bahasa tersulit ketiga di dunia, sebagai warga Negara Indonesia yang baik hendaknya kita junjung bahasa tersebut, kita lestarikan bahasa Indonesia meski ancaman kebudayaan asing semakin besar. Mari bersama penuhi sumpah pemuda. Semoga bahasa Indonesia semakin jaya. Amin.

Demikian sedikit informasi dari saya, jika ada tanggapan, kritik, saran atau usulan materi selanjutnya silahkan ditulis di kolom komentar di bawah ini, mohon maaf apabila ada kesalahan dan terima kasih. Satu lagi terima kasih kepada Bayu Sutrisno karena telah menginspirasi artikel ini.



Baca Selengkapnya atau Berkomentar...

Entri Populer